
"Kak, Kak Arta!" panggil Ningsih, berusaha mengejar langkah Arta yang cukup cepat karena kakinya yang jenjang. "Ah ... kenapa dia berjalan begitu cepat dan tidak mendengar suaraku yang sudah keras ini?! Ganteng-ganteng kok congek!" pekiknya, berlari semakin cepat dan menghentikan Arta, dengan menghadang jalan lelaki itu.
Arta yang membawa banyak buku laporan, tiba-tiba harus mengerem langkahnya saat melihat Ningsih menikung langkahnya dan berdiri di depannya dengan kedua tangan yang sudah membentang lebar.
"Aduh, sebenarnya kenapa dari tadi kamu mencariku? Aku juga mendengarnya, tapi aku tidak ingin berhenti saja," pekik Arta, menjelaskan tanpa menatap lawan bicaranya.
Ningsih mendenguskan napas kasar, menatap lelaki di depannya dengan tatapan kesal. "Huh, aku hanya ingin bertanya kenapa Rinna tidak masuk tiga hari ini? Apa yang membuatnya sakit?!" celetuknya, sambil mengurutkan keningnya dalam.
Arta melirik ke arah wanita itu dengan tatapan bingung dan gelisah. "Bolehkah aku menceritakan ini?" batinya, bimbang sendiri.
"Kak! Kamu tidak ingin mengatakannya padaku? Kalau begitu, aku tidak akan bisa memberikan solusi padamu. Aku sudah mengenalnya jauh lebih dulu dari kamu ataupun keluargamu. Aku lebih tahu apa yang dibutuhkan saat dia merasa sakit. Jadi bisakah kamu pergi tahu aku, apa yang membuatnya merasa sakit saat ini?" tanya Ningsih, dengan tatapan memohon, seakan merasa frustrasi dengan ini.
Arta menatap sekeliling mereka yang cukup ramai, banyak murid yang berlalu lalang dan tidak mungkin dia membahas masalah serius, apalagi yang berkaitan dengan keluarganya, di tempat keramaian ini, kan?
"Hahhh, baiklah. Ayo ikut aku ke ruang OSIS. Aku akan katakan apa yang membuatnya tidak masuk hangat lama," ucap Arta, setelah memutuskan.
Ningsih yang mendengar jawaban itu langsung merasa puas, dia tersenyum dengan cukup lebar sambil menganggukkan kepalanya. "Iya! Tapi tidak bisa sekarang. Bisakah kakak menungguku 10 menit lagi? Aku harus kembalikan buku ini ke perpustakaan dulu," jelasnya, sambil melangkah pergi meninggalkan lelaki itu.
Arta menghela napas panjang dan kembali menatap ke arah depan. Saat itulah dia melihat seorang wanita berdiri di ujung lorong, dengan mengenakan gaun putih dan wajah yang terlihat cantik berseri.
Rambut panjang sebahu menutupi bagian depan dadanya, wanita itu tersenyum manis, membuat pandangan Arta tidak bisa berpaling darinya.
Bukan karena terpukau dengan keindahan wajahnya, melainkan karena terkejut melihat wajah adik perempuannya di sana.
"Rinna, apa yang kamu lakukan di sana?!" batin Arta, berjalan cepat meninggalkan posisinya dan mendekati wanita di ujung lorong.
Tapi saat Arta dan wanita itu terpaut 5 langkah, tiba-tiba tubuh Rinna menghilang perlahan-lahan seakan menjadi abu yang tertib oleh angin.
Deg ... deg ... deg ....
Saat itu lah jantung Arta berdebar begitu kuat, sampai membuatnya tidak bisa menahan kedua kakinya yang terasa lemas.
Sruk!
Arta terduduk di lantai, membuat beberapa teman yang mengenal siapa Arta, segera mendekatinya dan membantu lelaki itu berdiri.
"Hei, kamu kenapa, Ar? Kamu nggak papa? Wajahmu terlihat pucat," ucap salah seorang teman lelaki, sambil menatap Arta yang terlihat syok tanpa bisa mengatakan apapun pada mereka.
Arta hanya diam dengan tatapan kosong, kedua bola matanya yang membesar, membuat teman-temannya merasa cemas.
"Apa sebaiknya kita buah ke ruang kesehatan saja? Sepertinya Arta tidak dalam keadaan baik," ucap teman yang lain, mengusulkan.
Lantas setelah itu, teman-teman Arta membantunya ke ruang kesehatan dan membiarkannya beristirahat di tempat itu.
