
Mengingat kembali kejadian 4 tahun yang lalu, membuat mood Diandra menjadi buruk, dia menenggak wine dan menyalakan korek api, wanita itu mulai menikmati rokoknya lagi dan mengepulkan asap dari mulutnya, Diandra sudah sangat lihai memainkan asap rokoknya, dia menatap Axel yang saat ini menatapnya, sungguh Diandra tidak menyukai malam itu, malam dimana dia bertemu lagi dengan pria yang sengaja dia hindari selama ini.
"Baby."Sapa Ray.
"Hey, sorry dear, aku tadi meninggalkanmu, kemari duduklah didekatku."Pinta Diandra, dia bergeser dan menepuk sofa didekatnya.
Ray pun patuh, dia duduk di dekat Diandra, Diandra menarik dasi Ray untuk mendekatkan wajah pria itu ke wajahnya.
"Hari ini kamu sangat tampan Ray cup~"Ucap Diandra, dia mengecup bibir Ray meski dia tau Axel masih memperhatikanya, Diandra tidak perduli sedikitpun.
"Baby, kamu sangat menggodaku, aku sangat ingin menghabiskan malam bersamamu diatas tempat tidur, ayolah jangan menolakku lagi."Ucap Ray.
Diandra tersenyum dan meletakan jari telunjuknya dibibir Ray, dia mengelus-elus bibir pria itu sangat menggoda dengan tatapan mata yang begitu memikat lawan jenisnya, membuat Ray sungguh tidak tahan lagi.
Dengan Sigap Ray meraih kepala Diandra dan mencium bibir wanita itu sangat bringas, membuat Diandra kesulitan untuk bernafas dan melepaskan diri, sungguh pria tampan itu sangat kuat hingga membuat Diandar terengah dan tersenyum picik menyandarkan kepala di dada Ray.
"Baby.. menikahlah denganku."Pinta Ray.
Mendengarnya Diandra menarik diri dan menatap mata Ray, dia tersenyum manis sambil mengusap bibirnya yang basah.
"Jika aku menikah, aku akan meninggalkan kesenanganku ini, aku tidak mau Ray."Saut Diandra.
"Aku kaya raya, kamu tidak akan kekuarangan suatu apapun jika hidup bersamaku, kamu tidak perlu datang ketempat seperti ini lagi sayang."Ucap Ray.
"Ray, aku ketempat ini bukan untuk mencari uang meski memang aku tidak menolak jika aku diberi banyak uang, aku ketempat ini hanya untuk bersenang-senang sayang."Saut Diandra.
Diandra bangkit dari duduknya, dia duduk dipangkuan Ray dengan kedua tangan yang berada di punggung pria tampan itu, Diandra berbisik...
"Kamu sudah menciumku sangat bringas, sekarang apa yang bisa kamu berikan untukku?"Tanya Diandra.
"Hahaa~ baby.. kamu memang yang paling manis."Saut Ray.
Ray mengeluarkan dompet tebalnya, dia membukanya dan mengeluarkan kartu berwarna hitam.
"Baby, kamu bisa pakai kartu ini untuk bersenang-senang, tidak ada limit, kamu bisa menggunakanya sepuasmu."Ucap Ray, dia menyerahkan kartu kredit tanpa limitnya pada Diandra.
"Baby sungguh? aku boleh memakainya sepuasku? aahhh~ baby.. kamu memang yang terbaik cup~"Saut Diandra, dia mengecup pipi Ray dan menerima kartu pemberianya.
Meski Ray tau jika dirinya hanya salah satu dari sekian banyak pria yang menginginkan Diandra, nyatanya wanita itu mampuh membuatnya tetap mengeluarkan uang untuk dirinya secara suka rela.
Axel sendiri sudah sangat terbakar api cemburu, sungguh Diandra yang dia kenal saat ini sangat jauh berbeda dari Diandra yang dia kenal 4 tahun yang lalu, Axel masih terus menatap wanita yang sedang bermanja-manja pada seorang pria tampan yang kaya raya.
"Cih.."Axel tersenyum kecut.
Saat malam mulai larut, Axel sendiri sudah tidak tahan lagi menyaksikan Diandra yang begitu dekat dengan pria-pria, membuat Axel tidak bisa menahan rasa cemburunya, dia bangkit dari duduk dan keluar dari gedung bising itu.
30 menit kemudian, Diandra keluar dari dalam gedung dengan langkah kaki yang sudah sempoyongan dan pandanganya yang mulai kabur untuk hendak pulang kerumah Nara, Nara sendiri malam itu sudah pulang duluan bersama kekasihnya, Diandra mengambil kunci mobil dari dalam tasnya dan dia menghentikan langkahnya saat sekilas melihat bayangan Axel berdiri bersandar dimobilnya, tepat dipintu kursi kemudi.
Diandra yang memperjelas pandanganya dia membatu saat dia telah yakin jika pria itu benar adalah Axel, Diandra memutar tubuh untuk hendak kembali masuk kedalam gedung bising itu lagi namun Axel melangkah cepat menyusulnya, meraih pergelangan tangan Diandra dan menariknya kedalam pelukan, Axel memeluk Diandra sangat erat, sangat kuat dan mengatakan...
