
Klap ....
Seorang lelaki memasuki ruangan gelap dengan cahaya lilin. Dia juga membawa satu batang lilin yang diletakkan di sebuah teko yang tidak terpakai.
Dia memasuki ruangan beraromakan kayu mahoni dengan banyak buku yang tertata rapi di dalam raknya.
Dia menghampiri seorang gadis berusia 16 tahun, yang tengah duduk di salah satu sofa single di dalam ruangan itu, tengah membaca buku.
"Rin, kamu masih berusaha sangat keras untuk membatalkan kutukan itu, ya? Bukannya kamu tahu juga kutukan itu tidak sepenuhnya salahmu??" ucap lelaki itu, membuat sang gadis menoleh padanya sambil menghela napas kasar.
"Hem, aku tahu. Tapi aku tetap ingin mengupayakannya! Bagaimanapun juga, sebagian besarnya adalah kesalahanku!" jawab Rinna, membuat lelaki itu memutar bola matanya malas dan beranjak duduk di sofa panjang, tempat di sampingnya.
"Mau aku nyalakan perapiannya? Ruangan ini sangat dingin untuk tubuh manusia. Kamu seharusnya meminta para pelayan menyalakan perapiannya dari tadi," celetuk Mariel, berjalan mendekati tunggu besar yang ada di depan mereka, dalam jarak 1 meter.
"Tidak usah tidak apa. Aku lebih suka suasana hening seperti ini daripada harus mendengarkan suara lapuk dari kayu yang terbakar," ucap Rinna, menjelaskan.
Mariel yang hendak menjentikkan carinya, untuk menyalakan api, tiba-tiba menarik tangannya dan kembali duduk di samping adik perempuannya.
Mariel hanya diam, memperhatikan Rinna yang tampak benar-benar fokus membaca bukunya.
"Kau tidak pernah memakai manusia? Atau sesajen yang ada di jalan-jalan itu??" celetuk Mariel, secara tiba-tiba.
Rinna yang mendengar hal itu langsung mengerutkan keningnya dalam, menatap wajah lelaki itu dengan tatapan tidak senang.
"Kenapa? Kamu mau meracuniku untuk makan-makanan yang sama dengan kamu?" Rinna menaikkan sebelah alisnya, menatap kakak lelakinya dengan senyuman miring. "Aku tidak akan mengungkit hal ini di depan Ayah, kalau kamu berhenti membicarakan hal yang tidak baik! Padahal kamu sudah tahu kalau aku bukan makhluk yang seperti itu. Aku dan kalian sangat berbeda, walaupun kita masih satu keluarga!" celetuknya, tanpa menatap lawan bicaranya.
Mariel hanya bisa tertawa kecil dan berjalan pergi meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan satu patah kata pun pada Rinna.
Rinna pun tidak memperhatikannya, ataupun menegur lelaki itu. Dia membiarkan Mariel keluar begitu saja, walaupun suasana di antara mereka, sanggatlah buruk.
Dia kembali fokus membaca. Namun tiba-tiba Mariel sudah ada di hadapannya dengan membawa satu ekor ayam hidup dan menyodorkan ayam itu secara paksa ke mulut Rinna.
Rinna mendelik kaget, secara refleks dia menggunakan kekuatannya untuk menghindari Marie. Tapi semua itu percuma. Karena Mariel memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dari dirinya.
Bahkan saat Rinna menyerangnya, pinggang lelaki itu berlubang cukup besar, tapi dia tidak berpindah tempat. Bahkan lukanya langsung sembuh seketika.
Rinna merasa tercekik, kedua matanya sudah melebar sambil menatap wajah Mariel yang terlihat bengis.
Dia tidak ingin menjadi makhluk yang sama seperti mereka. Makan makanan pemberian manusia, apalagi menyantap seorang manusia untuk melegakan harus haus dan dahaganya.
Rinna kembali mencoba untuk mendorong mundur lelaki itu. Namun dengan sikap, kedua tangan Rinna dipegang oleh lawannya dan di belenggu dengan sangat kuat menggunakan mantra.
Rinna tidak lagi bisa bergerak, dan kepala ayam itu sudah masuk ke dalam mulutnya. Instingnya sebagai makhluk halus, kini meronta-ronta, membuat Rinna tak bisa menahan tubuhnya dari godaan hawa nafsu.
