
Klek ....
Kini sudah pukul 12.00 malam, tapi setelah seminggu tidak pulang tiba-tiba Rinna memasuki rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Rinna langsung mengambil sikap tidur di atas ranjang, dan membuat Arta yang tidak sengaja melihatnya masuk ke kamar, langsung membuka kabarnya dan melihat ada perempuannya sudah tertidur lelap di atas tempat tidurnya.
"Rin, apakah itu benar kamu?" tanya Arta, sambil berjalan memasuki kamar tersebut dengan langkah perlahan-lahan.
Rinna yang dipanggil oleh kakak pertamanya, langsung membuka mata dan duduk di atas ranjang dengan menatap kehadiran Arta, dengan lekat.
"Kakak belum tidur? Padahal aku sudah tidak membuat suara, tapi kamu masih terbangun. Maafkan aku," ucap Rinna, membuat lelaki itu membeku di tempatnya beberapa saat.
Arta menahan langkahnya, membuat Rinna memiringkan kepalanya, menatap wajahnya dengan tatapan bingung.
"Ada masalah?" tanya Rinna, bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati Arta, berdiri di depan lelaki itu dengan menatapnya dekat.
Tangan kanan Arta mengusap pelan pipi adik perempuannya, membuat Rinna memperhatikan pergerakan tangan itu dengan saksama.
Tak lama kemudian gadis itu tersenyum, menggenggam tangan Arta erat dan memejamkan matanya sambil tersenyum kian melebar. "Aku baik-baik saja, Kak. Tidak ada yang perlu ke mencemaskan, aku sudah sembuh kok."
Arta menggigit bibir bagian bawahnya, segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.
Arta menghirup dalam aroma tubuh Rinna tanpa sengaja, membuat Rinna terdiam dengan posisi kaku.
"Ha, kamu hanya diam diperlakukan seperti itu? Yang benar saja, bahkan aku belum pernah melakukan itu padamu. Tapi dia sudah melakukannya duluan? Ayah pasti marah saat mendengar aku melaporkan berita ini," celetuk seorang lelaki, yang bersembunyi di balik kegelapan kamar Rinna.
Tapi Rinna yang mendengar itu hanya diam dan balas memeluk kakak pertamanya, membiarkan lelaki itu mengumbar rindu kepadanya.
Sesekali Rinna menepuk-nepuk punggung Arta yang dibuat hampir menangis karena melihat adik perempuannya kembali dengan selamat.
"Besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Tidak ada alasan! Aku harus tetap memastikan kamu baik-baik saja. Biarkan dokter memeriksamu dulu, kamu mengerti? Besok setelah pulang sekolah langsung temui aku di gerbang sekolah. Jangan sampai terlambat," celetuk Arta, setengah memperingatinya.
Rinna hanya mengangguk pelan dan melepaskan pelukan mereka. "Aku mengerti. Sekarang keluarlah, aku ingin istirahat, Kak!"
Arta mengangguk mengerti dan berjalan keluar dari kamar gadis tersebut. "Selamat malam," ucapnya.
Klap ....
Arta benar-benar keluar dari kamar tersebut, lantas lelaki yang dari tadi bersembunyi di balik kegelapan, keluar dan menghampiri adik perempuannya.
"Jadi itu anak yang terkenal kutukanmu? Anak kecil yang pernah mencabut rambutmu itu?" tanya Mariel, menatap Rinna yang terlihat kesal saat memandangnya.
Bahkan kedua manik mata gadis itu sudah berubah menjadi merah, seperti warna Daniela.
"Jangan membuat ulah dengannya. Aku sudah peringatkan kamu. Mangkanya aku tetap membolehkan kamu berada di sisiku. Tepati janjimu, Mariel! Aku tidak terlalu suka orang yang ingkar janji," celetuknya, menatap tajam ke arah lelaki itu.
Mariel yang mendengar ancaman adik perempuannya hanya menggidikkan bahunya acuh dan beranjak duduk di salah satu sofa single yang ada di kamar Rinna.
Rinna pun beranjak naik ke atas empat tidurnya dan terlelap dengan mudah.
Keesokan paginya ....
Rinna bangun cukup terlambat sampai membuat Arta harus membangunkan yang lebih dulu baru dia bangun.
