My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
34. Akhir Kisah



Menatap rembulan yang ada di luar sana. Daniela berdiri menutupi satu bagian sisi jendela dengan tubuhnya yang ramping.


Dia terdiam beberapa saat sambil menunggu putri kecilnya kembali ke kamar. Seusai melihat pesta yang membosankan, Daniela memutuskan untuk kembali ke kamar Rinna dan menunggu gadis itu salah saya di sana.


Sekitar 10 menit, sejak Daniela masuk ke dalam kamar, seorang gadis berusia 16 tahun masuk ke dalam kamar itu dengan ekspresi lelah.


Daniela menoleh padanya dan mengulas senyuman simpul, seakan menertawakan kelelahan dan ekspresi masam pada gadis itu.


"Hahaha, lihat wajahmu yang dekil itu, lucu sekali!" pekik Daniela, menertawakan secara singkat.


Dia beranjak ke tengah-tengah ruangan, mendekati Rinna yang berdiri di depan pintu sambil menyandarkan punggungnya pada papan kayu tersebut.


"Jangan tertawa. Kamu terlihat menyebalkan dengan wajah seperti itu, Ma!" celetuk Rinna, mengusap wajahnya kasar dan membuang napas kasar.


Daniela masih tertawa, tapi kini suaranya tampak lebih lirih. "Hahaha, baiklah. Kamu sudah selesai, kan? Kamu terlambat 30 menit. Sekarang kita harus pergi! Jika tidak, Lord akan marah padaku," ucap Daniela, menyambut kedatangan Rinna yang baru masuk ke kamarnya pada pukul 09.00 malam.


Rinna yang mendengar itu langsung mengangguk dan mengambil tas yang berisikan laptop satu flashdisk, yang sudah dia sembunyikan di bawah kolong kasur.


"Baik, maafkan aku jika terlambat. Sekarang kita pergi!" ucap Rinna, berjalan menghampiri Daniela dengan mengulurkan tangannya.


Daniela meraih tangan gadis itu dan dalam satu detik mereka sudah berpindah dimensi. Mereka berada di depan gerbang masuk kastel kerajaan neraka yang belum pernah di lihat oleh Rinna.


Karena biasanya mereka hanya pergi ke hutan kabut dan mampir ke kastel yang ada di bagian tengah-tengah hutan tersebut.


Tapi kenapa sekarang dia dibawa ke istana kerajaan neraka yang ada di dunia bawah? Apakah ada sesuatu yang mengharuskannya datang ke tempat ini??


Rinna menatap wajah para penjaga yang terlihat patung ketika melihat Ratu mereka berjalan memasuki wilayahnya tampak langkah angkuh dan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, hanya sekedar formalitas untuk memperlihatkan jika dirinya memiliki sikap sombong yang nyata.


"Di mana kita sekarang, Ma?!" tanya Rinna, berjalan mengikuti wanita bergaun merah itu, memasuki wilayah dalam istana tersebut.


"Ini adalah tempatku. Istanaku! Dan kamu adalah pewaris dari istana ini. Sebab istana utama, yang biasanya kamu kunjungi di dalam hutan berkebut itu, akan di warisi oleh kakak lelakimu, Mariel. Dia akan memerintah atas tanah itu! Sementara kamu, makan meneruskan istanaku."


Daniela menjelaskan hal tersebut sepanjang mereka memasuki wilayah halaman depan istana megah dan gelap itu.


Rinna tak mengeluarkan satu patah kata pun untuk merespons perkataan sang Ibu. Yang dia lakukan hanya melihat ke sana dan ke sini untuk memastikan jika tidak ada bahaya yang bisa mengancam nyawanya.


Daniela menoleh ke belakang, menatap wajah Rinna yang tampak tidak percaya dengan semua perkataannya.


"Para makhluk halus di sini memiliki wajah yang rupawan. Mereka diharuskan memiliki kemampuan mengubah fisik yang sangat hebat karena aku tidak suka melihat wujud yang buruk! Aku harap kamu juga akan menjadi pemimpin yang seperti itu. Jangan membiarkan para bawahan mau memperlihatkan wujud jeleknya padamu," celetuk Daniela, seakan memberikan tekanan pada Rinna.


