
Klek ....
Seorang wanita berusia 34 tahun, mencelingukkan kepalanya di depan pintu kelas 2-III, menatap ke dalam kelas dan mencari seseorang.
"Atha di mana?" tanya wanita itu, membuat sebagian murid yang berisik di dalam kelas, terdiam seketika dan memandangnya.
"Pergi ke kamar mandi, Bu. Ada apa?" tanya Tony, yang baru saja kembali dari koperasi, dengan membawa beberapa buku tulis baru.
Guru perempuan itu menoleh padanya, dan berkata, "Bisa minta dia menemuiku jika kembali? Ada yang harus aku beritahukan padanya."
Tony diam sejenak sebelum mengangguk mengerti. "Saya akan sampaikan jika dia kembali. Oh, itu anaknya, Bu!"
Tony menunjuk ke arah belakang, tepat saat Atha terlihat berjalan ke arah mereka dengan memainkan ponselnya.
Guru perempuan itu menoleh pada Atha dan menghampirinya. "Terima kasih, Ton. Kembalilah ke kelas!" ucapnya, sambil melangkah pergi.
Tony hanya menunduk dan segera masuk ke kelas. Sementara wali kelas cantiknya itu, pergi menemui Atha untuk menyampaikan berita duka.
"Atha, bisa bicara sebentar di ruangan Ibu? Ada yang harus kamu dengar, tapi tidak di sini tempatnya," ucap sang Wali Kelas, membuat menyita perhatian Atha.
Atha menatapnya bingung. Perasaan dia sedang tidak membuat onar, tapi kenapa wajah wali kelasnya sangat ketus? Apa jangan-jangan dia tersandung masalah teman-temannya lagi?
"Ada apa, Bu? Saya tidak membuat ulah, tuh?!" celetuk Atha, balik mendekat pada sang guru.
Keduanya bertemu di tengah-tengah, membuat Guru wanita itu menyeretnya pergi dengan cara sedikit memaksa, dengan menggandeng badboy dari kelasnya ini pergi.
"Siapa juga yang akan membahas masalah kenakalan kamu. Hari ini Ibu ada kabar buruk, kamu haru dengar! Tapi tidak di sini, karena mungkin kamu tak akan suka jika yang lainnya ikut mendengar.
Mendengar perkataan seperti itu, Atha hanya diam dan melepaskan tangannya dari Wali Kelasnya. "Oke, saya bisa jalan sendiri, Bu."
Setelah itu, keduanya pergi ke ruangan konseling untuk bicara empat mata.
"Kami pinjam sebentar, ya?!" ucap Wali Kelas Atha, pada guru BK yang memilih keluar meninggalkan mereka.
"Santai saja, Bu. Saya makan siang dulu, selamat bicara."
Atha menutup pintu dan duduk di hadapan Wali Kelasnya dengan tatapan bingung. "Berita apa yang harus saya dengar, sampai Ibu membawa saya sejauh ini dari kelas?" tanyanya, tampak penasaran.
"Hahhh, maaf. Tapi Ibu juga sangat kaget mendengarnya dari kantor kepolisian. Ini tentang adik perempuan kamu, Rinna. Dia di larikan ke rumah sakit setelah mengalami insiden buruk."
Deg ....
Atha membulatkan matanya, menatap wanita di depannya dengan tatapan terkejut.
Walaupun dia tidak senang mendengar berita itu, tapi dia lebih condong pada kekhawatiran. Ya, bagaimana pun, Rinna tetap adik perempuannya sekarang.
Atha mengusap rambut depannya ke belakang, memperlihatkan jidatnya sambil memamerkan wajah khawatir setengah tidak percaya.
"Padahal tadi pagi masih baik-baik saja. Bahkan saat kami berdua turun dari mobil, saya masih melihatnya masuk ke sekolah dengan teman lelaki dari panti asuhannya. Tapi kenapa dia sudah ada di rumah sakit?" Atha melihat jam tangannya dengan tatapan resah. "Dan lagi, ini masih pukul 10 pagi, Bu! Kenapa dia sudah tersandung masalah?" tanyanya, tampak frustrasi.
