My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
28. Korban Baru



"Hari ini dia sakit lagi?!" pekik Ningsih, menatap ekspresi wajah Arta yang hanya bisa mengelas senyuman masam saat melihat betapa terkejutnya Ningsih mengetahui sahabatnya tidak masuk lagi.


"Em, ya ... ada beberapa kejadian buruk di rumah. Jadi dia dan Atha tidak masuk hari ini. Maaf, mungkin kamu mengira kalau sejak Rinna masuk ke dalam keluarga kami, dia sering terluka. Maaf," cicit Arta, sambil menundukkan kepalanya sejenak.


Ningsih menghela napas panjang, menatap wajah Arta yang tampak bersalah karena hal tersebut.


"Sudahlah, dia tidak mungkin hanya sakit saja. Bisakah aku dan yang lainnya menjenguknya? Aku akan ke sana setelah berdiskusi dengan teman-temanku. Kami sedang menjalankan tugas kelompok, dan dua hari lagi tenggatnya. Karena dia tidak bisa datang ke sekolah, jadi bisakah kami yang datang ke sana??" tanya Ningsih, mengusulkan sebuah alternatif untuk kerja kelompok mereka.


"Baiklah. Kalau kalian bisa, bagaimana kalau setelah pulang sekolah? Jika kalian tidak masalah, aku akan langsung memberi kalian tumpangan. Kita bisa pergi bersama-sama," seru Arta, memberikan saran.


"Tidak masalah. Kami akan menunggu kakak di depan gerbang. Terima kasih sudah bisa diajak kerja sama. Aku akan menghubungi Rinna terlebih dahulu agar dia tidak terkejut jika kami datang tiba-tiba," ucap Ningsih, sambil berjalan pergi dan melambaikan tangan kepada Arta.


Arta tidak membalas lambaian tangan itu, dia hanya tersenyum singkat dan ikut pergi meninggalkan lorong tersebut.


Sementara kedua orang remaja yang tinggal di rumah ....


Atha membawa dua cangkir jus jeruk yang baru saja dia buat di dapur. Dia pergi menemui adik perempuannya, yang sedang bersantai di dekat kolam renang.


"Mau ke mana, Tuan? Mau saya bawakan saja??" tanya orang pelayan, saat melihat Atha sedikit kesulitan untuk membawa 2 gelas jus mangga, saat tangannya sedang sakit.


"Tidak usah, aku hanya akan pergi ke taman samping. Rinna ada di sana, kan?" tanya Atha, memastikan terlebih dahulu.


Karena dia melihat Rinna ada di sana sudah dari satu jam yang lalu. Dia takut, gadis itu sudah pergi dan membuat perjalanannya sia-sia.


"Nona Muda ada di dekat lubang pupuk kompos Anda, Tuan. Tiada di taman samping sebelah kiri," jelas pelayan lelaki itu, kepadanya. "Dan karena tempatnya perlawanan arah dari sini, bisakah saya membantu Anda untuk membawa dua gelas itu? Saya takut, kedua tangan Anda semakin sakit jika terlalu dipaksakan untuk membawa sesuatu yang berat," ucapnya, masih dengan nada sopan.


Akhirnya Atha mengizinkan lelaki itu untuk membawakan minumannya. Dia menyerahkan dua benda itu kepadanya, dan membiarkan pelayan tersebut mengikutinya.


"Tuan, bolehkah saya tanya sesuatu?" tanya pelayan lelaki itu, menyita sebagian perhatian Atha yang sibuk mencari keberadaan Rinna di sekitar taman bagian kiri rumahnya.


"Ya, katakan saja. Kenapa? Teman-temanmu tidak bisa menjawab pertanyaanmu? Mangkanya kamu sampai bertanya langsung padaku?" celetuk Atha, benar-benar peka jika tentang hal seperti ini.


"Hahaha ... saya ketahuan, ya? Maafkan saya, Tuan. Mungkin mereka tidak bisa menjawab pertanyaan saya, karena pertanyaan saya terlalu privasi untuk kehidupan majikan mereka. Jadi saya ingin menanyakan langsung kepada anda," ucap pelayan lelaki itu, dengan gelagat yang tampak sungkan.


Atha mengangguk mengerti dan menoleh ke arahnya sejenak. "Katakanlah. Aku akan menjawab apa pun pertanyaanmu."


