My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
27. Hukuman



Pukul 09.00 malam hari ....


Sesuai perkataan Rinna kepada kedua kakak lelakinya tadi, dia kan pulang setelah pukul 09.00 malam. Dan kini dia sudah menempati janjinya, karena tepat pukul 09.00 malam dia sudah sampai di rumah dan memasuki rumahnya.


Baru menginjakkan satu langkah masuk ke dalam rumah, ekspresi wajah Rinna yang terlihat lelah karena telah menghabiskan banyak tenaganya untuk memahami isi buku di dalam perpustakaan kastel, kini harus berubah menjadi tegang saat melihat seorang wanita berdiri dengan kedua kaki dirantai, di atas tangga yang menuju lantai tiga.


Rinna menatap wanita berambut panjang sepunggung, dengan mengenakan dress putih polos yang terlihat lusuh karena bercak makanan ataupun darahnya.


Wanita itu hanya diam di tempatnya, menatap kehadiran Rinna dengan tatapan kosong seakan-akan mengatakan dia ingin mati.


Rinna mengerutkan keningnya dalam, perlahan-lahan dia mendekati wanita itu dengan cara menaiki anak tangga.


Sampai di lantai dua, kedua kaki kecilnya berhenti dan memandang lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih lekat dan intens dari yang sebelumnya.


Rinna kembali memperhatikan wanita itu. Melihat dengan benar sambil menyipitkan kedua matanya, agar dia bisa melihat jelas wajah wanita yang setengahnya, tertutup oleh rambut panjangnya.


"Siapa?" tanya Rinna, berjalan mendekati wanita itu kembali, tanpa mengurangi rasa waspadanya.


Sebenarnya, dia sudah tidak takut lagi dengan hantu. Tapi karena awalnya Rinna takut, jadi dia harus tetap berpura-pura untuk merasa takut saat melihat para makhluk halus, terutama dia ada di dunia manusia.


Karena itulah sekarang Rinna sedang berakting ketakutan, walaupun sebenarnya di dalam hati dia tampak tenang.


"Rinna, tolong lepaskan aku."


Wanita itu berbicara, dan suaranya sangat mirip dengan Mamanya, Maya. Yang sudah tidak dia lihat selama dua hari terakhir, sejak dia tinggal di rumah ini.


Rinna mengerutkan keningnya dalam, dia mendekati wanita itu tanpa keraguan dan memandang wajahnya.


Benar saja, itu adalah Maya. Dan entah kenapa dia berakhir naas seperti ini. Terlebih lagi, Maya terlihat seperti habis disiksa secara terus-menerus sepanjang hari.


"Ma, kok mama kayak gini? Siapa yang melakukan ini sama Mama?" tanya Rinna, menunjukkan tatapan tak tega padahal di hatinya sangat senang.


Ya, Rinna benar-benar merasa senang melihat Maya yang seperti ini. Siapa yang tidak pernah? Dia yang dibawa sebagai tumbal tukarnya untuk anak pertama keluarga ini, sekarang malah melihat pelaku keji yang ingin mencelakai dirinya, mendapatkan nasib naas seperti sekarang?


Mungkin karena mental Rinna saja yang tidak waras, karena itu dia terlihat sangat bahagia melihat Ibu Tirinya tersiksa seperti ini. Pada jika manusia normal, mungkin mereka akan tetap memiliki simpati dan benar-benar kasihan jika melihat musuh kita dalam kesulitan sekalipun.


Maya segera menggenggam kedua tangan Rinna, berlutut di hadapan gadis itu sambil menangis tersedu-sedu.


Wajah wanita berusia 39 tahun itu terlihat sangat putus asa. Terlebih saat dia memohon kepada Rinna untuk memaafkannya dan meminta Ezra untuk mengampuninya dan melepaskannya dari jeratan ini.


Rinna ikut menangis, walaupun itu air mata palsu. Tapi bagi lawan bicaranya, itu terlihat seperti titik terang untuknya.


