My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
14. Ghost Child (2)



"Jangan macam-macam padaku! Kutukan seperti itu sangat mudah aku singkirkan! Kau kira aku siapa, ha? Dasar manusia rendahan!" celetuk Rinna, menyebarkan hawa mengerikan, yang membuat setiap orang bergidik ngeri.


Naufal mendekatinya, menatap kedua manik mata Rinna yang berubah lebih gelap dari biasanya.


"Kamu manusia, Rin!" bisik lelaki itu, membuat Rinna terdiam.


Tak lama setelah itu, kedua mata Rinna kembali berwarna coklat pekat dan dia menjadi sangat lemas sampai tak bisa berdiri dengan benar.


Naufal segera memeluknya, membuat Arta dan Ezra mendekat pada mereka dengan tatapan cemas.


"Dia baik-baik saja?" tanya Arta, menatap khawatir pada Rinna yang tersadar, tapi seperti orang linglung.


"Dia akan baik-baik saja di tempat gelap. Bisakah aku membawanya? Ada tempat yang biasanya Rinna datangi saat dia seperti ini," ucap Naufal, membuat Afi dan Ningsih mendekat padanya dengan langkah cepat.


"Tempat? Apa dia punya semacam tempat persembunyian?" tanya Arta, menghentikan tiga anak remaja yang ingin membawa adik perempuannya pergi.


"Nanti kami akan beri tahu, Kak. Sekarang kami harus pergi sebelum terlambat," ucap Ningsih, menjelaskan secara singkat.


Atha mencegat jalan mereka, menatap Rinna yang tak sadar dengan tatapan dingin. "Jika aku tidak boleh mengantar kalian, maka kalian tidak akan boleh pergi!" jelasnya, tegas dan tak terbantahkan.


"Baik, ayo!" putus Afi, dengan cepat.


Atha membimbing mereka pergi ke mobilnya dan mereka pergi meninggalkan rumah sakit dengan mobil yang di kemudikan Atha.


Dalam perjalanan, matahari yang tadinya ada di atas kepala, kini sudah berpindah ke arah barat, hendak terbenam dan perjalanan mereka masih sangat jauh.


Mereka melewati jalan yang memutari pantai, menatap lautan lepas dengan tatapan sejuk.


"Ke mana kita pergi?" tanya Atha, mulai lelah mengemudi karena tempat yang di maksud dari 3 anak itu terlalu jauh. "Ini tak sesuai eksptasiku!"


"Memang apa yang Kakak pikirkan? Kuburan? Panti asuhan kami? Atau jenis tempat keramat?" tanya Ningsih, yang duduk di samping si pengemudi.


Atha hanya diam, tersenyum dan tak menyangkal perkataannya.


"Jika akan pergi ke pesisir untuk membuat Rinna ke sana. Dia butuh pergi ke lautan!" ucap Ningsih, membuat Atha mengerutkan keningnya dalam.


"Membuang? Kalian akan melemparkan dia ke laut???" tanya Atha, benar-benar kaget dengan hal itu.


Tapi tak ada yang menjawab, dan ketiga remaja itu hanya saling melirik satu sama lain, dengan gelagat tak jelas.


Atha pun menganggap itu hanya lelucon mereka, tapi saat tiba di tempatnya, dia malah di buat tercengang karena ketiga remaja itu benar-benar melemparkan Rinna ke dalam laut dan meninggalkannya begitu saja.


"Yang benar saja! Kalian akan pergi? Bagaimana jika dia mati? Kalian melakukan pembunuhan berencana, ya?!" celetuk Atha, di buat frustrasi dengan tiga remaja yang malah duduk di tanah, di bagian depan mobilnya sambil melihat ke arah lautan.


"Dia akan kembali sendiri. Kami sudah sering melihatnya seperti itu," celetuk Afi, tampak tak berbohong kepadanya.


"Yang benar saja. Kau kira aku akan percaya dengan bualanmu itu?" Atha tampak marah, dia segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


Tapi Naufal merebut benda itu dengan cepat dan menatapnya tajam. "Kami bilang, dia akan kembali! Maka dia akan kembali. Jika Kakak tidak percaya, lihat siapa di sana?!"


Atha mundur beberapa langkah, menatapnya dengan tatapan terkejut. "Apa-apaan itu? Di-dia keluar dari laut dengan begitu saja?"


Atha menatap ketiga teman Rinna, yang memandangnya dengan tatapan masam.


