
Atha kembali ke kamar Rinna setelah memastikan Arta susah kembali stabil. Namun di depan kamar itu, seorang dokter yang merawat Rinna dan dua suster tampak kebingungan karena pasien mereka tak ada di tempat.
Atha berjalan mendekat, sampai di tengah-tengah ketiga orang itu, dia menatap mereka dengan tatapan bingung. "Ada apa, Dok?"
Dokter Byan menatapnya dengan tatapan resah. "Maaf, Tuan. Tapi pasien tidak ada di kamarnya. Apa Anda tahu ke mana dia pergi? Terakhir kali kami melihatnya keluar bersama Anda."
Deg!
Atha termenung, berusaha mengingat tempat terakhir dia melihat adik perempuannya, tapi dia tak mengingatnya sama sekali.
"Maaf, Dok. Sepertinya saya tidak tahu terakhir kali saya melihatnya. Karena dia tidak mengikuti saya sampai ke tempat tujuan kami. Dan tadi ada kendala yang membuat saya tidak bisa memperhatikannya dengan baik," ucap Atha, menjelaskan dengan sopan.
Kerutan di wajah Atha tak memudar, malah bertambah curam saat waktu berjalan tapi tak ada petunjuk jelas tentang keberadaan Rinna.
"Anda sudah melihat CCTV, kan?" tanya Atha, pada mereka bertiga.
"Sudah, Tuan. Terakhir kali kami melihatnya bersama Anda, lalu hilang setelah memasuki lorong ruang operasi, di sana tak ada CCTV, jadi kami tak tahu apa yang terjadi setelahnya," jelas sang Dokter, semakin bingung.
"Oh, itu–"
Seorang suster menunjuk ke arah ujung lorong, melihat Rinna yang berjalan dengan lemas sambil menyandarkan dirinya pada dinding lorong, untuk membantunya berjalan.
Tangan kiri gadis itu kembali berdarah, bahkan darahnya lebih banyak dari sebelum dia kecelakaan.
Infusnya juga sudah tidak ada di tempatnya. Yang jelas, dia seperti habis melarikan diri dari seseorang dan tak sengaja jatuh di perjalanannya.
Dokter dan suster itu langsung berlari ke arahnya, menyambut kedatangan Rinna dengan tatapan cemas.
"Anda baik-baik saja, Nona? Bagaimana Anda bisa terluka?!" teriak Dokter Byan, memeriksa luka di tangan Rinna dengan segera karena takut tulangnya patah atau sebagainya.
Karena darah yang keluar dari tangan Rinna tak wajah, derasnya. Para dokter yang ada di sekitar sana, sampai berlari mendekatinya dan melihat keadaannya.
"Di tangga–"
Hanya dua kata itu yang mampu di ucapkan Rinna di akhir kesadarannya. Setelah itu dia pingsan dalam dekapan para suster perempuan itu.
Atha, yang berstatus sebagai keluarganya, malah hanya diam di tempatnya dan menatap keributan di depan sana dengan tatapan diam.
Tak ada ekspresi yang terpancar dari mimik wajahnya. Baik sedih, cemas, atau bahagia.
Atha hanya menatap datar saat adiknya di gendong Dokter Byan dan di bawa masuk ke kamarnya dengan cepat.
"Siapkan ruangan rontgen, bawakan juga kasa dan kapas! Saya membutuhkan banyak!" teriak Dokter Byan, pada para suster.
Lalu setelah itu, kedua manik matanya tak sengaja bertaut dengan tatapan Atha yang masih setia berdiri di depan pintu, tanpa beranjak dari tempatnya dan mendekati pasien.
Dokter Byan hanya menghela napasnya kasar dan segera kembali fokus melihat Rinna yang berada dalam kondisi kritis.
"Tolong jangan lagi. Kali ini jangan lagi! Aku tidak ingin melihat kejadian seperti tahun-tahun yang lalu. Tolong bertahanlah, Nona. Anda harus bertahan dan melawan mereka!" ucap Dokter Byan, seakan tahu apa yang terjadi pada tubuh Rinna saat ini.
"Tuhan, selamatkan hambamu yang lemah ini! Untuk kali ini, tolong bertahanlah, Nona Rinna."
***
"Dia baik-baik saja?" tanya Ezra, menoleh pada Atha yang baru datang dengan membawa makan siang, untuk dirinya.