"Kamu akan membantu Mamamu ini, kan?" tanya Maya, melebarkan kedua bola matanya, menatap Rinna dengan tatapan penuh harap sambil terus menggenggam kedua tangannya erat-erat.


"Maaf, Ma. Aku tidak berani ikut campur urusan Ayah. Dia masih menjadi satu-satunya orang yang paling aku takuti di keluarga ini. Bahkan aku belum sering berbicara dengannya. Bagaimana bisa Mama meminta aku untuk melakukan hal itu? Bagaimana jika aku dikurung seperti, Mama juga? Aku tidak mau melakukannya, Ma. Maafkan aku, aku takut!"


Setelah mengatakan itu sambil menangis dengan histeris, dan membuat para kakak dan Ezra keluar dari kamarnya masing-masing, Rinna segera melepaskan kedua tangan Maya dari tangannya dan melarikan diri.


Tapi karena sebelah tangan Maya yang tidak sengaja mencekal pergelangan kaki Rinna, tiba-tiba tubuh Rinna terjatuh dan menggelinding sepanjang lantai 3 ke arah lantai 2.


Atha yang pertama kali melihat kejadian tersebut, langsung berlari cepat ke arah Rinna dan berusaha menangkap tubuh adik perempuannya di tengah-tengah tangga. Walaupun jadinya, dia mengorbankan tubuhnya sendiri untuk menghentikan tubuh sang adik.


Alhasil kedua tubuh remaja itu tergeletak di tengah-tengah tanggal sambil berpelukan.


"Atha!!! Kau baik-baik saja?!" teriak Arta, begitu melihat kedua adiknya berhenti di tengah-tengah tangga dengan ekspresi wajah yang buruk.


Atha menganggukkan kepalanya dan menatap wajah Rinna yang lagi-lagi dipenuhi oleh luka. Padahal baru dua hari dia sembuh, tapi sekarang Rinna sudah mendapatkan luka lagi.


Atha merasa sangat marah. Tapi ketika dia berbalik, menoleh ke arah Maya, dan melihat keadaan wanita itu. Dia sama sekali tidak bisa berkutik dan hanya bisa terdiam di tempatnya.


Walaupun marah sekali pun, rasa sayang Atha yang begitu besar kepada sang ibu, akhirnya menghentikannya untuk melakukan hal yang bisa memperburuk mental wanita itu.


Terlebih lagi, tidak lama setelah Ezra keluar kamar dan ada satu sosok lelaki besar berbadan hitam, Atha yang entah kenapa bisa melihatmu makhluk mengerikan itu. Langsung menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Maya, seakan tidak ingin ikut campur tentang masalah kedua orang tuanya.


Makhluk besar berbadan hitam, dengan taring yang panjang melebihi bibirnya itu, berjalan naik ke lantai 3 dan menyeret masuk Maya, kembali ke dalam kamar terkutuk itu dan menguncinya dari dalam.


Tak lama setelahnya, suara teriakan Maya terdengar sangat nyaring sampai membuat telinga mereka terasa pengang.


Tapi anehnya, tidak satu pun orang di antara mereka yang menggubris teriakan Maya. Karena mereka terlihat seperti tidak mendengar apa-apa, dan memilih untuk tak acuh dengan keadaan rumah mereka yang tiba-tiba menjadi semakin suram semenjak suara teriakan Maya terdengar beberapa sakti yang lalu.


"Rin? Kamu baik-baik saja? Lihat wajahmu, pergelangan kakimu juga! Pergelangan kakimu terkilir??" tanya Arta, membuat perhatian Rinna dan Atha sekaligus berpindah padanya.


Rinna mengulas senyuman masam dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tentu saja sakit, Kak. Aku baru saja jatuh dari satu lantai. Pasti rasanya sakit, kan?" celetuk Rinna, dengan suara lirih.


Arta menghela napas game melihat kedua adiknya yang terluka cukup parah dengan tatapan lelah. "Hahhh ... sebenarnya kenapa keluarga kita jadi seperti ini? Apa perlu aku bersihkan semuanya? Agar tidak ada lagi yang terluka?!" cicitnya, merasa bersalah dan tertekan.