"Baiklah, Ma. Aku mengerti. Tapi bolehkah aku bertanya," ucap Rinna, sontak membuat langkah mereka berdua berhenti di tengah-tengah halaman luas itu.


"Kau mendengar suara mereka?!" tanya Daniela, mengumbar senyuman angkuh yang terlihat sangat mengerikan di wajahnya.


Rinna diam dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Padahal dia sudah memiliki rencana sendiri untuk membereskan mereka.


Tapi berani-beraninya wanita ini mengambil tindakan tanpa seizinnya dan membuat semua rencananya gagal total.


"Bahkan Mariel sudah mendapatkan peringatan dariku untuk tidak ikut campur dengan masalah ini. Tapi bisa-bisanya Anda yang baru mendatangi saya 2 hari lalu, malah mengambil tindakan ekstrem dan membuat saya marah! Anda tidak takut dengan saya?" tanya Rinna, perlahan-lahan mulai mengubah wujudnya menjadi wujud asli sebagai makhluk halus.


6 sayap berwarna hitam menyeruak dari balik punggungnya. Dua tanduk berwarna hitam yang cukup kokoh dan besar juga menyeruak dari atas kepalanya.


Wajah Rinna yang semulanya sangat cantik, kini berubah menjadi hitam dengan kedua mata yang berubah warna menjadi merah.


Sosoknya begitu mengerikan. Membuat Daniela yang benar-benar tidak suka melihat sosok seperti itu marah besar padanya.


"Padahal aku baru katakan padamu, kalau aku tidak suka melihat wujud yang buruk dari para bawahanku! Tapi bisa-bisanya kau, yang merupakan anakku sendiri! Malah menentang perintah itu dan membuatku marah."


Daniela mengeluarkan hawa kegelapan dari kedua tangannya, bersiap melemparkan gumpalan bola hitam yang berwarna begitu pekat dengan hawa panas yang mematikan itu, pada Rinna yang berdiri dalam jarak 10 langkah darinya.


"Rinna, padahal aku belum mengangkatmu sebagai putri mahkota! Tapi kamu sudah menunjukkan pemberontakan di depanku? Hebat sekali. Sembuh seperti watak manusia yang buruk! Bahkan kamu tidak menghargai orang tuamu sendiri. Sangat pintar!" geram Daniela, mengerutkan keningnya dalam dan menatap gadis berusia 16 tahun itu dengan tatapan bengis.


"Mungkin jika Malazi tahu apa yang aku lakukan hari ini padamu, dia akan menghukumku! Tapi sebagai ibumu, aku berhak menghukum anakku yang telah berbuat nakal!" ucap Daniela, mulai melemparkan bola-bola hitam yang ada di tangan, secara bergantian.


Berharap jika salah satu bola itu bisa mengenai putrinya dan membuatnya lumpuh. Tapi tidak ada satu pun serangannya yang mengenai Rinna, dan gadis itu bisa selalu lolos darinya.


Kini tiba saatnya Rinna untuk membalas serangan itu dengan sihir yang serupa. Namun bedanya, dia menggunakan bola berwarna biru yang memiliki kekuatan panas melebihi milik sang Ibu.


"Kita baru mengenal beberapa hari Daniela! Tapi berani sekali kau memasukkan Ezra, Arta dan Atha ke dalam neraka yang panas itu tanpa seizinku. Walaupun mereka sangat buruk dalam bertindak! Tapi mereka sempat memperlakukanku dengan baik! Berani sekali kau menyentuh orang-orangku!!!" lantang Rinna, melemparkan bola biru itu kepada Daniela dan tepat mengenai wajahnya.


Duak!!


Daniela tersungkur dengan wajah yang perlahan-lahan berubah menjadi abu, di ikuti dengan tubuhnya yang perlahan-lahan lenyap seperti kepalanya.


Rinna masih marah karena harus mendengar suara teriakan dari 3 orang lelaki yang seharusnya kini masuk ke dalam penjara karena dirinya!


Tapi berkat Daniela, dia harus mendengarkan tangisanmu ketiga lelaki itu, dari neraka yang akan dia pimpin. Dan selamanya, dia tidak akan bisa mengeluarkan mereka dari sana.


"Argh!!! Daniela, aku sangat membencimu! Sangat benci!!" teriak Rinna, penuh dengan kemarahan.


TAMAT