My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
32. Permintaan



"Kau mau mengganggu dia?" ucap Mariel, menatapnya tajam. "Jika kau berani meneruskannya, teruskanlah! Tapi aku akan pastikan jika kau akan aku kirim ke neraka ke tujuh setelahnya!" celetuknya, penuh dengan amarah.


Glek ....


Susi yang mendengar itu langsung menelan ludahnya susah, berjalan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya menghilang.


Sementara Rinna yang masih terlihat linglung, hanya bisa terdiam dengan menunjukkan kepalanya dalam.


Gadis itu tidak ingin melihat Mariel. Dan sepertinya, Mariel pun paham dengan keinginannya.


"Aku pergi," ucap Mariel, membuat Rinna menghela napasnya panjang dan lega.


Setelah itu Rinna pergi ke arah ranjangnya, merebahkan dirinya di sana, sambil menatap langit-langit.


Tak lama setelah itu dia tertidur. Namun baru 10 menit yang memejamkan matanya, tiba-tiba suara orang berteriak membuatnya terbangun karena kaget.


AAA!!!


Suara teriakan itu terdengar sangat nyaring dari kamarnya. Bahkan dari atap kamarnya, terdengar suara bising seperti orang yang tengah meloncat-loncat


Rinna yang tidak tahu apa itu, berusaha kembali menutup matanya dan tidak menghiraukannya.


Namun tiba-tiba dari atas apa itu, ada sebuah hawa keberadaan gelap yang membuat Rinna mau tidak mau membuka matanya dan melihat apa yang ada di sana.


Ternyata dia menemui sebuah muka seorang wanita yang cukup dia kenali. Ya, itu adalah wajah Maya yang terlihat kesakitan. Bahkan mulutnya tidak berhenti berteriak sampai membuat telinga Rinna terasa pengang.


"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi di kamar Maya? Apa aku lihat langsung saja, wajahnya mengerikan! Dia di siksa sama makhluk itu, kah?!" serunya, bangkit dari tempat tidur dengan segera dan berlari keluar kamar.


Begitu dia keluar kamar, dia malah melihat tiga orang lelaki sedang menuju ke lantai 3 dengan membawa beberapa lilin dan tali berwarna hitam.


Rinna yang awalnya ingin pergi ke tempat Maya berada, langsung menahan langkahnya dan bersembunyi di balik tangga.


Sesekali dia mengintip ke arah mana perginya ketiga lelaki itu. Dan benar saja perkiraan Rinna, Ezra, Arta dan Atha pergi masuk ke tempat Maya berada dan mengunci pintunya dari dalam.


Entah apa yang dilakukan 3 orang lelaki itu di dalam sana. Yang jelas, Rinna dapat mendengar suara pukulan yang sangat keras dan teriakan Maya yang semakin lantang saat mengekspresikan rasa frustrasi dan kesakitannya.


"Sebenarnya apa yang mereka lakukan di dalam sana," batin Rinna, di dalam hati.


"Kau ingin tahu apa yang ada di sana?!" seru seorang wanita dengan gaun merah berbentuk mermaid, tiba-tiba berdiri di sampingnya dengan wujud yang sangat cantik.


Rinna menoleh pada wanita itu dengan cepat. Menatapnya dengan tatapan terkejut, dan membuat lawan bicaranya tersenyum simpul.


"Kenapa kamu terlihat sangat terkejut? Aku ini tetap Mamamu, walaupun aku sedikit jutek pada pertemuan pertama kita, tapi aku juga tetap memantaumu dari kejauhan!" celetuk Daniela, dengan ekspresi akrab.


Tapi Rinna yang tak pernah terbiasa dengan ekspresi itu, hanya diam dan memperhatikannya sambil mengulas senyuman segaris. Seakan menunjukkan ekspresi tidak percaya dengan perkataannya.


Daniela membuang napas kasar dan menggenggam tangan kanan Rinna. Satu detik kemudian, kedua wanita itu sudah berada di dalam ruangan tempat keluarga Ezra mengurung Maya.


Darah terus mengukur dari tubuhnya, bahkan wanita itu sudah hampir setengah telanjang. Tapi tampaknya si kembar tidak risik melihat Ibu mereka dalam kondisi seperti itu.


"Miris, kan? Mereka bertiga hanya mencoba membunuh wanita itu agar tidak terkena balak dari ilmu hitam yang digunakannya. Ya, itu salah wanita itu sendiri sih. Jadi aku tidak mau membantunya walaupun kamu menginginkannya," celetuk Daniela, tampak tak acuh sedang tenang, saat melihat pemandangan mengerikan itu terjadi di hadapan makanya.


