My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
16. Hanya Mimpi



"A-apa yang akan kau lakukan?!" teriak Atha, menatap dengan wajah pucat.


Tangan Rinna terulur ke arah bahu Atha, mendorong lelaki itu dengan kuat dan membuatnya terjun bebas.


"Hihihi, selamat tidur, Kakakku!"


BRAK!


***


Aahhh ....


Suara jeritan Atha terdengar cukup nyaring, membuat dua lelaki yang tidur satu kamar dengannya terkejut dan langsung bangun dari tidurnya.


Keduanya melihat Atha duduk di atas ranjang dengan wajah yang sudah pucat. Entah apa yang di mimpikan lelaki itu, tapi keadaannya sangat tidak baik saat terbangun.


"Ada apa?" tanya Ezra, bangkit dari sofa yang menjadi tempatnya tidur dan mendekati putra keduanya.


Sementara Arta mengambil sebuah gelas yang ada di atas meja kecil, di samping ranjangnya, mengisi benda itu dengan air dan memberikannya pada Atha.


"Minumlah, kamu sampai berkeringat dingin seperti itu. Apa yang kamu mimpikan?" tanya Arta, menatap aneh wajah adiknya yang baru pertama kali dia lihat.


Atha bukan anak yang penakut karena dia memiliki gangguan mental. Tapi melihat ekspresi wajah Atha yang seperti ini, ditambah dengan wajahnya yang pucat pasi, tampaknya hal yang muncul di mimpi lelaki itu, benar-benar mengerikan.


Atha hanya terus bungkam, tidak berani menceritakan apa yang baru saja dia lihat sampai membuatnya bergidik merinding seperti ini.


Arta dan Ezra hanya bisa saling memandang dan tidak memaksa lelaki itu untuk menceritakan apa yang terjadi, dan berusaha untuk menenangkan.


Klek ....


"Kakak, bisakah aku mau minta tolong sesuatu?" tanya Rinna, mengintip masuk ke dalam kamar Arta dan membuat Atha tercengang saat melihatnya.


Tubuh Atha semakin gemetar, dia benar-benar ketakutan saat melihat Rinna yang berdiri di depan pintu dengan sengaja.


"Apa yang kamu butuhkan, Rin? Biar Ayah yang membantu kamu, Kakakmu baru saja bangun setelah mengalami mimpi buruk. Ayah harap kamu mau mengerti," ucap Ezra, menatap wajah polos Rinna yang hanya mengangguk kecil sebagai responsnya.


Tapi berbeda dengan Atha, yang melihat gadis itu tersenyum seakan menertawakan dirinya.


Wajah Atha yang ketakutan itu memang hangat menghibur, sampai-sampai Rinna tidak bisa jika tidak menertawakannya.


Arta menaikkan sebelah alisnya, menatap adik perempuannya yang mengeluarkan ekspresi janggal dengan tatapan binung. "Apa yang kamu lakukan, Rin?!" tanyanya, menyela perhatian Rinna.


Rinna segera menoleh ke arahnya, mengulas senyuman masam sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Kak. Aku hanya kasihan melihat Kak Atha yang terlihat pucat. Apakah dia sakit?!" tanyanya, ambil mengulas senyum mencurigakan.


Tapi yang mengetahui hal itu hanya kedua saudara lelakinya tanpa Ezra bisa melihat ekspresi wajah anak perempuannya.


Karena di mata Ezra, ekspresi wajah Rinna saat ini hanya menunjukkan simpati pada anak keduanya, Atha. Tanpa diketahui jika gadis itu sedang tersenyum culas pada lawannya.


Atha menelan ludahnya kasar. Dia yakin belum pernah satu pada apa pun, tapi kenapa melihat saudara adopsinya itu, dia sampai gemetaran? Ada yang aneh di dunia.


Arta menggenggam tangan Atha dengan erat, membuat adik lelakinya itu menoleh padanya.


"Kenapa kamu takut pada, Rinna? Dia hanya manusia sekarang. Tidak ada yang perlu kamu takut, kan?!" celetuk Arta, masakan mengerti apa yang membuat Atha sampai gemetaran.


"Kenapa semua orang tampak aneh? Mereka mau melakukan prank padaku?" batin Atha, menundukkan kepalanya dalam dan menatap kedua tangannya yang sudah menyatu di atas paha dan menunjukkan gelagat gelisah.


Tak lama kemudian dia mendengar suara pintu terbuka, tapi suara yang dia dengar kali ini benar-benar menyeramkan.


Seperti suara pintu kayu lama, yang dibuka dengan perlahan-lahan sembari seseorang muncul dari balik sana.


"Atha!"


Orang makhluk tanpa kepala, lagi-lagi muncul di hadapannya dan membuat Atha takut setengah mati.


Atha yang melihat makhluk itu berjalan mendekat dengan menggenggam sebuah kepala yang memiliki rambut panjang, bahkan panjangnya sampai menjuntai menyapu tanah, akhirnya hanya terdiam kaku dan menahan segala rasa takutnya.


Dia sangat ingin berteriak, tapi di saat bersamaan bibirnya terasa kalu. Dia tak bisa mengeluarkan suara ataupun bergerak untuk melarikan diri. Tubuhnya tidak ingin putus kepada perintahnya.


"Apa yang harus aku lakukan?! Siapa pun, tolong aku!!"


"Kak ... Kak Atha, woi! Sejak kapan kamu tidur di sini?! Cepat bangun!!" seru Rinna, setengah berteriak sambil mengguncang tubuh kakak keduanya, yang terlalu di samping ranjang dengan wajah gelisah dalam tidurnya.


Untuk kedua kalinya Atha membuka mata dan mengalami mimpi yang mengerikan. Bahkan mimpi itu terasa sangat nyata sampai dia tidak bisa membedakan apa ini mimpi atau sudah kenyataan?!


Atha bangkit dari tempat duduknya, menatap Rinna yang terlihat cemas dan khawatir dengan pandangan tulus, dengan tatapan takut.


"S-siapa kau?!" pekik Atha, mengambil pisau buah dan mengacungkan sisi tajamnya pada Rinna.


Rinna menatapnya dengan aneh. Dia yang juga baru bangun dari tidur, dan mendapatkan perilaku absurd seperti itu, hanya bisa mengurutkan keningnya dalam dan menatap Atha dengan tatapan aneh.


Rinna meraih tangan lelaki itu, mencubit punggung tangannya dengan kuat, sambil berkata, "Sadarlah! Ini sudah kembali ke realita. Kamu mimpi apa sih, sampai membuat ekspresi seperti itu?! Jangan membuatku merasa jadi jahat, padahal aku juga baru bangun tidur!" celetuknya, sambil mulai merapikan rambutnya dengan cara menguncirnya.


Atha yang baru merasakan rasa sakit itu, akhirnya terduduk lemas di tempat duduk sebelumnya panggil menatap pada Rinna yang tidak terlihat mencurigakan.


"Apa yang berulang kali aku lihat di mimpi?! Wajah kalian benar-benar menyeramkan," celetuk Atha, menghela napas panjang dan mengambil satu botol minum di atas meja kecil, samping ranjang Rinna dan menegaknya hingga tandas.


Rinna menggelengkan kepalanya pelan dan menatap wajah pucat Atha yang tampak nyata, dengan tatapan cemas.


"Apa yang kamu lihat? Hantu tanpa kepala?!" celetuk Rinna, hampir membuat Atha, tersedak air minumnya.


Atha menyeka air yang sempat keluar dari mulutnya, dan membasahi dagu. "Bagaimana kamu tahu? Jangan-jangan kamu-"


"Jangan memikirkan hal yang macam-macam. Kamu sedang ada di rumah sakit, tempat orang-orang meninggal dan menutup usianya. Belajar jika kamu menemukan bentuk yang aneh-aneh di sini. Sama seperti aku di rumah, aku juga sering melihat hantu seperti itu. Apalagi di kamarku sangat banyak," celetuk Rinna, tampak sampai dengan menyesap teh hangat yang sudah tersedia di atas nakas.


"Hantu kepala juga? Perempuan??" tanya Atha, menaikkan sebelah alisnya, menatap adik perempuan yang dengan tatapan menanti.


"Kenapa? Kakak mau coba lihat lagi? Nanti saat pulang, cobalah tidur di kamarku. Dia pasti akan keluar untuk menemuimu," celetuk Rinna, di sambut dengan gidikkan merinding dari Atha.


"Jangan mengatakan hal yang mengerikan lagi! Aku tidak mau mendengarnya. Sudah cukup trauma dengan darah, jangan sampai aku bisa melihat hal-hal seperti itu," celetuk Atha, menggelengkan kepalanya ampun


Rinna diam beberapa saat, menatap ekspresi wajah Atha yang beragam dengan tatapan bingung.


"Padahal kakak tidak pandai berekspresi, setidaknya itu menurutku! Tapi sekarang aku melihat kamu banyak menunjukkan ekspresi. Ada apa ini? Belum selesai dibuat bingung dengan ekspresi wajahmu, sekarang kamu mengatakan, kamu takut darah? Apa itu masuk akal??" celetuk Rinna, menatap aneh pada lawan bicaranya.


"Memang aku seaneh itu??" tanya Atha, kembali menunjukkan ekspresi lain, yang tidak pernah dilihat oleh Rinna sebelumnya.