
Dua hari kemudian, Diandra menarik kopernya keluar dari dalam kamar, dia menghampiri tante dan Om Revan yang sudah berdiri didepan pintu, mereka merentangkan kedua tangan mereka menyambut Diandra kepelukanya dan menuju mobil untuk mengantar Diandra kebandara.
Diandra sudah bersiap, dia memeluk tante dan Om Revan untuk terakhir kalinya, melangkah menjauh sambil melambaikan tangan, mereka meneteskan airmata dengan senyum diwajah.
Diandra melangkah menuju pesawat, dia meteskan airmatnya lagi menatap pesawat yang siap mengantarnya ke Korea saat itu juga, Diandra menapaki anak tangga dan masuk kedalam kabin pesawat, dia melihat nomor kursi dan mulai mencari kursinya, Diandra duduk setelah dia menemukan kursinya, dia bersandar dan menatap keluar jendela.
"Pada akhirnya aku meninggalkan kota ini dan aku meninggalkanmu Axel, aku harap aku bisa melupakanmu dan membuang semua rasa yang 3 tahun ini menguasai diriku."Batin Diandra, dia menghapus airmatanya.
*Ke esokan hari di sekolah.
Semua siswa dan siswi tersenyum bahagia di hari perayaan kelulusan mereka, mereka akan segera menerima Ijazah setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun dengan usaha keras menjadi yang terbaik dikelas dan disekolah.
Pagi itu Axel mencari keberadaan wanita yang biasanya sudah membuntutinya kemanapun dia pergi, sungguh sangat aneh karena hari itu Axel tidak melihat keberadaan Diandra dimanapun.
"Axel."Panggil teman pria Axel.
"Ada apa?"Saut Axel, dia menoleh.
"Darimana saja?"
"Aku tidak melihat Diandra, apa kau melihatnya?"Tanya Axel.
"Diandra? tidak."
"Kemana dia? sebentar lagi acara akan dimulai."Ucap Axel.
"Axel, ada yang berbeda darimu."
"Apa maksudmu?"Tanya Axel.
"Ini kali pertama kamu mencari Diandra, biasanya kamu mengabaikanya meski dia menguntitmu kemanapun, apa kau mulai menyukainya?"
"Jangan bicara omong kosong."Saut Axel, dia pergi meninggalkan teman prianya sendirian.
"Cih... kenapa tidak jujur saja."
Acara sudah di mulai, Axel sudah harus hadir dan duduk dikursinya karena dia adalah ketua OSIS, Axel memulai acara dengan sedikit menyapa para wali murid, dia sangat cerdas, bicara sangat tegas tanpa rasa ragu sedikitpun, Axel selalu menjadi pria yang terpopuler disekolah itu.
Hari itu Axel benar-benar tidak melihat keberadaan Diandra namun dia melihat kehadiran tante Jessie, acara berjalan sempurna, saat ini tiba waktu mengumumkan siswa siswi terbaik mulai dari peringkat 3 diraih oleh Vega, 2 diraih oleh Axel dan yang ke 1 diraih oleh seorang siswi yaitu Diandra, Diandra selalu menjadi yang terbaik.
Namun hari itu tante Jessie yang maju dan berdiri diatas panggung didepan seluruh siswa siswi dan wali murid untuk menerima piala, piagam dan ijazah Diandra.
Axel yang saat ini berdiri diantara Vega dan tante Jessie, dia menoleh pada tante Jessie.
"Tante."Panggil Axel.
"iya."Saut tante Jessie menoleh, dia tersenyum.
"Dimana Diandra? kenapa dia tidak datang diacara penting ini?"Tanya Axel.
"Diandra? dia sudah tidak tinggal dikota ini lagi."Saut tante Jessie.
"Apa?"Saut Axel terkejut.
Mereka mulai turun dari panggung satu per satu, Axel menghampiri tante Jessie saat acara telah selesai.
"Tante jessie."Panggil Axel.
"Dimana Diandra sekarang?"Tanya Axel.
"Maaf Axel, tante tidak bisa memberitahukan pada siapapun."Saut tante Jessie, dia masuk kedalam mobil dan langsung pergi.
"Tunggu tante."Pinta Axel, dia mengetuk jendela mobil tante Jessie dan terhenti saat mobil semakin jauh dan dia tidak bisa lagi mengejarnya.