"Ini sudah hari kelima, tapi kenapa Rinna tidak kunjung bangun, Queen? Apa dia benar-benar bisa selamat setelah mendapatkan serangan seperti itu?" tanya seorang lelaki muda yang mengenakan jubah kebesaran sebagai putra mahkota, sambil duduk di tepi ranjang tidur adik perempuannya.
Wanita cantik bersurai merah, dengan kedua manik mata yang senada dengan warna rambutnya, hanya diam dan memperhatikan putri bungsunya dalam diam.
Klek ....
Orang lelaki yang memiliki peralatan gagah dan tegas, memasuki ruangan itu dan langsung menuju ke ranjang putrinya.
"Bagaimana keadaannya saat ini? Dokter kita mengatakan hal yang buruk?" tanya Malazi, raja dunia bawah yang terkenal bengis dan sadis.
Dia adalah salah satu setan yang paling terkenal di dunia manusia. Dia dikenal sebagai Raja Tumbal, karena dalam satu tugas dia akan meminta banyak imbalan dari para manusia yang menggunakan jasanya.
"Tidak ada kabar buruk. Hanya saja, dia tak kunjung bangun. Apa dia sudah mati? Hem, untuk keturunan kerajaan dia seharusnya tidak memiliki tubuh yang lemah. Tidak mungkin anak yang lahir dari ritualku akan menjadi anak selemah ini, kan?" ucap wanita bergaun merah bermodel mermaid itu.
"Tidak. Aku masih merasakan hawa keberadaannya, Queen. Dia belum mati, mungkin hanya bertarung dengan sosok yang tidak mengizinkannya bangun! Kita tunggu sampai satu minggu, jika dia tidak bangun juga saat itu, aku akan mengadakan ritual kebangkitan untuknya," ucap Mariel, putra mahkota dan kakak lelaki dari Rinna. Seorang makhluk yang memiliki kekuatan kegelapan yang sangat mengerikan.
Sosok yang sering keluar masuk tubuh Rinna adalah sosok lelaki ini. Orang yang menjaganya dan orang yang selalu mengawasi pergerakan Rinna selama dia ada di dunia manusia.
"Terserah padamu, Prince. Aku tidak akan ikut campur. Toh, aku sudah menciptakan makhluk sepertinya untuk melakukan eksperimen. Tapi jika dia tidak bisa bertahan dari serangan iblis lain, aku akan menganggapnya sebagai produk gagal dan menghancurkannya dengan tanganku sendiri!” celetuk Daniela, wanita yang dari sia di disebut dengan "Queen" oleh Mariel.
Setelah kepergian Daniela dan hanya menyisakan dua orang di dalam ruangan itu, perlahan-lahan Rinna membuka matanya dan melihat kedua lelaki yang berdiri di depannya dengan tatapan aneh.
"Siapa kalian berdua? Aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya. Dan ada di mana ini?" tanya Rinna, bangkit dari tempat tidurnya dan berusaha untuk duduk secara mandiri, di atas ranjangnya.
"Kami?" Mariel menunjuk dirinya dan ayahnya, Malazi. "Kami keluargamu. Kamu tidak tahu atau kamu tidak mengingat kami karena sudah terlalu lama tidak bertemu??"
Rinna mengurutkan keningnya dalam dan melihat Malazi mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah kening Rinna sambil merapatkan sebuah mantra.
Mungkin karena efek mantra tersebut, beberapa kilas ingatan tentang masa kecil Rinna yang benar-benar terasa asing untuknya, melintas begitu saja seakan berputar seperti sebuah film.
Rinna mengerutkan keningnya dalam, kepalanya terasa semakin sakit dan nyaris terasa seperti akan pecah.
Mungkin karena ingatan yang berputar di kepalanya terasa seperti dipaksakan oleh Malazi, Rinna sampai harus mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya, karena menahan rasa sakit itu.
Tapi Malazi tidak menghentikan kekuatannya, dan terus membantu Rinna untuk mengingat segalanya tentang keluarga mereka dulu.
Brukk!
Rinna tersungkur ke samping dengan kedua mata yang masih terbuka, kesadaran yang masih ada. Tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa.
Hanya kalimat mengerikan yang keluar dari mulutnya setelah mengingat semuanya, dan kalimat itu adalah, "Ah, ternyata kita yang membuat lelaki itu menerima kutukan?! Pantas saja, aku seperti tidak asing saat pertama kali bertemu Arta. Ternyata karena akulah yang menanam kutukan di dalam tubuhnya!"