
"Kejar!! Kenapa kamu hanya diam?! Aku sudah memintamu untuk menghentikannya saat dia sampai di depan gerbang! Tapi kamu malah membiarkannya lewat begitu saja?! Ajudan bodoh!" pekik Atha, marah besar padanya.
Lelaki berjas hitam itu hanya bisa menundukkan kepalanya dalam dan meminta maaf kepada kedua tuannya yang tampak kesal.
"Hahh ... sudahlah, Kak! Jangan kamu perpanjang lagi. Lebih baik kita. Dia tidak naik apa-apa, jadi Cepatlah ambil mobilmu dan kita cari dia di sekitar jalanan. Dia pasti belum terlalu jauh!" putus Rinna, memberikan solusi terbaik.
Atha mendengus kasar dan segera memutar balik langkahnya untuk pergi ke dalam rumah, mengambil kunci mobilnya dan segera pergi bersama dengan Rinna mengejar pelayan lelaki itu.
Atha mulai mengemudi, namun saat dia sampai di seperempat jalan, tiba-tiba mobilnya berhenti dan kedua mata dua orang penumpang mobil itu membulat dengan sempurna.
Di depan mereka tergeletak tubuh lelaki dengan pakaian yang sama, seperti yang dikenakan pelayan lelaki rumah mereka.
"I-itu dia kan?" tanya Atha, menunjuk ke arah lelaki yang ada di depan mobil mereka.
Rinna mengangguk dan segera turun dari mobil, di ikuti dengan Atha.
"Apa-apaan ini? Kepalanya dipenggal lagi??" celetuk Atha, sambil mengusap lengannya yang terasa merinding.
Akhir-akhir ini Atha memang sering melihat korban kecelakaan yang kehilangan kepalanya. Jadi saat melihat tubuh naas pelayan lelaki di rumahnya, dia tidak bisa membendung rasa takutnya lagi.
Bahkan Atha sampai sontak berjalan mundur beberapa langkah dari posisi awalnya, dan berdiri di belakang tubuh Rinna yang masih setia berdiri di tempatnya.
Mungkin karena gadis itu lebih condong merasa penasaran tentang alasan kematian pelayan mereka, dari pada rasa takut melihat kondisi mayat seperti itu.
"Kebetulan ada korban kecelakaan di sini. Apa kita harus memanggil pihak kepolisian ambulance sekarang?" tanya Rinna, menoleh pada kakak lelakinya yang masih tetap tidak setuju dengan saran tersebut.
Padahal konteks masalah mereka sangat berbeda, tapi dia tetap menolak permintaan itu.
"Tidak! Cara kejadian ini dengan rumah kita terlalu dekat. Kita harus tetap waspada, sebagai kita menghilangkan barang bukti dan segera mengubur dirinya! Sebelum banyak orang tahu, lebih baik kita singkirkan dengan segera!" ucap Atha, hanya membuat adik perempuannya menghela napas panjang dan membuka bola matanya malas.
"Terserah kamu saja," jawab Rinna, dengan nada suara jutek. "Tapi bawa dia sendiri ya! Aku tidak kuat mengangkatnya," celetuknya, berjalan masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan Atha di sana seorang diri.
Mau tak mau, akhirnya Atha harus menggendong mayat pelayan lelaki itu sendirian, memindahkannya ke dalam bagasi mobil dan kembali membawamu pulang.
Sesuai rencana awal, kedua orang itu mengubur pelayan lelaki tersebut bersama mayat yang mereka temukan di lubang pupuk kompos milik Atha.
"Hahhh ... akhirnya selesai juga! Ini sudah terlalu larut untuk makan siang, bagaimana kalau kita pergi keluar untuk mencari makan malam? Aku tidak berselera untuk akan di rumah. Kita akan pergi, kan?" tanya Atha, menatap adik perempuannya yang hanya diam sambil melihat bekas galian mereka.
Atha yang merasa tidak di gubris, akhirnya mengguncang kedua bahu Rinna dan membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Kamu tidak dengar kataku? Ayo makan di luar. Aku tidak selera makan kalau makan di rumah. Kamu mau, kan?" tanya Atha, tetap tidak mendapat jawaban dari Rinna walau fokus gadis itu sudah berada padanya.