"Kata dokter dia sudah lebih stabil. Tapi tetap saja, kita harus selalu siap menerima konsekuensi terburuknya. Ayah tahu, kan?" ucap Atha, berjalan mendekat pada mereka.
Ezra mengangguk mengerti. "Bagaimana dengan Mama kamu? Dia akan ke sini?"
Atha hanya diam, sambil memalingkan wajahnya dari sang Ayah.
"Hah, dia pergi ke dukun wanita itu lagi? Kali ini untuk urusan yang sama?" tanya Ezra, lebih mengarah ke emosi yang ingin meledak saat itu juga.
Maya memang selalu pergi ke dukun wanita setiap tahunnya. Entah karena apa, tapi setelah dia melakukan itu, anak perempuan yang mereka bawa pulang selalu sakit-sakitan dan pergi meninggalkan mereka.
"Mama sudah melakukan itu tiap tahun, Ayah. Jangan terlalu di ambil hati. Semua hanya musibah dan Mama berusaha memperbaikinya dengan caranya sendiri," ucap Atha, menghela napas penat sambil melonggarkan dasi sekolahnya.
"Benar! Dia sudah melakukan itu selama 17 tahun! Dan 17 orang yang sudah dia korbankan untuk itu." Ezra mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku tak pernah menyukai caranya. Tak pernah suka!"
Atha meletakkan alat makannya, menatap sang Ayah dengan tatapan kesal. "Ayah lebih memilih orang asing dari pada anak sendiri? Yang benar saja. Ayah membuatku tak berselera makan!" celetuknya, berjalan pergi meninggalkan makan siangnya.
Ezra memejamkan matanya, menatap kepergian Atha dengan tatapan lelah. "Jika kamu marah karena pendapat Ayah, kamu sudah siap menerika konsekuensinya?"
Atha menoleh ke arah Ezra sejenak, menatapnya dengan tatapan tajam dan pergi begitu saja, tanpa menjawabnya lebih dulu.
Brak!
Atha keluar dari kamar Arta, berjalan pergi meninggalkan lorong kamar Kakak kembarnya dan pergi ke lantai bawah, hendak pergi meninggalkan rumah sakit.
Tapi saat di lobi dia melihat adik kelas mereka yang terduduk lemas dengan wajah panik melihat kondisi Rinna.
Gadis cantik itu hanya diam dengan tatapan kosong, seperti orang linglung walaupun teman-temannya mengajaknya berbicara tentang banyak hal dengannya.
Atha terdiam, mengingat gadis yang memiliki banyak ekspresi itu dengan tatapan dingin.
"Kenapa juga aku memikirkannya? Biasanya juga begitu, biarkan saja. Toh, sebentar lagi akan mati juga!" pekik Atha, hendak berjalan pergi meninggalkan lobi.
Tapi saat tatapan matanya bertemu dengan kedua mata Rinna, yang tak sengaja menoleh padanya! Atha langsung menahan langkahnya, menatap Rinna dengan tatapan ragu.
"Kenapa aku enggan?" batin Atha, menatap wajah Rinna yang tampak kosong sambil memandangnya dengan tatapan lurus.
"Kakak, kamu mau pergi ke mana?" tanya Rinna, mulai memutar roda kursinya dan menghampiri Atha yang membeku.
"Dia mengingatku?" batin Atha, merasa heran dan terkejut di saat bersama.
Rinna mengedipkan matanya polos, kedua manik matanya kembali bercahaya, dia kembali seperti orang hidup.
Pandangan kosong yang semuka mendominasi, kini sirna begitu Rinna sampai di depan Atha, menatapnya dengan saksama sambil memamerkan binar matanya yang cantik.
Deg ... deg ....
Atha mencekal dadanya, mengerutkan keningnya dalam saat merasakan debaran aneh melihat ekspresi Rinna saat ini.
"Dia hanya anak adopsi yang akan di jadikan tumbal oleh Mama! Tapi kamu malah memiliki perasaan seperti ini padanya? Kau menyukai gadis tumbal itu?" Atha menyugar rambutnya kasar, menatap Rinna yang mengulum senyum tipis dengan tatapan tak percaya. "Yang benar saja kau, Atha!" hardiknya, pada diri sendiri.