My Twin Brother's Ghost

My Twin Brother's Ghost
26. Tuntutan



"Bagaimana keadaan adik perempuan saya, Dok? Apa dia baik-baik saja? Terakhir kali dia terluka, tapi setelah 1 minggu dia menghilang. Baru kemarin dia pulang, dan berkata pada kami kalau dia baik-baik saja," tanya Arta, menatap wajah Dokter Byan yang masih melihat hasil pemeriksaan Rinna.


"Tidak ada masalah serius, Tuan Arta. Sepertinya nona sudah merawat tubuhnya dengan baik. Hanya beberapa luka yang tidak bisa hilang dengan mudah, tapi setelah satu bulan menggunakan saleb, kemungkinan bekas lukanya akan hilang. Nanti saya akan memberikan resepnya," ucap Dokter Byan, dengan ramah.


Arta menghela napas lega, menoleh pada Ezra yang juga terlihat lega saat mendengar penjelasan dokter.


"Baik, terima kasih atas kerja kerasnya, Dok. Kalau begitu kami permisi," ucap Arta, bangkit dari tempat duduknya.


Lalu lelaki itu keluar dan menemui dua orang remaja, yang terus menunggu mereka di depan ruangan, terbaru dengan para pengunjung rumah sakit yang lain.


"Sudah selesai? Kita bisa pergi sekarang? Aku masih ada tugas kelompok jam 05.00 sore, jadi kalau kamu dan Rinna masih ingin pergi keluar, aku akan pulang dulu. Karena teman-temanku akan kerja kelompok di rumah kita hari ini," jelas Atha, tak melepaskan pandangannya dari ponsel.


"Bareng saja. Kami juga langsung pulang, aku juga masih ada beberapa kerjaan OSIS yang harus segera aku selesaikan. Minggu depan aku harus memberikan proposal ini kepada kepala sekolah," ucap Arta, menimpali.


Sementara Rinna yang dari tadi hanya diam dan memperhatikan kedua kakak lelakinya berinteraksi, akhirnya menatap seorang lelaki yang berjalan mendekat ke arahnya dengan senyuman lembut.


"Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu sakit lagi?" ucap Faiz, menatap wajah adik perempuan dari panti asuhannya itu, dengan tatapan khawatir.


Rinna menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Arta dan Atha secara bergantian. "Karena kalian berdua terlihat sibuk, boleh aku pergi dengan Kak Faiz ke panti asuhan saja? Di rumah aku tidak ada teman, dan kalian juga tidak bisa menemani. Jadi, boleh aku main?? Aku akan pulang sebelum jam 09.00 malam," ucapnya, setengah memohon.


Atha menghela napas panjang dan menatap lelaki bernama Faiz itu, tari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Tolong antarkan dia pulang nanti, kamu bisa melakukannya?" tanya Atha, pada Faiz dengan nada yang tidak sopan.


Faiz yang merupakan anak satu angkatan dengan kedua kakak lelaki Rinna, hanya menunjukkan sikap dingin dan mengangguk sekali untuk menjawab pertanyaan Atha.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Kalau begitu kamu di berdua pulang dulu, sampai jumpa. Tolong jaga adik perempuanku, Faiz," ucap Arta, berpesan dengan cara yang sopan.


"Tidak masalah," ucap Faiz, menatap kepergian kedua teman lelakinya itu, bersama dengan Rinna.


Setelah memastikan si kembar pergi meninggalkan mereka, tiba-tiba wujud Faiz berubah secara drastis dan kini dia tidak lagi bisa di lihat oleh orang-orang di sekitarnya.


"Hahh, padahal aku hanya ingin membawa adik perempuanku pulang, tapi bisa-bisanya aku malah menyamar untuk melakukannya. Padahal aku kakak kandungnya," pekik Mariel, menatap kesal punggung si kembar yang berjalan menjauh dari mereka.


"Hem, biarlah. Itu kan karena ulah kalian sendiri. Karena sudah menganggapku sebagai produk gagal, dan membuangku ke dunia manusia. Sekarang jangan mengeluhkan apa pun," celetuk Rinna, menghela napas panjang dan beri jalan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Mariel segera mengikuti langkah adik perempuannya dan ikut pergi meninggalkan tempat tersebut.