Rinna terus menatap ekspresi wajah Maya yang terlihat sangat kesakitan. Dia juga terlihat frustrasi dan semakin kurus. Bahkan lebih kurus dari 47 yang lalu, waktu terakhir kali Rinna berpapasan dengannya.


Daniela memperhatikan ekspresi wajah Rinna yang sering berubah menjadi miris setiap kali mendengar suara teriakan Maya yang semakin lantang.


"Kenapa? Kamu kasihan dengan wanita itu?" tanya Daniela, membuat perhatian Rinna berpindah padanya.


Rinna tidak menjawab. Dia hanya diam dan memperhatikan wajah Daniela yang tampak cantik di sinari cahaya lilin yang redup.


"Bukannya kamu juga menginginkan hal itu? Untuk melepaskan Arta, manusia yang menjadi kakak pertamamu! Kamu memang harus melenyapkan Maya, sebagai orang yang memulai perjanjian ini dengan kamu, kan? Kamu sudah membaca banyak buku yang mengatakan hal yang sama. Tapi sepertinya kamu ingin mencari solusi yang lain untuk tidak menyakiti salah satu di antara mereka, benar?" 


Rinna masih tampak diam dan memperhatikan wanita cantik yang ternyata adalah Ibu kandungnya ini.


Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir manis Rinna. Dia hanya diam dan memperhatikan Daniela dan Maya secara bergantian.


Entah apa yang dipikirkan di kepala kecilnya itu. Tapi bahkan Daniela tidak ingin menebaknya. Karena bagaimanapun, Rinna adalah anak yang sangat berbahaya dan punya caranya sendiri untuk menghancurkan sesuatu yang tidak dia sukai.


"Tolong kembalikan aku ke tempat semula, Ma. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan tiga orang ini. Jika tidak, mangsaku akan mati di tangan mereka! Itu bisa membuat rencana yang sudah aku susun menjadi gagal total. Tolong kembalikan aku!" ucap Rinna, menatap wajah Daniela yang menunjukkan senyuman smirk padanya.


"Hahhh, lihatlah gadis kecil yang tumbuh tanpa campur tangan kami ini. Dia memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan masalah dan cenderung mirip dengan cara manusia. Ya, dia memang produk gagal! Aku mengakuinya, tapi siapa sangka jika dia akan menjadi anak yang hebat dengan kekurangannya itu? Benar-benar eksperimen yang tidak terduga," celetuk Daniela, dalam hati sambil kembali meraih tangan Rinna dan memindahkan dimensi mereka ke tempat semula.


Setelah itu, Rinna langsung memasang ekspresi acak-acakan, selayaknya seorang gadis yang baru bangun tidur karena mendengar suara heboh di luar kamarnya.


Dengan cara jalan yang sedikit pincang dan kedua mata yang tidak bisa dibuka dengan benar, Rinna mulai melangkahkan kakinya naik ke lantai 3.


Namun baru di tengah-tengah tangga, tiba-tiba seorang pelayan perempuan menggenggam tangannya dan menghentikan langkahnya.


"Nona Muda, maafkan saya jika telah menyentuh Anda. Maaf jika saya lancang. Tapi apa yang Anda lakukan malam-malam seperti ini di lantai 3? Jangan bilang kalau Anda ingin pergi ke sana, kan? Saya tidak mengizinkannya," ucap pelayan perempuan itu, dengan memamerkan ekspresi wajah khawatir.


Sayangnya, ekspresi wajah itu terlihat sangat tulus bagi Rinna.


Rinna menoleh ke arah Daniela berada dan melihat wanita cantik itu menggidikkan bahunya tak acuh, seakan mengatakan jika dia tidak ingin ikut campur dengan masalahnya.


Rinna yang melihat respons itu, kembali menunjukkan kepalanya, menatap pelayan perempuan yang menggenggam kedua tangannya dengan erat-erat.


"Saya mohon, Nona. Tolong kembalilah ke kamar Anda. Di sana sangat berbahaya. Saya tidak ingin ada terluka," ucap pelayan perempuan itu, bersungguh-sungguh.


Rinna berdecap kasar dan berjalan turun kembali ke arah kamarnya "Hem ... baiklah-baiklah, aku tidak akan ke atas sana sesuai permintaanmu, Pelayan!" jawabnya, membuat pelayan wanita itu merasa lega.


"Terima kasih, Nona."