"Aku minta maaf, aku telah sadar jika akupun selama ini menyukaimu, aku ingin kita seperti dulu lagi, jangan membenciku Diandra."Ucap Axel, dia memejamkan mata saat dia mencium kening Diandra.
Diandra mendorong tubuh Axel sangat kasar, hingga Axel melangkah mundur dan menjaga keseimbanganya.
"Berapa kali aku katakan padamu! aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu! enyahlah dari kehidupanku! kau! hanya pria sia*lan yang bre*ngsek! cuuiih..!!"Ucap Diandra, dia meludah dihadapan Axel, menunjukan betapa dirinya sangat membenci pria itu.
"Diandra beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."Pinta Axel, dia terus mengetuk kaca jendela pintu mobil Diandra.
Diandra tidak memperdulikanya, dia melajukan kendaraanya meninggalkan tempat itu.
"Diandra.. aku mohon."Ucap Axel, dia terus mengikuti mobil Diandra hingga dia benar-benar tidak sanggup lagi unutuk melangkah.
Axel berlutut dengan nafas yang terengah dan keringat yang mengalir, menatap mobil yang digunakan Diandra semakin menjauh dan menghilang dari pandanganya, Axel tertunduk dan memejamkan mata.
"Maafkan aku Diandra, aku sudah sangat melukaimu, tolong jangan membenciku..."Ucap Axel gemetar, dia menjatuhkan airmatanya.
Diandra menatap Axel yang berlutut ditengah jalan kelelahan dari spion mobilnya, tanpa sadar Diandra menjatuhkan airmatanya.
"Aku sangat membencimu Axel, kamu hanya menipuku, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan kata-katamu yang begitu menyakitkan."Ucap Diandra, dia menghapus airmatanya.
Sesampainya dirumah Nara, Diandra keluar dari dalam mobil, melangkah sempoyongan dan masuk kedalam rumah menggunakan kunci duplikat yang Nara berikan padanya, dia masuk kekamar dan merebahkan tubuh didekat Nara yang sudah pulas karena mabuk, Diandra menatap wajah sahabatnya dan mengelus kepalanya.
"Terimakasih baby, kamu selalu membantuku semenjak pertemuan pertama kita, aku yang sangat hancur dan rapuh saat itu selalu kamu beri kekuatan sampai saat ini, untuk tetap bertahan meski sangat sulit dan memuakan untuk menjalaninya."Ucap Diandra.
"Keluargaku telah hancur, ibuku sendiri menelantarkan aku, ayahku menikahi wanita yang hanya mengincar hartanya saja, dia bahkan tidak perduli padaku dan rela melukai aku putrinya demi wanitanya, tidak ada yang menyayangiku lagi di dunia ini, tubuhku sendiri sudah tidak berharga, terkadang aku berpikir... apa yang bisa aku jadikan alasan untuk tetap hidup sampai hari ini? tidak ada sama sekali, tidak ada yang berarti lagi, aku hanya wanita kotor yang berdiri ditengah kebahagiaan banyak orang."Ucapnya lagi.
Setelah selesai meluapkan isi hati, Diandra merubah posisi, dia tidur menyamping membelakangi Nara, menarik selimut tebalnya dengan high hils dan pakaian seksi yang masih dikenakanya, Diandra mengerucutkan tubuhnya dan terisak pilu meratapi kehidupanya selama ini, Nara pun memeluknya dari belakang, memberikan kehangatanya untuk Diandra sahabatnya.
"Baby jangan menangis lagi, jika di dunia ini tidak ada yang perduli lagi padamu, kamu harus ingat jika kamu masih punya aku, kamu sudah seperti adik bagiku, maka jadikanlah aku sebagai alasan untumu tetap hidup sampai hari ini."Ucap Nara, dia memeluk Diandra semakin erat.
Diandra hanya diam, tidak ada kata yang mampuh mewakilinya untuk menyampakian betapa dia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Nara yang begitu menyayanginya, Diandra hanya terisak pilu dikegelapan, semakin mengerucutkan tubuhnya, rindu akan sosok mamah yang telah lama meninggalkanya.
Malam gelap berhias bintang dan rembulan, angin bertiup masuk kedalam kamar gelap itu melalui jendela besar yang terbuka lebar, sejuknya seolah meminta Diandra untuk segera memejamkan mata dan melupakan kesedihanya, Diandra pun mulai lelah menangis dan tanpa sadar terlelap dalam tidurnya malam itu.
Dedaunan yang bergoyang ditengah malam, bintang, rembulan, angin malam, suara burung dan seisi dunia menjadi saksi bahwa hidup tidaklah mudah bagi sebagian orang yang belum menemukan keberuntunganya.
Malam yang sangat damai, berlalu melewati tiap detik waktu yang berputar tiada henti, mengantarkan Diandra untuk melanjutkan sisa hidupnya, hidup yang bahkan tidak satu orang pun tau akan seperti apa dan bagaimana? susah atau senang? sehat atau sakit? bahagia atau kecewa? Diandra tidak menegtahuinya, yang dia tau saat ini adalah pagi telah menyambutnya lagi.
**
Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍
Suka dengan novel ini?
Dukung author dengan cara:
VOTE
LIKE
FAVORIT
KOMEN Sopan
Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏
Baca juga novel pertamaku judulnya *Day's Eye*
Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya