
Atha hanya bisa menahan rasa kesalnya dengan sekuat tenaga, karena mereka berdua sudah sampai di lantai 3 dan hampir tiba di kantin.
Sesuai perkataan Rinna, mereka berdua menemukan Arta di dalam toilet kantin dengan keadaan baik-baik saja.
Itu cukup membuat Atha bersyukur. Tapi tidak dengan ekspresi wajah Rinna yang terlihat ketus saat melihat Arta di dalam sana.
"Kak, kenapa kau melewati garis kuning?" tanya Rinna, membuat perhatian Arta segera tersita karena dia juga terkejut melihat kedua adiknya ada di depan kamar mandi tersebut sambil melihatnya.
"A-ah, kalian ada di sana. Aku akan segera-"
Arta yang hendak keluar dari tempat itu tiba-tiba terdiam, kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Seperti ada sesuatu yang menahannya dari bawah.
Arta menunduk dengan spontan, melihat benda apa yang membuatnya tertahan sampai sekuat itu?!
Lantas betapa terkejutnya dia, ketika melihat dua buah tangan mencekal pergelangan kakinya dengan sangat kuat, bahkan nyaris membuatnya terluka.
"Kau baik-baik saja, Ar?" tanya Atha, tampak kaget melihat kakak lelakinya yang hampir terjatuh karena kakinya seperti ditahan oleh seseorang, dari belakang.
Arta berusaha tetap tenang agar tidak menakuti kedua adiknya. Dia menatap kedua saudaranya dengan senyuman masam dan mengangguk.
"Ya, aku baik-baik saja. Kalian bisa meninggalkanku lebih dahulu. Aku akan segera keluar jika kedua kakiku sudah bisa digunakan berjalan lagi," ucap Arta, membuat alibi yang meyakinkan.
Tapi Atha dan Rinna tidak ada yang beranjak dari tempatnya, dan terus memperhatikan dia yang kesusahan menarik kakinya keluar dari jeratan wanita berwujud setengah laba-laba itu.
"Hem, mana bisa buat jalan kalau ditahan seperti itu?" gumam Rinna, menghela napas panjang beberapa saat, dan mulai melangkah masuk melewati garis kuning yang dipasang oleh para polisi itu.
"Jemput kami di dermaga yang kemarin, jika tiba-tiba kami berdua hilang!" ucap Rinna, saat dia belum meninggalkan Atha.
Atha ingin mengejarnya, tapi Rinna yang menoleh dan menatapnya dengan tajam, langsung membuat Atha tersentak dan menghentikan langkahnya secara spontan, satu langkah di belakang garis kuning.
"Jangan melewati garis itu. Membawa satu hidup-hidup saja akan susah, apalagi 2! Jangan terlalu menyulitkanku," celetuk Rinna, memperingatkan saudaranya itu.
Atha yang mendengar hal itu hanya diam dan bungkam. Sementara kedua matanya tidak berhenti menatap ke dalam ruangan, lebih tepatnya menatap apa yang dilakukan Rinna untuk menyelamatkan Arta.
Krak!
Sebuah bunyi nyaring terdengar seperti suara tulang patah, saat Rinna dengan sengaja menginjakkan kakinya di dekat pergelangan kaki Arta menapak.
Entah apa yang diinjak oleh Rinna di belakang kedua kaki Arta. Yang jelas bunyinya sangat nyaring dan membuat kedua saudara lelakinya sampai bergidik ngeri. Belum lagi tatapan mata Rinna yang lebih mengerikan dari suara tersebut.
Glek ....
"Aku tidak akan pernah menyangka jika dia akan menjadi saudaraku. Bisa-bisanya Mama mengadopsi anak seperti itu. Apa mama tidak melihat biodatanya lebih dulu dan langsung membawanya pulang saja?" batin Atha, terlihat tertekan dan frustrasi dengan fakta tersebut.
Hahhhhhh ....
"Kau mematahkan tanganku, gadis kecil! Kau kira aku tidak menyerah kalah sakit!!" teriak wanita yang bergelantungan di tengah-tengah ruangan itu, dengan menatap marah ke arah Rinna.
Rinna hanya diam, mengeluarkan sebuah benda pusaka dari dalam saku roknya, membuat wanita itu menjerit takut.
Arta dan Atha sama-sama bisa mendengar setiap suara yang di keluarkan wanita itu. Tapi Atha tak bisa melihat wujudnya, hanya Arta saja yang mulai bisa melihat wajah dan tubuhnya.
Glek ....
Arta menelan ludahnya susah, melihat tubuh perempuan yang mengerikan itu dengan tatapan setengah takut.
Tidak pernah dia melihat bentuk hantu seburuk ini. Gaun merah dengan rambut panjang, menjuntai sampai menyentuh tanah. Wajah memanjang dengan bola mata kecil dan mulut yang lebar tanpa bisa menutup.
Wanita itu terus mengaga walaupun sedang berbicara. Lidahnya yang panjang seperti ular, selalu mengeluarkan air liur yang membasahi lantai.
"Aku rasa kamu masih gadis penakut kemarin, tapi kenapa sekarang sangat berani? Kamu tidak takut dengan makhluk itu?" tanya Arta, menggenggam lengan kiri Rinna dan menjaga adiknya dari belakang.
Rinna melirik padanya dengan senyuman masam. "Sebenarnya, hantu yang hampir menelanku di mimpi Kakak itu, lebih menyeramkan berkali-kali lipat dari dia. Jadi aku akan bisa menghadapinya, walaupun harus berubah sepertinya," ucapnya, tak di mengerti oleh Arta.
"Bagaimana maksudnya? Kamu berubah menjadi seperti–"
Brak!
Satu tangan hantu perempuan itu menepuk mereka, seperti ingin membuatnya jadi ayam geprek.
Rinna memutar bola matanya malas, menatap wanita berwajah panjang itu dengan tatapan tak senang. "Kau kira aku nyamuk!" pekiknya.
Setelah itu, entah sejak kapan kris yang di pegang Rinna sudah menancap pada kening wanita itu dan sedikit memperlambat pergerakannya.
"Kakak punya benda tajam?" tanya Rinna, menatap wajah Arta yang berdiri di belakangnya dengan tatapan pucat.
"Untuk apa?" tanya Arta, memindahkan tasnya ke bagian depan dan mengeluarkan sebuah cutter.
Syat!
Darah menetes dari tangan Rinna, dia menggambar sebuah lingkaran dengan huruf yang sulit di mengerti oleh orang awam.
"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Arta, merasa semakin tegang karena kuntilanak itu tampak marah dan berubah menjadi semakin menyeramkan.
Di setiap tubuhnya muncul duri yang terbuat dari tulang. Wajahnya pun berubah menghitam dengan bola mata merah menyala.
"Ritual kecil untuk mengusirnya. Kakak jangan ikut–"
Brak ....
Rinna di buat terhempas jauh dari lingkaran darah yang dia buat, membuat Arta dan Atha yang menyaksikan kejadian itu, menganga lebar.
"Lindungi lingkarannya! Jika dia menghapusnya–"
Krak!
Salah satu tangan wanita itu menyumpal mulut Rinna, membuat gadis itu tak bisa meneruskan perkataannya.
Tapi karena sepenggal kalimat itu, Arta jadi tahu jika hantu wanita itu tak boleh menyentuh lingkaran darah milik Rinna.
Dengan memasang punggungnya, Arta melindungi lingkaran itu dengan baik saat wanita bertangan 8 itu, berusaha menghapusnya.
Crat!
Darah menyembur, Rinna melepaskan diri setelah melukai pergelangan tangan wanita tak kasat mata itu.
Rinna berlari mendekati lingkarannya, membuat Arta segera pergi dari posnya dan membiarkan Rinna merapal mantra yang tak dia pahami.
Asap hitam mengepul dari dalam lingkaran itu, pergi menghisap mereka yang ada di dalam ruangan itu, dan membuat ketiganya menghilang tanpa jejak.
Atha terkejut, terdiam kaku melihat lingkaran darah yang juga telah hilang tanpa jejak dari tempatnya.
"Sial! Apa mereka berhasil melarikan diri dari makhluk itu?!" pekik Atha, segera pergi meninggalkan tempat itu dan pergi ke dermaga.
Sesuai pesanan Rinna sebelum dia masuk ke dalam lingkup setan itu, Atha harus menjemput mereka saat mereka menghilang sewaktu-waktu.
"Aku harus ke sana, untuk memastikan mereka langsung. Gila! Semua kejadian gila ini, benar-benar di kuar akal sehat!" pekik Atha, mengomel pada dirinya sendiri.