My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
8. Challenge



Tok ... tok ....


Maya mendongak, menatap ke arah pintu masuk kamarnya dengan tatapan menanti. "Ya, siapa?" tanyanya, beranjak turun dari kasurnya dan pergi ke arah pintu.


"Boleh masuk?" tanya Atha, menatap sang ibu yang tengah mengenakan pakaian tidur sambil membawa buku novel kesukaannya.


Maya mengangguk kecil dan membiarkan putra keduanya masuk ke kamarnya. Kamar pribadi miliknya, yang ditempati sendiri tanpa pernah membiarkan sang suami menginjakkan kaki di dalamnya.


"Ada apa?" tanya Maya, berjalan mengikuti langkah Atha yang pergi ke tengah-tengah ruangan, mendekati sebuah sofa panjang yang tersedia di sana.


"Mama tidak membelikan ponsel untuk Rinna? Mama lupa atau sengaja? Sepertinya kalian berdua sudah membelikan keperluan sekolah Rinna, dan kebutuhan rumahnya. Tapi kenapa tidak memberikannya ponsel? Mama sengaja melakukan itu?" tanya Atha, menatap Maya dengan pandangan penuh selidik.


Maya merasa dirinya di fitnah, langsung melemparkan novel tebal itu gak atas meja dan membuat bunyi keras karenanya.


Brak!


"Kamu kira Mama sengaja tidak memberikannya? Mama kira dia sudah memilikinya, karena itu Mama tidak memberikannya. Tapi jika kamu sudah beranggapan seperti ini, Mama rasa dia tidak memiliki ponsel. Benar begitu?" tanya Maya, tenang setelah marah sejenak.


Atha menghilang napas panjang beberapa kali dan menganggukkan kepalanya.


"Oke, Mama akan minta sekretaris Mama untuk membelikan dia ponsel. Jadi jangan beranggapan buruk pada Mama atau Ayah. Kami berdua hanya lupa, karena berpikir dia sudah memiliki benda itu dari pantai asuhan!" jelas Maya, sambil menyugar rambutnya kasar.


Atha mengangguk mengerti dan bangkit dari tempatnya, berjalan ke arah pintu dan menahan langkahnya. "Maaf sudah berburuk sangka. Aku bersikap seperti itu karena Mama selalu memperlakukan dia dengan seenaknya. Maaf jika aku salah," ucapnya, sebelum pergi.


Klap ....


Pintu di tutup, Maya melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap ke arah depan dengan tatapan tajam.


"Aku benci orang peka," gumamnya, sinis.


Keesokan paginya ....


Maya berjalan keluar dari kamarnya dan mendekati kamar Rinna, tanpa mengetik di langsung masuk ke dalam kamar anak perempuannya.


Seorang wanita tanpa kepala berdiri di dekat jendela, membelakangi dirinya dengan aura gelap yang membuat kamar tersebut terasa dingin.


"Rin, kamu di dalam?" seru Maya, kembali melangkah mundur dan tetap berdiri di depan pintu, yang telah dia buka cukup lebar.


Hening, tidak ada orang yang menyahuti perkataannya. Begitu pula dengan keberadaan Rinna yang tidak ditemukan di dalam kamar itu.


"Ke mana gadis itu pergi?" gumam Maya, segera keluar dari kamar itu dan melangkah turun ke lantai 1.


Sesekali Maya menoleh ke belakang, melirik kamar Rinna yang memiliki hawa paling kelam di dalam rumah ini.


"Dulu memang aku yang menjadikan mari itu sebagai tempat persembahan. Tapi kenapa sekarang lebih banyak dan jauh lebih seram dari dulu? Apa karena Rinna orang yang jorok? Jadi para penghuni di kamar itu marah padanya?" batin Maya, tidak melihat jalan dengan benar sampai akhirnya dia hampir terjatuh dan berguling di tangga.


Greb ....


"Mama tidak papa?" tanya Rinna, membantu Maya menahan tubuh agar tidak sampai terjatuh.


Maya yang melihat kehadiran gadis itu dari arah belakang, langsung menatapnya dengan tatapan takut.


Beberapa pelayan dan keluarga mereka, yang ada di dekat sana ataupun mereka yang ada di ruang makan, langsung menoleh ke arah sumber suara.