"Pergi dari kota ini? pergi kemana kamu Diandra? kenapa tidak pamit? atau bertemu aku dulu? ada apa?"Tanya Axel.
Sejak saat hari itu, Axel tidak banyak bicara, dia mulai memegang kendali SN Group sebagai pewaris, menjadi seorang Presiden Direktur di usia yang masih sangat muda, tidak ada kesampatan baginya untuk menikmati masa muda seperti teman-teman lainya, dia disibukan dengan kepentingan bisnis, selalu dikawal banyak orang penting disisinya, membuatnya merasa sangat bosan, semenjak saat Diandra pergi, Axel selalu termenung didalam kamarnya saat dia telah kembali dari kantor, entah kenapa dia sangat merindukan Diandra.
"Aku melihatmu setiap hari, kamu selalu ada dimanapun aku berada, kamu penguntit yang sangat cantik, sikapmu yang manis selalu menarik perhatianku meski aku sangat ingin mengabaikanmu, 3 tahun.. kamu bersikap manja untuk meraih perhatian dariku, Diandra... dimana kamu sekarang? aku sangat merindukanmu, apa kamu pun merindukan aku? tidak ada niat untuk kembali kah? apa kamu bisa menjalani harimu tanpa melihat dan menguntitku lagi?"Tanya Axel.
Saat itu Axel yang melepas lelah, dia duduk tertunduk diatas tempat tidurnya, menoleh kesisi kananya, mengingat kembali apa yang pernah dia lakukan bersama Diandra diatas ranjang didalam kamar mewahnya.
Axel selalu mencari tau tentang keberadaan Diandra, namun tidak ada yang bisa dia dapatkan, tante Jessie sendiri sudah pindah entah kemana, padahal dia adalah satu-satunya orang yang mengetahui dimana keberadaan Diandra.
Waktu terus berputar tiada henti, langit berubah warna setiap waktu, musim silih bergati berubah secara bergantian, hari demi hari, tahun demi tahun, Axel... tidak bisa menemukan Diandra, ucapanya bertolak belakang dengan hati kecilnya, saling bertentangan hingga membuatnya menyesal telah mengabaikan Diandra selama 3 tahun pertemuan mereka.
"Sudah 4 tahun Diandra... dimana kamu?!"Ucap Axel marah, dia menghempaskan semua benda yang ada didalam kamarnya.
Axel tidak bisa lagi bersabar dan hanya menunggu, dia semakin gencar dan giat mencari dimana keberadaan wanita itu, hingga saat dia pergi ke Korea untuk bisnisnya, merasa sangat stres dan frustasi, dia pergi ke Club malam didampingi para pengawal yang selalu setia berada disampingnya, saat itu dia melihat seorang wanita yang sangat manis menggoda seorang pria tampan, wanita yang duduk bersandar disofa mengipaskan selembar cek yang ada di genggamanya, wanita yang sangat cantik dengan senyuman yang sangat manis, dia mulai sibuk dengan poselnya, wanita itu mengingatkanya pada sosok Diandra.
Tanpa pikir panjang, Axel yang merasa menemukan wanita yang mirip dengan Diandra, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu itu untuk melampiaskan kerinduanya.
Axel menatap wanita itu sangat tajam hingga wanita itu menyadari akan tatapanya, dia tersenyum kecut saat melihat wanita itu mengabaikanya meski dia tau jika didirnya menatapnya, Axel bangkit dari duduknya dan duduk didekat wanita itu.
"Temani aku tidur malam ini."Pinta Axel, dia melemparkan segepok uang pecahan Rp. 100.000 kepangkuan wanita itu.
Axel terdiam saat wanita itu menolak dan meninggalakanya, dia melihat wanita itu berjalan, sungguh sangat mirip dengan Diandra, tapi... Diandra wanita baik-baik, Club malam bukanlah tempat yang bisa dia kunjungi.
"Cari tau informasi tentang wanita itu."Pinta Axel pada semua pengawalnya.
Axel terkejut saat dia telah mendapatkan informasi tentang wanita yang dia temui di club malam itu, dia tersenyum.
"Akhirnya aku menemukanmu sayang."Ucap Axel.
**
Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍
Suka dengan novel ini?
Dukung author dengan cara:
VOTE
LIKE
FAVORIT
KOMEN Sopan
Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏
Baca juga novel pertamaku judulnya *Day's Eye*
Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya