My Sexy Girl

My Sexy Girl
Wanita nakal




Setelah 3 hari menjalani perawatan dirumah sakit, Ben membawa Diandra pulang kerumahnya, Geea sendiri menerima hukumanya karena telah melukai Diandra, Geea di skorsing selama 2 minggu untuknya merenungi kesalahan yang telah dia perbuat.


Diandra yang tidak menyukai rumah sakit dan berbaring diatas tempat tidur, dia mulai tidak bisa diam, berlatih menggerakan kakinya dan makan teratur karena dia ingin cepat sembuh agar bisa datang ke club malam lagi dan bertemu teman-temanya untuk bersenang-senang.


Saat ini Diandra sedang duduk bersandar diatas tempat tidur, dia meluruskan kedua kakinya dengan headset on ditelinga, mendengarkan musik sambil bernyanyi tanpa beban, tidak memiliki rasa malu meski Ben menggeleng-gelengkan kepala saat menatapnya, Diandra hanya perduli dengan kesenanganya saja.


"Honey.. ambilkan laptop."Pinta Diandra pada Ben, dia menunjuk laptop dengan kakinya.


"Sekali lagi menunjuk barang dengan kaki.. akan aku potong kakimu, mintalah tolong dan tunjuk dengan tanganmu."Saut Ben, dia perlahan mengajari Diandra sopan santun meski direspon dengan ledekan yang mengiasi wajah Diandra.


"Iiiihh.. membosankan."Gumam Diandra.


"Kerjakan skripsimu, kurang dari 2 minggu tuan Jeff akan kembali dan aku akan kembali memimpin perusahaan."Ucap Ben.


"Iyaaaa..."Saut Diandra.


Ben meletakan laptop miliknya diatas tempat tidur didekat Diandra, Diandra mulai membuka dan menghidupkanya, dia membuka file skripsinya yang hanya tinggal bab akhir, perlahan Diandra mulai serius menyelesaikan skripsi miliknya hingga larut malam.


Ben kembali ke kamar Diandra, dia membuka pintu sedikit dan melihat Diandra masih serius dengan laptop miliknya, Ben mengetuk pintu dan masuk, dia melangkah menghampiri Diandra, meraih laptopnya dan menyimpan file yang sedang Diandra garap, Ben mematikan laptopnya dan meletakanya diatas meja.


"Apa sih?"Tanya Diandra.


"Sudah waktunya tidur."Saut Ben, dia meraih selimut dan mulai menyelimuti tubuh Diandra.


"Tinggal penutup, aku pasti malas memulainya lagi nanti."Ucap Diandra.


"Berhenti bicara dan tidur."Pinta Ben, dia mematikan lampu dan membawa laptopnya keluar dari kamar bersamanya.


"Hidupmu lurus sekali, semua ada jadwalnya, sangat membosankan."Gumam Diandra.


"Sejak aku sakit aku tidak bisa merokok, lidahku jadi pahit."Gumamnya lagi.


Ponsel Diandra yang ada diatas meja berdering, dia menatap dan meraihnya, melihat isi dari dalamnya.


"Nomor telpon? tapi ini bukan telpon rumah dan kampus, telpon dari siapa?"Batin Diandra, Diandra menerima panggilan itu.


"Halo."Sapa Diandra, dia fokus untuk menanti respon, namun orang yang melakukan panggilan padanya hanya diam.


"Halo!"Ucap Diandra lagi dan orang itu masih tidak bersuara.


"Heh! kau tuli atau bisu?!"Tanya Diandra, dia mulai tidak sabar dan mulai berkata kasar, namun yang dia dengar bukanlah jawaban melainkan suara tangisan seorang wanita, mendengarnya Diandra pun terdiam, raut wajahnya seketika berubah, dia mengenal suara tangisan itu, membuat Diandra tiba-tiba meneteskan airmatanya dan mengatakan...


"Mamah..."Ucap Diandra, Ny. Sireen tidak menjawab, dia hanya menangis ingin mendengarkan suara putrinya.


"Mamah, mamah dimana? aku akan kesana menjemput mamah, pulanglah bersamaku, aku ingin bertemu, aku rindu mamah, sudah 6 tahun, temui aku meski sebentar saja."Pinta Diandra, dia berbicara sangat cepat.


Tuuttt...tuttt....tuttt.... suara telpon yang terputus, membuat Diandra mematung dengan tatapan kosong, dia menjatuhkan airmatanya lagi dan perlahan menatap layar ponselnya yang meredup.


"Kenapa? mamah tidak mau bertemu aku?"Tanya Diandra.


Meski kecewa, namun tidak ada yang bisa Diandra lakukan, dia tidak tau dimana ibunya dan pada akhirnya.. Diandra meletakan kembali ponselnya diatas meja, dia berbaring menyamping dan menarik selimut, termenung dengan tatapan kosong dan air mata yang belum berhenti, dia mengatakan...


"Aku rindu mamah."