"Aku tidak lapar, Kak. Kamu makan sendiri saja di luar. Aku mau ke kamar sekarang!" ucap Rinna, berjalan pergi meninggalkan Atha.
Pukul 05.00 sore, Arta pulang dari sekolah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Ekspresi lelaki itu tampak buruk. Mungkin karena ada kejadian tidak enak di sekolah. Karena itulah dia terlihat sangat tidak bersemangat.
Klek ....
Rinna keluar dari ruang baca, tidak sengaja bertemu dengan Arta yang juga sama-sama keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur dan meminta pelayan mereka membuatkan makan malam untuknya.
"Rin, nanti teman-temanmu akan datang. Tadi aku sudah menunggu mereka, rencananya kami akan datang ke sini bersama-sama. Tapi mereka tidak kunjung keluar. Jadi aku balik duluan, maaf," jelas Arta, dengan ekspresi wajah yang cukup membuat Rinna menaruh curiga padanya.
"Ada sesuatu yang terjadi di sekolah? Ekspresimu tidak tampak baik, Kak! Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman? Mau aku bantu menyelesaikannya??" celetuk Rinna, berjalan bersama dengan Arta menuruni tangga dan bersama-sama pergi ke arah dapur.
Arta mengatakan pada pelayan untuk membuatkan yang makan malam terlebih dahulu. Sementara Rinna, mendekati kulkas dan menu yang segelas air dingin untuk dirinya.
Kedua adik-kakak itu bertemu di meja makan. Mereka sama-sama duduk di sana dengan posisi berhadapan.
"Aku boleh minta bantuanmu? Tapi kamu sedang sakit. Bagaimana kamu bisa membantuku??" tanya Arta, menaikkan sebelah alisnya.
Rinna memalingkan wajahnya sejenak dan tersenyum masam. "Asalkan aku bisa kulakukannya, aku akan melakukannya. Jangan cemas, kalau aku tidak bisa melakukannya untukmu. Aku akan meminta seseorang untuk membantumu! Bukannya itu setimpal?"
Arta mengulas senyuman miring, menatap adik perempuannya dengan tatapan serius. "Jika aku boleh mengatakannya, tolong dengarkan aku baik-baik. Karena aku tidak ingin mengulanginya!"
Rinna hanya mengangguk singkat dan mencondongkan dirinya agar lebih dekat pada Arta.
Arta melakukan hal yang sama dan berbisik kepada Rinna, dengan suara yang dikondisikan. "Ada seorang pembunuh yang menyamar sebagai para murid di kalangan anak kelas 3. Hari ini kami menangkapnya! Dan dia adalah pelaku dari 3 orang yang sudah ditemukan para polisi. Aku masih mencari teman-temannya, tidak mungkin dia membunuh sendirian, kan?"
Rinna mundur dari posisinya. Menyandarkan punggung di kepala kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hanya itu? Mangkanya kakak sampai mengecilkan suara??" tanya Rinna, menatapnya dengan tatapan heran.
Arta mengerutkan kening tidak paham. "Maksudnya? Kamu mengharapkan berita yang lebih buruk dan lebih besar dari itu? Wahh ... kamu kira, sekolah kita sekacau apa?" celetuknya, mengulas senyuman miring.
Rinna menggidikkan bahunya acuh dan memandang ke arah para pelayan yang terus baru bisik-bisik di sekitar mereka.
Entah apa yang dibicarakan oleh para pelayan perempuan itu. Tapi insting Rinna mengatakan jika itu bukanlah hal baik. Karena melalui tatapan mereka, Rinna bisa menyadari kejanggalan yang berusaha disebarkan oleh para pelayan di rumahnya.
"Ada apa? Kenapa kalian berbisik-bisik? Bagaimana dengan makananku? Apa sudah siap?!" tanya Arta, seakan memperingatkan para pelayan perempuan itu, sesaat setelah dia menyadari ekspresi wajah Rinna yang terkesan tidak nyaman melihat mereka menunjukkan kelakar seperti itu.
"Ma-maaf, Tuan Muda. Kami akan segera menyelesaikannya. Tolong tunggu sebentar," ucap para pelayan wanita itu, segera mempercepat pekerjaan mereka.