My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
29. Mata-mata



"Yang benar? Kalau begitu, siapa dalang di balik ini semua??" tanya Atha, berpikir keras.


***


Rinna menatap kakak lelakinya yang tampak berpikir keras, namun Rinna malah menunjukkan gelagat yang kurang puas dengan responsnya.


"Dia sudah ada jauh-jauh hari sebelum aku datang, kamu kira sejak kapan dia ada?" tanya Rinna, membuat teka-teki di kepala Atha semakin bermunculan. Maupun fakta atau hanya alibinya saja.


Atha masih terlalu sibuk untuk berpikir keras, sampai-sampai dia melupakan fakta tentang pelayan lelaki mereka yang masih ada di sana.


Rinna mengapa pelayan lelaki itu mengeluarkan kelakar yang cukup mencurigakan.


Dan itu mengundang perhatian Atha. Lelaki itu menatap ke mana adik perempuannya melihat, ikut melihat ke arah pelayan lelaki yang masih menundukkan kepalanya dalam, tapi memasang pendengarannya dengan baik.


Greb ....


Atha mencengkeram kuat kerah baju lelaki itu, membuatnya terkejut dan spontan menatap wajah Atha yang tampak marah.


"Apa yang kamu dengarkan? Kamu kira kamu berdua tidak tahu apa yang kamu lakukan walau sudah menundukkan kepala?" desis Atha, menatap tajam nan menusuk kedua manik mata yang tampak gentar itu.


Lain halnya dengan Rinna yang hanya diam dan memperhatikan keduanya dari samping. Seakan tidak ingin ikut campur dalam emosi tersebut, Rinna memilih berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Mau ke mana kau, Rin?! Kamu tidak membantuku menyelesaikan masalah? Kamu yang menemukan korbannya, kenapa malah menyerahkan tanggung jawab itu padaku?!! Hei!!!" teriak Atha, melepaskan kerah baju pelayan lelaki itu dan mengikuti langkah Rinna.


Rinna melirik ke belakang, menatap wajah pelayan lelaki yang tampak geram saat memandang sosok Atha yang pergi menjauh darinya.


Bahkan gelas yang dia genggam sudah pecah karena saking kencangnya dia mencengkeram gelas tersebut.


Rinna memutar bola matanya malas dan berjalan dengan langkah cepat, ingin segera meninggalkan lorong yang tembus dengan taman samping itu.


"Hei, kau akan panggil polisi? Lalu bagaimana aku harus menjelaskan kejadian ini? Itu taman pribadiku! Jika sampai terungkap ada pembunuhan di sana, kita juga akan kena batunya. Dan lagi, Ayah tak akan suka dengan cara ini, Rin!" ucap Atha, berusaha menghentikan langkah Rinna.


Tapi Rinna tak mendengarkan dan tetap menghubungi dua pihak berwajib untuk menangani masalah ini.


"Jika semakin lama kita sembunyikan, kita juga yang akan terkena batunya!" Rinna menatap wajah Atha yang ketakutan dengan tatapan dingin. "Jangan keras kepala dan ikuti saja keinginanku! Jika Ayah marah, aku yang akan menanggungnya. Kau tak perlu takut," ucap Rinna, seakan berjanji.


Atha tetap tak setuju. Dia mencekal pergelangan tangan Rinna yang tengah menghubungi polisi.


"Jangan, Rin! Mari kita diskusikan dengan Ayah dulu. Aku tidak ingin dia marah, dan kau juga tak tahu, kan? Bagaimana marahnya Ayah nanti?! Dia benar-benar lelaki buruk saat marah." Atha berusaha membujuknya, tapi Rinna masih bersi kukuh untuk melakukan tindakannya.


"Diamlah! Aku sudah bilang, aku akan melawannya jika perlu. Aku tak pernah takut dengan Ayah, dia bukan orang yang akan memukul perem–"


Perkataan Rinna terhenti. Dia mengingat sekilas tentang perawakan Maya yang sempat dia lihat, beberapa jam yang lalu.


Rinna menatap Atha yang terlihat gelisah. Dengan begitu, Atha sudah yakin jika adik perempuannya telah paham akan apa yang terjadi, jika dia membuat Ezra marah.