"Begitulah, Kak. Kami juga tak tahu alasannya. Tapi kata pengurus panti, Rinna memang di temukan di dekat dermaga dalam kondisi membiru dan tak bernapas, tapi dia tak mati!" jelas Ningsih, bangkit dari tempatnya dan menyambut kedatangan Rinna dengan senyuman hangat.


"Kamu sudah selesai?" tanya Ningsih, membuat gadis itu mengangguk dan memeluknya erat, seraya bola matanya kembali menjadi warna coklat pekat.


"Maaf selalu merepotkan kalian. Dia berusaha keluar dari sana berulang kali, ini sudah kedua kalinya dalam sebulan. Maaf ya," ucap Rinna, menatap ketiga temannya dengan tatapan bersalah.


"Tidak masalah. Yang penting kamu baik-baik saja, Rin. Kami sudah sangat bersyukur," jawab Naufal, mengacak pelan rambut Rinna yang basah, sampai setengah berantakan.


Sementara Atha yang melihat Rinna, hanya diam dan membekap mulutnya rapat-rapat, karena semua luka di tubuhnya hilang tanpa bekas.


"Bagaimana itu bisa terjadi? Kamu bukan manusia?" celetuk Atha, menyita perhatian mereka.


Rinna memandang Kakaknya dengan tatapan lekat. "Aku makan makanan manusia, aku bernapas di daratan, kakiku menapak dan kedua tanganku bisa memegang benda fisik! Jadi jangan bertanya hal konyol yang sudah jelas," celetuknya, menghela napas penat.


"Benar juga, lalu kamu ini apa? Kenapa sampai di buang ke laut dan punya tenaga sebesar itu?" Atha berpikir keras, lalu menatap Rinna dengan tatapan terkejut. "Jangan bilang kalau kamu anak Samson! Atau titisan Ratu Selata–"


"Jangan menebaknya kalau tidak mau aku lempar ke lautan. Sekarang ayo kembali sebelum mereka semakin khawatir!" ucap Rinna, berjalan masuk ke dalam mobil di bagian depan, bagian samping pengemudi.


Atha segera menyusulnya masuk, duduk di tempat pengemudi dan membawa mereka kembali ke kota.


"Aku masih penasaran, bisa kamu ceritakan tentangmu? Sepertinya menarik!" Atha menoleh pada Rinna, menatap wanita itu dengan tatapan mengerikan, khas psikopatnya.


Rinna memutar bola matanya malas, menatap lelaki itu dengan tatapan enggan. "Sebagai gantinya, jangan bilang apa-apa pada Mama. Aku tak akan memaafkanmu kalau dia tahu!"


"Aku mengerti, jadi cepat ceritakan!" ucap Atha, mendesak.


"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa begitu, yang jelas aku sering melakukannya tanpa sadar. Kekuatan yang melebihi batas dan bola mata yang sering berubah warna saat benar-benar marah dan tak berdaya."


Rinna menyandarkan kepalanya, menatap keluar jendela dengan tatapan dingin nan sedih.


"Kata Ibu Panti Asuhan, aku di temukan di pinggir dermaga dengan kondisi membiru dan tidak bisa bernapas. Tapi kedua mataku masih terus berkedip dan sesekali masih tertawa, jadi mereka mengira aku masih hidup dan membawaku ke rumah sakit."


Rinna menghentikan ucapannya, melirik pada ketiga temannya di belakang sana, dengan tatapan enggan. Karena tak ada orang yang tahu bagaimana cerita lengkap dia di temukan dan kenapa menjadi anak unik seperti sekarang.


"Lalu apa?" tanya Atha, membuat Rinna menoleh padanya dan menghela napas kasar.


"Aku tak yakin kalian bisa tidur setelah mendengar cerita ini. Aku tak ingin meneruskannya, aku lelah! Aku tidur saja," celetuk Rinna, membuat para penonton kecewa berat.


Tapi tak ada di antara teman-temannya yang mau bertanya kembali. Karena mereka tahu, jika itu adalah kisah kelam.


Berbeda dengan Atha yang masih tampak penasaran, tapi dia menahan pertanyaannya, karena Rinna benar-benar langsung tertidur begitu memejamkan matanya.


"Dia pasti lelah, kan? Berubah wujud pun, memakan banyak energi!" batin Atha, kembali fokus mengemudi, tanpa berniat mengganggu Rinna.