Atha mengambil kembali ponsel yang dia letakkan di atas meja. "Saya izin telepon sebentar, Bu!" ucapnya, segera berjalan pergi meninggalkan ruangan, bahkan sebelum Wali Kelasnya mengizinkan dirinya pergi.
***
Rinna membuka mata, setelah seharian mendapatkan infus dari rumah sakit, badannya yang terasa pegal terasa lebih ringan walaupun tetap menyakitkan untuk di buat bergerak.
"Kamu baik-baik saja?" tanya seorang lelaki, membuat Rinna menoleh padanya dengan cepat.
Rinna melihat Arta yang duduk di kursi rodanya dengan menatapnya, dari sisi kanan ranjang.
Wajah Arta terlihat sangat pucat, walaupun lelaki itu berusaha baik-baik saja di depan Rinna.
Rinna yang mendengar pertanyaan itu, entah kenapa menjadi sangat sensitif sampai membuat air matanya berlinang.
"Tentu aku tidak baik-baik saja, Kak! Kamu tidak lihat luka-luka ini? Aku sedang sakit, tahu!" pekik Rinna, mengeluhkan sakitnya.
Arta terkekeh geli dan meminta maaf atas pertanyaannya yang terdengar konyol. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kamu menangis, diamlah ...."
Arta mengusap air mata Rinna dan menepuk-nepuk punggung pelan, dan berkata, "Jangan takut. Aku ada di sini untuk kamu."
Rinna hanya mengangguk dan menangis lirih, tanpa suara. Sebelum akhirnya, pipi bagian kananya terasa dingin, seperti ada kaleng minuman dingin yang sengaja di tempelkan di sana agar dia terbangun.
Dan benar saja, Rinna yang tadinya merasa sudah bangun! Kini malah bangun kembali dan melihat wajah Atha dan teman-temannya, yang mengelilingi ranjangnya.
"Kenapa kamu mengigau saat tidur? Menangis dan menggelengkan kepalamu! Kebiasaan yang aneh," celetuk Atha, menghela napas panjang dan meletakkan kembali kaleng minuman dingin itu ke tempat semula.
Rinna menaikkan sebelah alisnya, menatap mereka dengan tatapan aneh, sebelum dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Tatapan Rinna berfokus pada Atha, setelah dia tak berhasil menemukan sosok yang dia cari, di dalam kamar tersebut.
Atha yang mendapati itu, hanya menaikkan sebelah alisnya, menatap sang adik dengan tatapan bertanya-tanya. "Kenapa? Ada yang kamu cari?" tanyanya, beranjak duduk di tepi ranjang sambil menatap Rinna.
Rinna menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya, meminta Atha mendekat agar dia bisa berbisik.
Atha melakukan permintaan gadis itu dengan gelagat canggung, mendekatkan telinganya pada mulut Rinna dan mendengarnya berbisik.
"Ke mana Kak Arta pergi? Beberapa saat yang lalu aku masih melihatnya di sini! Aku ingin mengucapkan terima kasih juga, karena dia sudah menolongku keluar dari masalah," ucap Rinna, dengan suara berbisik.
Lantai Atha yang mendengar itu langsung menjauhkan telinganya dati Rinna, menatap perempuan itu dengan kedua manik mata membesar.
"Kamu melihat Arta?" tanya Atha, setengah berbisik, walaupun dia sangat ingin berteriak.
Rinna menganggukkan kepalanya pelan, menatap sang Kakak dengan tatapan polos. "Memangnya kenapa? Aku tidak seharusnya melihat dia??" tanyanya, balik, dengan tatapan bingung.
Atha yang melihat respons itu, hanya bisa diam dan memandangi Rinna dengan tatapan aneh dan setengah terkejut.
"Apa jangan-jangan dia selalu melihat Arta?" Atha mengerutkan keningnya dalam, dan tersenyum dengan mimik mencurigakan. "Wah, padahal kasus seperti ini jarang terjadi! Tapi bagaimana bisa si tumbal ini, bisa dekat sekali denganmu, Arta? Apa jangan-jangan kamu tidak ingin dia yang pergi untukmu? Karena itu kau melindunginya," batinnya, tersenyum culas.