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apa pun pada Ayah. Tapi kita juga tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jika kita tidak mau punya dengan baik, para tetangga yang ada di sebelah rumah juga pasti akan menciumnya. Jadi kita harus menguburnya," ucap Rinna, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaket rajut yang dia kenakan.


Sementara Rinna berjalan pergi kembali ke tempat lubang itu berada. Dia melihat apa yang ada di dalam sana, dengan tatapan mengenaskan.


"Bahkan tubuhnya hampir hancur. Apa kita bisa mengukurnya dengan baik??" batin Rinna, bergumam sendiri di dalam hati.


"Aku akan membantumu. Jika kamu menginginkannya," celetuk seorang lelaki, yang entah sejak kapan, sudah bersandar di dekat pohon besar yang ada di belakang punggung Rinna.


Rinna tidak menoleh kepadanya. Tapi dia berkata, "Ya, tolong lakukan itu untukku!" ucapnya, seakan tahu siapa yang sedang berdiri di sana.


Mariel menyentilkan sebuah mantra dari ujung kukunya dan membuat tubuh mayat yang hampir hancur lebur di makan oleh belatung itu kembali utuh, walaupun tidak utuh seperti sedia kala. Setidaknya itu bisa membuat Rinna dan Atha semakin mudah memindahkan tubuhnya.


Tak lama setelah itu, Rinna mendengar suara langkah kaki dari arah belakang. Dia menoleh dan melihat Atha yang membawa dua cangkul.


Atha mencelingukkan kepalanya ke dalam lubang, melihat apa yang ada di sana dengan kedua matanya sendiri.


"Hahhh ... yang benar saja. Aku kira kamu hanya membual, tapi ternyata itu ada! Tapi jika sudah selama itu, kenapa tubuhnya tidak hancur di makan hewan tanah, ya? Apa dia baru saja mati???" gumam Atha, mulai berakseptasi.


Atha menggelengkan kepalanya dan menatap Rinna yang terus memandangnya dalam diam, dan membuat Atha ikut melakukan hal yang sama.


"Baiklah, maaf kalau aku banyak bicara. sekarang aku akan menggali tanah, tapi kamu bisa menggali tanah? Seharusnya bisa, karena kamu terlihat bukan seperti gadis yang manja. Bisa melakukannya, kan?" tanyanya, sambil menyodorkan salah satu cangkul yang dia bawa.


Rinna menerima alat itu dan mulai membantu Atha untuk menggali tanah. Ya, setidaknya dua orang membuat pekerjaan mereka menjadi lebih ringan. Jadi Rinna tidak keberatan untuk membantunya.


Saat kedua anak itu sedang mencangkul, tiba-tiba ada suara kamera yang terdengar dari dalam rumah dan membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.


Atha mengerutkan keningnya dalam, memicingkan matanya dan memperjelas penglihatannya. Melihat seorang karyawan lelaki yang memegang kamera untuk memotret mereka dari kejauhan.


Pelayan lelaki yang mengetahui mimik wajah Atha saat ini, langsung segera menyimpan ponselnya dan berlari keluar rumah, melarikan diri dengan membawa barang bukti tentang kejadian buruk yang selalu terjadi di dalam rumah tersebut.


Wush!


Angin berembus secara tiba-tiba, seakan ada sesuatu yang baru saja lewat di depan pelayan lelaki yang tengah melarikan diri itu.


Pelayan itu berhenti, melihat sosok lelaki dengan kedua bola mata merah dan pergelangan kaki yang tidak utuh.


Pelayan lelaki itu menelan ludahnya, berusaha untuk menenangkan dirinya dan tak menghiraukan pemandangan buruk di hadapan matanya.


"Aku harus kabur dari tempat ini! Jangan menghiraukan hal yang lain. Fokus saja, membawa barang bukti ini!" batin pelayan lelaki itu, semakin mempercepat langkahnya.


Tapi hantu lelaki dengan kaki yang tidak utuh itu, mengejarnya dengan cara merangkak di jalanan. Membuat pelayan lelaki itu gemetar ketakutan.


"Kenapa dia mengikutiku? Memang apa salahku??" batin pelayan lelaki itu, menoleh ke belakang dan menemukan sebuah mulut yang terbuka lebar dan ....


KRAUK!