Mereka menggunakan kemampuan teleportasi untuk berpindah tempat. Berpindah dari alam manusia ke tempat hutan kabut, tempat pertama kali Rinna bertemu dengan keluarganya.


"Kau yakin akan membaca buku sebanyak itu dalam suatu hari? Aku tidak percaya jika kamu bisa menyelesaikannya. Karena kami masih menganggapmu sebagai produk gagal, kami juga tetap melihatmu sebagai makhluk bodoh. Lalu bagaimana bisa kamu akan membaca buku-buku di perpustakaan dalam waktu 1 hari??" tanya Mariel, terus mengikuti langkah Rinna menyusuri jalan setapak, agar mereka sampai di kastel besar tempat Rinna dirawat terakhir kali.


"Aku memang tidak sepintar kalian. Tapi aku dikenal sebagai orang yang cukup pintar di dunia manusia. Dan aku suka membaca, jadi kamu tidak perlu khawatir kalau aku tidak bisa menyelesaikannya. Walaupun tidak bisa menyelesaikannya hari ini, aku tetap akan menyelesaikannya paling lambat 3 hari. Toh, aku rasa kamu juga tidak akan percaya jika aku berkata seperti itu," celetuk Rinna, menatap tak acuh pada kelakar mencurigakan Mariel.


Baru sampai di depan gerbang kastel besar itu, dua penjaga gerbang depan langsung menundukkan kepalanya, begitu mereka melihat Mariel kembali bersama seorang wanita yang belum pernah mereka lihat.


"Selamat datang, Prince. Jika kami boleh tahu, siapa wanita ini? Agar saat Lord bertanya pada kami, kami bisa menghindari marahnya dan menjawabnya dengan benar," ucap seseorang penjaga, di antara keduanya, dengan cara yang sangat sopan.


Mariel melirik ke arah Rinna beberapa saat dan mengatakan jika dia adalah putri bungsu dari keluarga kerajaan ini.


"Dia? Kau tidak mengenalnya? Bahkan hawa keberadaannya saja mirip dengan Queen, tapi kalian masih mempertanyakan siapa dirinya??" pekik Mariel, membuat kedua penjaga itu langsung berlutut dan memohon ampun kepada Rinna.


"Mohon maafkan kami, Tuan putri. Kami tidak tahu kalau ada sudah kembali. Tidak ada berita yang menyebar di kalangan para pelayan ataupun penjaga, jadi kami benar-benar tidak tahu itu kalau Anda sudah kembali. Mohon ampuni kami," ucap kedua penjaga itu, bersujud di dekat kaki Rinna.


Rinna yang sudah terlalu hidup sebagai manusia, dan saat mendapatkan perlakuan seperti itu, terlihat sangat kebingungan harus merespons bagaimana. Dia juga merasa tidak sopan karena kedua lelaki yang sedang bersujud di depannya saat ini, terlihat lebih tua berkali-kali lipat dari umurnya.


"A-ah, Anda jangan membuat saya terlihat tidak sopan. Saya tidak terbiasa diperlakukan seperti ini. Bangunlah, saya tidak keberatan walaupun kalian tidak mengenaliku. Itu bukan hal besar," ucap Rinna, segera meminta kedua lelaki itu untuk bangkit dari posisinya.


Mariel mencondongkan wajahnya mendekati telinga Rinna, lalu lelaki itu berbisik. "Kau tidak berada di dunia manusia. Sikap lemah lembut seperti itu, malah membuatmu terlihat seperti gadis lemah dan bisa saja membuat para musuhmu menganggapmu remeh. Tunjukkanlah sikap yang tegas! Kau ini putri kerajaan kami. Jangan bersikap terlalu lembek pada bawahan!" sergahnya, menasihati tapi seperti memperingati dan mengancam Rinna di saat bersamaan.


Rinna yang mendengar hal itu hanya diam, menatap wajah Mariel yang tidak sedang bercanda atau berusaha untuk menakut-takutinya saja.


"Hahhh ... baiklah aku mengerti, Kak!" jawab Rinna, berusaha menyesuaikan diri.