
Niu ... niu ... niu ....
Tubuh Tony di bawah pergi ke rumah sakit oleh mobil ambulans. Polisi kembali datang untuk menyelidiki kasus yang baru.
Padahal baru sehari kemarin, sudah ada dua insiden yang terjadi. Tapi lagi-lagi mereka harus datang untuk menyelidiki kasus yang baru.
"Sepertinya sekolah ini harus mendapatkan peringatan dari komite pendidikan. Sudah 10 kasus tercatat dalam suatu minggu. Bukankah sebaiknya anak-anak di liburkan dulu?" ucap seorang polisi sambil mencatat beberapa barang rincian tentang kasus ini di sebuah buku kecil yang dia pegang.
"Seharusnya begitu. Mereka pasti kaget karena kasus yang terjadi akhir-akhir ini, kan? Percuma memaksakan belajar jika mental mereka terganggu. Itu akan membuat mereka mengalami trauma yang buruk," sahut polisi yang lain.
"Hahhhh ... kamu baik-baik saja?" tanya Rinna, menatap wajah Arta dan Atha yang terlihat terkejut.
Arta mendongak dan menatap arti perempuannya yang berdiri di hadapan mereka, dengan tatapan cemas. "Ya, kami baik-baik saja, Rin. Kamu tidak perlu mencemaskan kami," jawabnya.
Rinna menganggukkan kepalanya, menatap ke dalam kamar mandi dengan tatapan lekat.
"Seharusnya mereka tidak berada di jalan sana terlalu lama. Jika tidak, hal buruk pasti akan terjadi,"' gumam Rinna, dapat didengar beberapa orang yang mengelilingi dirinya.
Arta menatap wajah adik perempuannya yang tidak berbohong. Sepertinya dia serius saat mengatakan hal tersebut. Entah apa alasannya, tapi Arta seakan ingin percaya pada setiap perkataannya.
Arta bangkit dari tempatnya, berjalan mendekati kamar mandi dan berbicara dengan beberapa polisi yang ada di dalam sana.
Alamat setelah itu mereka keluar, Arta mengajak mereka meninggalkan tempat itu setelah memasang garis kuning agar anak-anak tidak mendekati setempat tersebut.
Rinna menghela napas lega. Mendekati tempat itu dengan langkah ringan, dan berdiri di depan pintu. Tempat di belakang garis kuning yang dipasang polisi, beberapa saat yang lalu.
Rinna seperti melihat jauh ke dalam sana. Entah apa yang dia lihat, tapi sepertinya bukan hal yang baik. Karena kerutan di wajahnya terlihat sangat meragukan dan penuh pertanyaan.
Sorot matanya yang tajam nan menusuk, membuat Atha yang sedari tadi memperhatikan dirinya, menjadi sedikit penasaran tentang apa yang dipikirkan oleh adik perempuannya itu.
"Seandainya saja aku mampu," gumam Rinna, setelah melihat sosok wanita dengan 8 tangan seperti laba-laba, berdiri di tengah-tengah ruangan itu dengan tangan yang mencekam pintu semua bilik kamar mandi dan wastafel yang ada di seberangnya.
Sosok wanita itu memiliki hawa kegelapan yang benar-benar pekat, sampai orang yang tidak memiliki kepekaan terhadap hal tersebut, kisah merasakan hawa tidak enak yang dikeluarkan oleh makhluk di dalam tanah.
"Rin, jangan dekat-dekat ruangan itu. Ayo kembali ke kelas aja. Sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai, jangan sampai terlambat!" ucap Naufal, membuat gadis itu menoleh padanya dan mengangguk mengerti.
Setelahnya, semua anak yang masih penasaran dengan insiden yang terjadi barisan, memutuskan untuk kembali ke kelas mereka masing-masing dengan ketakutan dan rasa gelisah yang sudah terselip di hati mereka.
***
Pukul 05.00 sore ....
Karena ada insiden buruk hari ini, agenda anak-anak yang mengikuti kegiatan ekschool, yang seharusnya pulang setelah pukul 06.00 petang, dimasukkan satu jam lebih awal agar semua siswa bisa pulang dalam keadaan langit yang masih terang.
Setidaknya itu akan meminimalkan terjadinya kejahatan yang akan menimpa mereka, jika memang ada.
Barulah setelah itu mereka boleh pulang ke rumah masing-masing, seperti para siswa yang lainnya.