"Terima kasih, Tuan. Hal yang ingin saya tanyakan adalah, mengenai Nyonya Maya. Saya sering mendengar beliau berteriak setengah malam. Apa akan baik-baik saja jika dibiarkan seperti itu terus? Saya takut tiba-tiba dia loncat dari jendela lantai 3. Bagaimanapun juga, jika ada berita tentang kematian Nyonya tersebar ke media massa, itu akan mempengaruhi citra keluarga dan perusahaan Anda. Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya pelayan lelaki itu, tampak mencemaskan keadaan mereka. Tanpa memiliki maksud buruk.


"Aku kira kamu ingin menyampaikan apa. Ternyata hal yang memang privasi majikan kamu! Bukankah saat tanda tangan kontrak kerja dengan kami, kamu sudah membaca semua isinya dengan baik?" tanya Atha, tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya yang tadi hanya dingin, sekarang malah menjadi dingin dan menusuk.


Glek ....


Pelayan lelaki itu menunjukkan kepalanya dalam. Tidak berani melihat apa yang diekspresikan oleh Atha, dan juga tidak berani pula untuk menjawab pertanyaan itu.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya hanya penasaran. Karena itu saya bertanya. Maaf jika saya membuat Anda tersinggung. Saya benar-benar tidak bermaksud," ucap pelayan lelaki itu, dengan suara gemetar.


Atha menyugar rambutnya kasar ke arah belakang, masih menatap pelayan lelaki yang ada di depannya dengan tatapan marah, sampai membuat Rinna yang mendengar keributan itu datang menemui mereka.


"Ribut sekali, aku kira siapa yang bertengkar. Ternyata masih kamu, Kak! Sakit pun kamu tetap berisik, ya?!" pekik gadis berusia 16 tahun, sambil berjalan mendekati kedua lelaki itu, dengan tatapan mengejek yang ditunjukkan pada kakak lelakinya.


"Diam kau, Rin! Jangan ikut campur. Aku sedang memarahinya, karena dia terlalu ikut campur urusan keluarga kita. Kamu tidak marah jika dia sampai mencemaskan keluarga atasannya? Padahal dia sendiri tidak bisa merawat keluarganya. Tapi dia malah memperbolehkan hal yang tidak penting!" celetuk Atha, terlihat sangat tidak menyukai kehadiran Rinna.


Rinna menggidikkan bahunya tak acuh, mengambil salah satu gelas yang ada di genggaman pelayan lelaki itu, dan menegaknya sampai tandas setengahnya.


Atha baru menyadarinya. Menyadari ekspresi wajah Rinna yang terlihat tegang, entah karena apa.


"Kenapa kamu sangat berkeringat? Kamu habis lari-lari? Dengan kaki yang bahkan belum sembuh??" tanya Atha, dengan nada dan tatapan yang tidak bersahabat.


Rinna mendenguskan napasnya kasar. "Aku baru saja mengecek lubang pupuk kompos itu! Kenyang aku katakan padamu dulu, ternyata memang benar. Kamu masih ingat, kan?" 


Rinna menatap wajah Atha yang tampak kebingungan beberapa saat. Namun setelah itu, wajah Atha langsung berubah. Dia menunjukkan ekspresi terkejut sampai tidak bisa merespons dengan baik.


"Kak?! Bukan saatnya kamu melamun, sebaiknya kamu panggil polisi dan ambulance untuk membawanya. Aku paham kenapa dia tidak mengeluarkan bau sama sekali. Ternyata di sekitarnya ada beberapa bungkus kopi dan kapur barus yang sengaja dituang untuk menyamarkan baunya. Kamu pasti juga menciumnya, kan? Aroma kopi dan kapur barus dari pupuk komposmu!" celetuk Rinna, tampak begitu yakin.


Glek ....


Lagi-lagi Atha harus terlibat hal merepotkan seperti ini. Padahal, selama satu bulan terakhir dia sering melihat orang yang kehilangan nyawanya di depan mata.


Tapi setelah dia merasa semuanya akan baik-baik saja, kejadian itu malah kembali terulang. Dan kini malah terjadi di rumahnya?


Sebenarnya, hal gila macam apa yang terjadi di sekelilingnya? Ya, diakui kalau dirinya memang sadis dan suka menyiksa seseorang. Tapi tidak dengan menghilangkan nyawa mereka!


"Yang benar? Kalau begitu, siapa dalang di balik ini semua??" tanya Atha, berpikir keras.