"Ayah!! Ayah!!" batin Rinna, menggunakan telepati.
Dan tak sampai 1 detik, seorang lelaki sudah berdiri di belakang Mariel dan menghantam lelaki itu sampai kepalanya hancur dan darahnya mengenai pakaian Rinna.
"Kau baik-baik saja?" tanya Malazi, menatap Rinna yang gemetar takut saat melihatnya.
Malazi yang menyadari itu, menjentikkan tangannya dan membuat semua serpihan kepala Mariel kembali utuh dan kembali terpasang di lehernya dengan baik.
Mariel kembali hidup. Tapi yang di lakukan lelaki itu hanya diam dan menatap marah pada kedua orang yang ada di hadapannya itu.
"Seharusnya Ayah tak ikut campur! Aku hanya akan membuat adikku bertambah kuat. Tapi kenapa Ayah malah menghancurkan kepalaku? Yang benar saja," protes Mariel, pada Malazi.
Malazi hanya memutar bola matanya malas dan berjalan pergi meninggalkan kedua anaknya di dalam ruangan itu, kembali.
Rinna masih membeku di tempatnya. Melihat hal seperti tadi, membuat dirinya benar-benar syok.
"Ini semua karenamu! Ini hanya ayam. Kamu juga memakannya di dunia manusia. Tapi kenapa kamu sampai membuatku di hancurkan oleh Ayah? Yang benar saja," pekik Mariel, memprotes pada adiknya.
Rinna tak bisa merespons dengan baik. Dia mengulas senyuman masam dan segera menghilang dari tempat itu.
"Maaf, Kak!" ucap Rinna, di saat terakhir, dengan wajah ketakutan dan pucat.
Mariel yang memperhatikan itu, hanya diam di tempatnya dengan menghela napas panjang sesekali. "Hahh, dasar setengah manusia!" pekiknya, jengkel.
***
Rinna sampai di rumahnya dengan tatapan pucat. Dia menatap kosong ke arah kamarnya, setelah dia masuk ke sana beberapa saat yang lalu.
Hantu bernama Susi, yang punggungnya memiliki lubang sebesar bola basket, mendekatinya dan berdiri di depan Rinna yang tampak tak acuh pada keberadaannya.
Padahal biasanya Rinna sangat takut kepadanya. Namun kenapa dengan hari ini?
Rinna bahkan tak melihat Susi walau dia sudah berdiri di depannya dengan wujud yang mengerikan, seperti biasa.
"Ada apa dengan gadis ini? Dia sakit atau bagaimana? Kenapa terlihat loyo??" tanya Susi, pada teman-temannya yang lain, yang sama-sama mengguni kamar Rinna.
Namun teman-temannya hanya memilih diam dan tak mengacuhkan Susi. Karena mereka sudah melihat siapa penjaga gadis itu, mereka pun tak akan berani berbuat hal yang aneh-aneh lagi, mulai sekarang.
"Susi, sebaiknya kamu biarkan Nona Rinna istirahat. Kamu pasti sudah melihat siapa lelaki yang akhir-akhir berkunjung untuk menemuinya, kan? Bagaimana jika Tuan Mariel menjadikannya tunangan? Kamu bisa mampus di hukum Lord Malazi!" ucap seorang lelaki bertubuh besar dan hitam, dari arah kebun di belakang kamar Rinna.
Susi yang mendengar itu hanya acuh dan tetap mengganggu Rinna dengan terus berkeliaran di sekitarnya.
"Dia tidak di sini. Jadi aku boleh mengganggunya, dong! Aku tidak akan mencelakainya, tapi melihat wajahnya yang ketakutan saat melihatku, itu benar-benar menghibur!" pekik sunder bolong itu, di akhiri dengan kikikan penuh semangat.
Namun belum 5 menit berlalu, tiba-tiba lelaki yang mereka takutkan, sudah datang dan langsung menatap Susi dengan tatapan buas.
"Kau mau mengganggu dia?" ucap Mariel, menatapnya tajam. "Jika kau berani meneruskannya, teruskanlah! Tapi aku akan pastikan jika kau akan aku kirim ke neraka ke tujuh setelahnya!" celetuknya, penuh dengan amarah.