Tapi sampai pukul 06.20 sore, Rinna dan Atha dibuat menunggu oleh Arta tidak kunjung keluar cari dalam sekolah. Pada teman-temannya yang lain sudah keluar dari sana, dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Aku akan melihat ke dalam. Kamu di sini saja. Bahaya jika kamu ikut masuk. Biasanya perempuan sering menjadi target sasaran para penjahat," celetuk Atha, memperingatkan Rinna untuk tidak mengikutinya.
Bahkan Atha menimpa sopir mereka untuk mengawasi adik perempuannya ini. Lantas setelah itu, barulah Atha pergi meninggalkan mereka di depan sekolah.
Rinna menyadarkan dirinya di pintu mobil bagian belakang, sambil melipat kedua tangannya di depan dada, kedua mata gadis itu tetap fokus melihat ke arah bangunan bagian dalam.
Tempat di salah satu jendela di lantai 3. Dia melihat Arta berdiri di sana dengan tas yang sudah dia bawa.
"Aku sudah menduga jika dia penasaran," batin Rinna, benar-benar menjadi sosok yang asing akhir-akhir ini.
"Anda berbicara pada saya, Nona?" tanya sopir pribadi mereka, membuat perhatian Rinna berfokus padanya beberapa saat.
"Tidak, Pak. Saya ingin pergi ke kamar mandi sebentar, Pak. Saya akan segera kembali," ucap Rinna, pergi begitu saja setelah itu.
Sopir pribadi mereka langsung ikut keluar, ikut pergi mengikuti langkah Rinna yang masuk kembali ke gedung sekolahnya.
Rinna menoleh pada lelaki itu dengan melemparkan tatapan aneh. "Em, kamar mandinya anaknya ada di depan sana, Pak. Anda tidak perlu mengantar saya. Saya akan segera kembali," ucapnya.
Sopir pribadinya itu hanya tersenyum masam dan mengangguk pelan, lalu berkata, "Baiklah, saya akan menunggu Anda di depan gerbang. Tolong cepat kembali, Tuan Atha tidak akan senang jika melihat Anda tidak ada saat dia sudah kembali," ucapnya, sekedar memberi tahu.
Rinna menganggukkan kepalanya mengerti dan segera pergi meninggalkan lelaki berusia 30 tahunan itu.
Tapi tempat yang dituju oleh Rinna bukankah kamar mandi dasar yang sempat dia tunjukkan kepada sopir taksi pribadi mereka. Melainkan, pergi ke kamar mandi lantai 3, tempat Arta berada saat ini.
"Mau pergi ke mana kau?!" celetuk Atha, menghadang jalan Rinna saat mereka berpapasan di tangga lantai 2.
"Aku tahu di mana Kak Arta. Sekarang kita harus ke sana sebelum terlambat. Kakak juga pasti tahu, dia tipe orang yang disenangi makhluk halus. Jika dia terperangkap, kita tidak akan bisa menemukannya! Bahkan aku tidak bisa masuk ke alam mereka sesukaku," ucap Rinna, melalui tubuh Atha begitu saja dan melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga yang tersisa.
Atha menghela napas kasar dan segera menyusul langkahnya. "Apa yang kamu lihat dari tadi? Tadi kamu juga memperhatikan kamar mandi itu, kan? Apa kamu melihat sesuatu?"
Rinna menoleh padanya beberapa saat dan tersenyum mengejek.
"Padahal semua orang di keluarga kakak adalah indigo. Tapi kakak sendiri yang tidak indigo. Bagaimana rasanya? Sudah merasa di kucilkan? Karena aku yang pendatang ini, buka bisa melihat mereka bahkan berinteraksi! Hahaha, di sekolah kakak sering menindas. tapi di rumah Kakak malah di tindas," celetuk Rinna, sambil terus berjalan, tapi juga tak berhenti menertawakannya.
Atha yang melihat itu hanya menghela napas kasar dan menyugar rambutnya kasar. "Hahh ... jangan membuatku kesal. aku bisa memukulmu lagi!" ucapnya, mengancam.
"Hem? Aku tinggal melepaskan kepalaku lagi, agar kamu ketakutan lagi seperti kemarin. Kau kira aku takut?!" celetuk Rinna, membuat Atha terdiam kaku di tempatnya.
"Kau!!"