My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
25. Sikap Baik



Greb!!


Ningsih memeluk Rinna sangat erat, saat gadis itu baru memasuki kelas, membuat beberapa temannya yang memperhatikan tingkah laku mereka, sampai geleng-geleng kepala.


Rinna balas memeluknya, sambil menepuk-nepuk punggung Ningsih yang berguncang karena menahan tangisnya.


"Ku kira mereka berusaha membawamu lagi. Syukurlah jika sekarang aku bisa melihatmu di sini. Benar-benar syukurlah," ucap Ningsih, mengusap air mata yang hampir jatuh ke permukaan pipinya.


Ningsih tersenyum dan terus memeluknya erat, tidak mendengar sepatah kata pun dari lawan bicaranya.


Ningsih melepaskan pelukannya, menatap apa yang membuat Rinna sama sekali tidak bicara padanya. Dan ternyata, Rinna tidak bicara karena tidak bisa bernapas sebab Ningsih memeluknya terlalu erat.


"Astaga, rindu sih rindu. Tapi jangan membunuh temanmu juga," celetuk Afi, mengejek perilaku Ningsih.


Ningsih menatap kesal ke arahnya dan kembali fokus pada Rinna setelah itu. "Lama tidak bertemu denganmu. Kamu benar-benar sakit parah? Aku dengar dari Arta kalau kamu pergi setelah mendapatkan serangan dari wanita itu. Aku sangat khawatir, bahkan setiap malam aku selalu pergi ke dermaga dengan Naufal dan Kak Azmar. Tapi kamu tidak ada di sana," ucapnya, dengan memamerkan ekspresi sedih.


Rinna tersenyum masam, memperhatikannya dengan tatapan bersalah dan memeluk sahabatnya lagi.


"Tenanglah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang terluka. Jadi jangan mencemaskanku. Lalu, apa masalah kamar mandi di kantin sudah terselesaikan dengan baik? Karena baru saja menginjakkan kaki di sekolah, aku sudah merasakan hawa buruk yang sangat kuat dari dalam gedung pelajar," celetuk Rinna, membuat beberapa temannya menoleh ke arahnya dengan tatapan masam.


"Jangan membicarakan hal sensitif itu di sini. Banyak anak yang diganggu oleh makhluk-makhluk halus akhir-akhir ini. Mungkin saja kamu mengusir penunggu di kamar mandi. Para makhluk kecil yang tadinya tidak pernah datang ke sini, karena penunggu di kamar mandi itu sangat kuat, setelah menunggu itu pergi, mereka malah berdatangan hilir berganti dan membuat kehebohan anak-anak," bisik Ningsih, memberitahukan berita terkini.


Rinna yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti, dan berjalan kembali ke bangkunya. Duduk di tempat itu dengan tenang sambil terus memperhatikan teman-temannya yang mulai merasa risik, karena dia baru saja menyinggung pernyataan sensitif tanpa sengaja.


"Hem, sepertinya teman-temanmu sangat takut dengan para pmakhluk itu. Apa kamu ingin aku mengusirnya?" tanya Mariel, tiba-tiba muncul di samping meja Rinna, sambil menatap sekelilingnya dengan saksama.


"Hem, kamu bisa mengusir setan sebanyak ini? Bahkan melihat yang di dalam kelas saja aku sudah merinding. Tapi mereka lebih banyak yang tidak memiliki kepala daripada bagian tubuh yang lain, ya? Sebenarnya kenapa seperti itu? Memang zaman dulu, hukuman yang sering memenggal kepala orang sangat sering terjadi?" tanya Rinna, lewat kemampuan telekomunikasinya.


Mariel hanya menggidikkan bahunya tak tahu dan berjalan pergi ke arah depan kelas, menatap hampir 10 setan tanpa kepala, dua setan bertubuh besar yang kepalanya menjulang sampai ke atap kelas dan 4 setan yang dibungkus seperti lontong, berdiri di setiap pondok kelas yang memiliki sisi gelap.


"Hem, padahal sekolah ini benar-benar bersih. Tapi kenapa makhluk seperti mereka sangat senang menghuni tempat-tempat ini? Masih menjadi pertanyaan untukku, tapi lebih baik aku mengusir mereka saja. Biarlah mereka mengungsi ke rumah warga. Daripada mengganggu belajar anak-anak, lebih baik mengganggu para orang tuanya yang ada di rumah saja, kan?" pekik Mariel, meramalkan sebuah mantra dan membuat para setan itu keluar dari tempat itu dengan cepat.


Belum sampai 10 menit, ruangan kelas yang tadinya terlihat suram kini tiba-tiba terasa berbeda. Bahkan anak-anak yang tadinya terlihat tertekan, kini sudah berubah menjadi sedikit lebih senang.


"Hem? Hawanya langsung berubah, apa karena di ruangan kita dipasang pewangi dan tadi pagi dibersihkan sampai di pel? Mangkanya para makhluk halus itu pergi??" celetuk seorang anak lelaki dengan kacamata bundar, yang diketahui adalah ketua kelas mereka.


"Hahaha, lihatlah teman-teman kamu yang polos itu. Mereka menganggap bersih-bersih itu bisa mengusir mereka? Hahaha, konyol sekali," pekik Mariel, menertawakan teman-teman Rinna yang tampak bahagia karena hal kecil.


Tapi kedua mata Mariel segera tertuju kepada Rinna dengan tatapan fokus. Karena gadis itu ikut tersenyum saat teman-temannya bahagia, Mariel jadi lebih merasa jika Rinna sanggatlah cocok hidup sebagai manusia daripada bangsanya.


"Memang berbeda. Dia benar-benar mirip seperti Ibunya," batin Mariel, mengulas senyuman simpul dan memutuskan pergi dari ruangan itu, sebelum dia lebih merasa iri kepada Rinna yang bisa merasakan berbagai macam emosi sebagai manusia.


Rinna menoleh ke arah depan kelas, dia tidak lagi merasakan hawa keberadaan Mariel. Dan benar saja, lelaki itu sudah hilang dari tempatnya dan entah pergi ke mana.


"Rin, nanti kamu mau pergi ke kantin? Sekarang kantin kita lebih bagus. Mungkin karane tempatnya dipindahkan, di gedung yang baru dua hari yang lalu, gedungnya benar-benar sangat bersih dan rapi. Nanti siang kita pergi ke sana sama-sama, ya?!" ajak Ningsih, tampak bersemangat.


Rinna yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya pelan dan mulai merapikan buku-buku untuk pelajaran pertamanya.


Beberapa saat seusai pelajaran terakhir ....


Rinna berjalan keluar kelas bersama dengan Naufal, tapi di depan pintu dia malah melihat sosok Atha yang berdiri dengan memainkan ponsel sambil menyandarkan punggungnya di dinding.


"Itu Kakakmu, sepertinya dia menunggumu. Pergilah, aku akan menghubungimu untuk membahas kerja kelompok kita nanti," ucap Naufal, pergi ke arah berlawanan dari tempat Atha berdiri.


Rinna hanya melambaikan tangannya beberapa saat, sebelum dia pergi mendekat ke arah Atha.


"Apa yang kakak lakukan di sini? Di minta untuk menjemput aku?" tanya Rinna, membuat perhatian Atha buyar seketika.


Atha yang terkecil dengan suara Rinna, sampai dia kalah main game, akhirnya mengumpat tempat depan muka adik perempuannya itu.


"Sialan!" pekik Atha, membuat beberapa orang di sekitar mereka langsung spontan menghentikan langkah, dan memperhatikan keduanya dengan tatapan terkejut.


Sementara Rinna yang mendapat perlakuan itu hanya diam, kaget, dan membuat kakak lelakinya, menepuk keningnya ampun.


"Astaga, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengumpat padamu! Aku hanya kalah main game karena tiba-tiba kamu muncul dan suaramu mengangetkanku. Hahhh, pokoknya maafkan aku. Sekarang kita pergi? Arta sudah menunggu kita di mobil. Dia minta aku jemput kamu dulu sebelum turun. Kita turun bersama!" ucap Atha, mengajak Rinna untuk berjalan keluar sekolah bersama-sama.


Rinna tidak menolaknya. Walaupun dia tidak pernah terbiasa dengan sikap baik Atha kepadanya.