"E-eh? Dari tadi Rinna di kamar kok. Rinna tadi masih mandi, Ma. Memangnya Mama cari Rinna di mana? Dari tadi aku tidak dengar suara pintu dibuka tuh," celetuk Rinna, terlihat polos dan seperti tidak sedang berbohong.


Maya mengusap wajahnya kasar. "Padahal jelas-jelas aku sudah masuk ke kamarmu dan lihat sampai ke dalam kamar mandi! Tapi kamu tidak ada di sana, kau kamu ada di sana tidak mungkin aku keluar ke sini dengan membawa benda ini balik, kan?!" lantangnya, masih dengan ekspresi marah.


Rinna yang mendengar itu hanya bisa menentukan kepalanya dalam, meminta maaf akar masalah di antara mereka segera terselesaikan.


"Hahhh ... sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Ini, aku belikan kamu ponsel. Kamu bisa menggunakannya, kan?" tanya Maya, memberikan pepper bag kecil kepada Rinna.


Rinna menatapnya dengan penuh semangat, berterima kasih pada sang ibu dengan memeluknya erat.


Maya yang mendapat respons berlebihan seperti itu, tidak sengaja langsung mendorong Rinna ke belakang sampai gadis itu tergelincir dan jatuh duduk dengan suara yang keras.


Brak!


Atha dan Ezra yang sama-sama melihat kejadian itu langsung bangkit dari tempatnya, meninggalkan ruang makan dan menghampiri kedua orang wanita yang berdiri di tengah-tengah tangga.


"Maya, sebenarnya apa yang kamu lakukan pada anaknya? Kasar sekali kamu!" marah Ezra, melihat Atha membantu Rinna berdiri.


Maya yang mendengar amarah suaminya, hanya bisa menundukkan kepalanya dalam dan meminta maaf kepadanya.


"M-maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku kaget kera dia tiba-tiba memelukku. Sungguh, aku tidak berniat mendorongnya. Mu-mungkin dia saja yang terlalu lemah. Didorong sedikit saja langsung jatuh!" celetuk Maya, kembali menunjukkan sikap angkuhnya.


Ezra memejamkan matanya, mengusap rambutnya kasar dan memilih menghampiri Rinna yang terlihat kesakitan.


"Kamu tidak apa, Nak?" tanya Ezra, terlihat benar-benar cemas.


"Iya, Ayah. Aku baik-baik saja kok. Tidak pernah khawatir, hanya sedikit. Sungguh," ucap Rinna, membuat alibi.


Ezra mengangguk sambil menghela napas lelah, dan meminta Atha untuk memapah Rinna turun ke lantai satu agar mereka bisa sarapan bersama.


Ata memperhatikan Rinna yang turun dengan hati-hati, di sampingnya, dengan menggenggam lengannya. "Kau yakin baik-baik saja? Kemarin tanganmu yang terluka, sekarang tulang ekormu yang terancam. Kenapa kamu sering membuat tubuhmu merasa sakit? Jika kamu tidak bisa menjaganya, lebih baik aku yang menjaganya."


Atha membuat Rinna meliriknya dengan tajam dan terkejut. "Apa maksudmu, Kak?" tanya Rinna, mendesis tidak senang.


"Tentu saja setalah aku memilikinya. Bagaimana? Kamu mau memiliki hubungan terlarang denganku? Ah, tidak juga bisa disebut hubungan terlarang, karena kita bukan kakak dan adik kandung. Iya, kan?" lanjut Atha, dengan tatapan menggoda.


Bast!


Rinna melepaskan tangannya dengan kasar dari lengan lelaki itu. Dia menatap Atha dengan tatapan jijik.


"Jika kamu terus bersikap seperti itu. Tidak ada pilihan lain untukku, untuk tidak menghindarimu!" tajam Rinna, terlihat serius saat mengatakannya.


Namun Atha malah menggidikkan bahu tidak acuh sambil berjalan menuruni sisa anak tangga dengan tenang.


"Coba saja jika kamu bisa lari dariku! Aku akan memberikanmu kesempatan untuk mencobanya," celetuk Atha, menoleh sejenak ke arah Rinna yang terlihat benar-benar kesal karena tindakannya. "Selamat berjuang adikku!" tambahnya, dengan tatapan mengejek.


"Kau lihat saja!" balas Rinna, berjalan mendahuluinya dengan langkah tertatih-tatih. "Akan aku buat tantanganmu menjadi kenyataan, Kak!"