
"Kita sudah sampai. Kalian masuklah, biar saya yang salahkan barang-barang kalian ke dalam," ucap Pak Thomas, membuat ketiga remaja yang tadinya tidur, kini bangun dan berjalan keluar setelah mendengar interupsi darinya.
Rinna berjalan lebih dulu memasuki rumah dan bertemu dengan Maya di depan pintu.
Arta dan Atha berdiri satu langkah di belakang gadis itu, melihat apa yang dilakukan oleh ibu mereka, dengan tatapan tidak fokus. Karena ketiga anak remaja itu sedang mengantuk, jadi mereka tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi pada Maya, sampai dia harus menghalangi jalan mereka.
"Ma, kami mengantuk. Bisakah memberi kami jalan? Mata kami tidak bisa_"
Akhhhhh!!!
Rinna tiba-tiba berteriak sangat keras, membuat kedua saudara lelakinya terpaksa untuk sadar dan melihat apa yang terjadi di depan mereka.
Wajah Rinna mengeluarkan sebuah asad setelah Maya menyeramkan ramuan ke wajah gadis muda itu.
Tak lama setelahnya, Maya mengeluarkan sebuah kris dari balik punggungnya dan menancapkan benda itu ke perut Rinna.
Arta dan Atha yang hendak melindunginya, mengambil satu langkah lebih lambat dari pergerakan Maya dan membuat mereka terlambat menyelamatkannya.
Arta yang beberapa saat yang lalu, baru saja membuat janji dengan gadis itu untuk melindunginya, dan kini malah melihatnya terluka di depan kedua matanya sendiri, langsung merasa syok dan marah di saat persamaan.
AKKHHHHH!!!
Teriakan Rinna sangat nyaring, membuat ketiga telinga orang yang ada di hadapannya terasa sakit sampai berdenging.
Rinna mencabut benda yang membuat kedua bola matanya berubah menjadi merah darah itu, dari tubuhnya dan membuangnya sembarangan.
Setelah itu Rinna menghilang dalam seketika dan membuat Maya, Atha dan Arta kebingungan, mencari keberadaannya di sekitar mereka.
"Sebenarnya apa yang sudah Mama lakukan padanya?! Kenapa bersikap kejam pada anak yang Mama adopsi sendiri?!" marah Arta, benar-benar tampak marah.
Tapi Maya hanya tertawa terbahak-bahak dengan suara yang lantang, sambil berteriak jika dia sudah terbebas dan menang.
Kedua anak lelakinya, yang melihat sosok sang ibu seperti itu, hanya bisa menatap syok dengan ekspresi wajah yang benar-benar tampak kebingungan.
"Di-dia sudah gila?" batin Atha dan Arta, mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dari wanita itu.
"Kenapa kalian menghalangi pintu? Jika ingin masuk ke rumah, masuk saja. Kenapa harus berdiri di situ?!" celetuk Ezra yang baru saja pulang dari kantor dengan wajah yang tampak lelah.
Tapi salah lagi berusia hampir separuh baya itu mendengar suara tawa istrinya yang menggelegar dan memperhatikan kedua ekspresi wajah anaknya yang sampah ketakutan, dan lebih dominan terkejut, dia lampu masuk rumah dan melihat apa yang dilakukan Maya di sana.
"Apa yang terjadi pada dia? Kenapa dia seperti ini?! Mbok!! Kenapa Nyonya di biarkan keluar dari kamar di hari kamis?! Sudah saya bilang jika dia tidak boleh keluar dari kamarnya saat hari ini, kan?!" teriak Ezra, membuat pembantu mereka berlari keluar dengan terburu-buru dan memamerkan wajah bersalahnya.
"Ma-maaf kan saya, Tuan. Tadi saya pulang terlambat dari pasar, soal saya ingin mengunci pintu kamar Nyonya, beliau sudah tidak ada di kamarnya. Saya sudah melaporkannya ke polisi, mereka juga sedang mencarinya. Jadi sekarang saya baru tahu kalau dia pulang, sungguh maafkan saya Nyonya," ucap wanita berusia 60 tahun itu, sambil terus menunjukkan kepalanya bersalah.
Ezra mengusap rambutnya kasar, menarik tangan istrinya dan membawanya ke lantai 2.
Setelah itu dia kembali turun ke lantai satu untuk menemui kedua putranya, yang masih terlihat syok sampai tidak berani berkutik dari tempatnya.
"Kalian baik-baik saja? Maaf, Ayah tidak pernah memberitahukan keadaan Mama kalian sebenarnya, karena takut kalian berdua merespons seperti sekarang. Ayah benar-benar tidak bermaksud buruk, sungguh maafkan Ayah!" ucap Ezra, segera memeluk kedua putranya dan menepuk-nepuk punggung kedua putranya, berusaha untuk menenangkan mereka.
Arta dan Atha hanya diam dan balas memeluk Ayahnya dengan erat. Memang benar, sosok Maya yang seperti tadi membuat keduanya benar-benar syok.
"Di mana Rinna?" tanya Ezra, membuat kedua lelaki itu segera tersadar jika adik perempuannya sudah tidak ada disana.
"Mama melakukan sesuatu padanya dan membuat Rinna menghilang." Arta mendongak, menatap sang ayah dengan tatapan penuh harap. "Tolong cari dia, Ayah. Dia masih terlalu kecil untuk diperlakukan kejam seperti itu. Bisakah ayah mengabulkan permintaanku?!"
Ezra mengurutkan keningnya samar, segera mengajukan kepalanya dan kembali memeluk kedua putranya.
"Ya, Ayah akan melakukan apa pun untuk menemukannya. Jangan khawatir. Ayah pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk segera menemukan ya," ucap Ezra, mendekap kedua putranya erat-erat.
***
Srak!
Rinna tiba-tiba sampai di sebuah hutan berkabu, dia bersandar di sebuah pohon dengan napas yang sudah tidak teratur.
"Putriku pulang," ucap seorang lelaki berjubah hitam, berjalan mendekat ke arahnya dan berjongkok di depan Rinna.
Rinna tidak bisa melihat dengan jelas rupa lelaki itu. Dia hanya bisa melihatnya dengan sosok besar yang mengenakan pakaian serba hitam, karena saat ini penglihatannya sedang buram.
Tangan lelaki itu mengusap lembut bagian pipi kiri Rinna yang perlahan-lahan menjadi abu disertai kumpulan asap yang terus muncul dari luka tempat air yang di siramkan Maya tadi.
"Siapa yang melakukan hal keji seperti ini pada putriku? Padahal hanya kamu satu-satunya keturunan kami, yang tidak pernah memangsa manusia. Tapi kamu malah terluka oleh mereka? Setelah lama menjaga ketenteraman dan kedamaian dalam mereka?"
Suara lelaki itu terdengar mengejek, tapi tidak sekalipun dia pernah terdengar menertawakan Rinna.
Rinna hanya bisa mendengar setiap kalimatnya tanpa membalas. Tubuhnya semakin lemah seiring berjalannya waktu, dan lukanya terasa benar-benar sakit seperti terbakar.
Perlahan-lahan kesadaran Rinna mulai lumpuh, dia tak bisa lagi mendengar suara lelaki itu dengan jelas. Bahkan kedua matanya sudah tidak bisa melihat, hanya kegelapan abadi yang bisa dilihat saat ini.
"Hem, tidurlah dulu. Sekarang aku akan membawamu pulang, Nak. Ibu dan kakak lelakimu sudah sangat merindukanmu," ucap lelaki itu, bangkit dari tempatnya sambil membawa Rinna di dalam dekapannya.
Lelaki berjubah hitam dengan jenggot putih panjang itu, membawa tubuh Rinna yang nyaris mati pulang ke dalam hutan, rumah kau mereka berada.
"Padahal tadinya aku ingin turun ke bumi untuk mencarimu. Tapi kamu malah datang ke perbatasan wilayah kita dan memudahkanku menemukanmu. Terima kasih, Nak! Pantas dari kemarin Ibumu terus gelisah dan memintaku mencarimu, ternyata para manusia biadab itu sudah mencelakai putri kecilku!"
Kedua manik mata lelaki itu bar kilat marah, rona wajahnya yang sudah terlihat tidak baik saat baru pertama kali menemukan Rinna, kini bertambah parah dengan kerutan di keningnya. "Ayah pasti akan membalaskan rasa sakitmu, anakku!"