Setelah 30 menit bersiap untuk berangkat sekolah, dia turun ke lantai satu untuk sarapan terlebih dahulu bersama dengan keluarganya.
Ezra dan Atha yang melihat sosoknya, benar-benar tidak percaya jika yang mereka lihat saat ini adalah Rinna. Gadis yang sudah hilang selama satu minggu.
"Kau baik-baik saja, Nak? Ayah sudah mencarimu ke berbagai tempat, bahkan meminta kolega Ayah membantu untuk menemukanmu di kota sekitar. Siapa tahu kamu diculik atau di bawah lari seseorang sampai keluar kota. Tapi syukurlah kamu baik-baik saja sekarang," ucap Ezra, sambil menatap Rinna yang duduk di bangkunya dengan senyuman lebar.
"Ya, Ayah. Aku baik-baik saja. Tidak perlu cemas, ada orang-orang baik yang menolongku. Tapi mereka tidak ingin aku menyebutkan identitas mereka. Maaf," ucap Rinna, mengulas senyuman masam.
"Begitukah? Baiklah kalau begitu, kamu boleh sarapan dan segeralah berangkat sekolah dengan kedua kakakmu. Jika terjadi sesuatu yang buruk, atau kamu merasa sakit saat di sekolah, segera hubungi Ayah agar Ayah bisa menjemputmu. Kamu mengerti?" tanya Ezra, menatap gadis itu dengan tatapan berharap.
Rinna segera menganggukkan kepalanya mengerti dan menatap sekeliling. Mencari keberadaan Maya yang tidak dia lihat sepanjang hari, dari kemarin ataupun pagi ini.
"Em, ke mana Mama pergi? Dia tidak ikut sarapan dengan kita?" tanya Rinna, menunjukkan ekspresi polos.
Ezra, Atha dan Arta yang mendengar pertanyaan itu langsung saling pandang, satu sama lain. Tapi ekspresi wajah mereka saat ini benar-benar buruk. Terlihat seperti mereka yang sedang berusaha membuat alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Rinna.
"Mama tidak bisa ikut sarapan dengan kita untuk sementara waktu. Dia sakit keras, jadi kamu tidak akan bertemu dengannya. Kamu khawatir karena Mama akan menyakitimu lagi?" tanya Arta, dengan menunjukkan ekspresi cemas.
Rinna mengulas senyuman masam dan tidak menjawab. Melainkan menundukkan kepalanya dan mulai menyantap sarapannya. "Selamat makan," cicitnya, seakan sengaja melakukan hal itu.
Arta yang melihat bagaimana ekspresi Rinna, hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menatap Atha dan Ayahnya dengan tatapan murka.
"Tenanglah, jangan membuat adik perempuanku terganggu karena emosimu," bisik Ezra, berusaha menenangkan Arta.
Arta menghela napas kasar dan segera menghabiskan sarapannya. Sementara Atha yang dari tadi hanya diam, terus memperhatikan ekspresi wajah Rinna yang mengundang banyak kecurigaannya.
"Aku yakin dia tidak baik-baik saja setelah mendapatkan luka itu. Tapi jika melihatnya saat ini, aku sangat yakin dia bukanlah makhluk sembarangan. Bahkan Arta yang menjadi inang untuk makhluk abadi sekalipun, masih bisa merasakan rasa sakit tiap kali bulan purnama muncul. Jadi tidak mungkin Rinna baik-baik saja setelah mendapatkan luka seperti itu, kan?" batin Atha, terus memperhatikan adik perempuannya diam-diam.
Lantas di belakang Atha, sudah berdiri Mariel yang terus memperhatikannya dengan ekspresi wajah dingin yang terkesan tidak senang.
Akan tetapi, Rinna yang melihat itu hanya diam dan memperhatikan pergerakan Mariel sesekali. Memastikan jika kakak kandungnya itu, tidak membuat onar di dunia manusia.
"Jangan berbuat macam-macam! Tepati janjimu," celetuk Rinna, melalui kemampuan telekomunikasi.
Mariel hanya mendengus kasar dan melipat kedua tangannya di dada sambil memalingkan wajahnya. Menunjukkan reaksi marah yang terkesan merajuk.
"Dasar aneh!"