Diandra memejamkan mata berbarengan dengan airmata terakhir yang metes, dia melemaskan tubuhnya untuk segera terlelap agar bisa melupakan Ny. Sireen malam itu dan siap untuk menyambut mentari yang hadir dipagi hari.


Waktu menunjukan pukul 05:03, hari ini adalah hari sabtu, Ben tidak pergi ke kampus, Ben yang telah terbiasa bangun pagi, dia masuk kesalah satu ruangan dirumah mewahnya, ruangan yang lengkap dengan alat kebugaran, Ben nge-Gym dipagi hari untuk lebih membentuk otot-ototnya.


Diandra yang juga saat itu bangun pagi, dia melatih kakinya untuk berjalan tanpa tongkat, dia tidak suka terlihat lemah dan ingin cepat pulih, Diandra menghentikan langkah kaki saat sekilas dia melihat Ben sedang berolah raga, Diandra mendekat kearah pintu dan melihatnya, dia tercengang melihat tubuh Ben yang hanya bertelanjang dada, rambut lurus yang basah karena keringat yang membasahi kening, wajah tampan, perawakan tinggi dengan dada bidang dan perut sixpack, kulit putih dan yang pasti dia kaya raya, membuat mata Diandra segar dipagi hari.


"Wooowww..."Ucap Diandra, dia bersandar dipintu.


Ben menoleh, dia menghentikan aktivitasnya saat melihat kehadiran Diandra ditempat itu, Ben menghampirinya, semakin dekat dan terhenti saat dada bidang yang berlapis keringatnya menyentuh dada Diandra yang mematung, Diandra mendongak dan Ben menarik suduk bibirnya, dia menyeringai menatap mata Diandra.


"Aku wanita normal, aku suka tubuhmu."Ucap Diandra, dia meletakan telapak tanganya di dada Ben dan perlahan mendorongnya menjauh.


"Kamu boleh menyentuhnya jika ingin."Ucap Ben.


"Kamu mengizinkan aku, maka aku akan memanfaatkan kesempatan ini."Saut Diandra, dia memutari tubuh Ben sambil mulai mengelus dada bidang beralih ke lengan kekar hingga ke punggungnya yang berotot, membuat Diandra menelan ludah dengan wajah yang memerah.


"Sudah puas?"Tanya Ben, dia meraih perggelangan tangan Diandra, melangkah maju untuk membuat Diandra melangkah mundur dan terhenti disisi pintu, Ben semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra, semakin dekat hingga hidung mancung keduanya saling beradu.


"Kamu membuatku ingin."Ucap Diandra dengan tatapan mempesonanya.


"Aku pun ingin."Saut Ben.


"Jika begitu ayo."Ajak Diandra.


"Sungguh?"Tanya Ben.


"Tentu saja."Saut Diandra, dia menempelkan bibirnya di bibir Ben.


"Aku akan menghabisimu."Ucap Ben.


"Aku sudah tidak sabar."Saut Diandra.


"Dimana kita akan melakukanya?"Tanya Ben.


"Tentu saja dimeja makan."Saut Diandra.


"Meja makan?"Tanya Ben bingung.


"Iya.. meja makan.. melihatmu yang berkeringat dan lelah, membuatku ingin.... akuuu... ingin sarapan."Ucap Diandra, dia memutar tubuh dan menahan tawa, dia sungguh sangat puas mengerjai Ben dipagi hari, membuat Ben mematung dengan wajah bodoh.


"Hahahaha~"Tawa Diandra, dia sangat senang, membuat Ben menatapnya tajam dan melangkah cepat menyusulnya, Ben meraih perggelangan tangan Diandra, menariknya mendekat dan Ben mencium bibir wanita itu tanpa ampun, dia tidak memberinya kesempatan untuk bernafas, membuat Diandra melemah dan terengah dipelukanya.


"Ini hukuman karena kamu sudah mempermainkan aku."Ucap Ben.


"Kamu harus membayarku dengan kartu tanpa limitmu."Saut Diandra.


"Akan aku berikan."Saut Ben, dia meraih dompetnya yang ada diatas meja, mengeluarkan kartu tanpa limitnya untuk Diandra, membuat Diandra mematung menatapnya, Ben sungguh memberinya kartu itu.


"Pakailah, beli pakaian.."Ucap Ben.


Diandra menerimanya, dia mendekati Ben lagi dan berbisik...


"Honey... thank you."Ucap Diandra, dia mengigit sedikit telinga pria itu untuk menggodanya.


Diandra tersenyum sambil mengipaskan kartu tanpa limit itu kewajahnya, dia duduk dimeja makan untuk sarapan.


"Cih.. wanita nakal, kau sukses membuatku bergairah dipagi hari."Batin Ben dengan tatapan tajamnya pada Diandra yang tersenyum padanya.


Ben pun melangkah dan menarik kursi, duduk tepat dihadapan Diandra, mereka saling menatap terpisahkan meja makan yang panjang dan luas membuat Diandra tersenyum picik tidak henti dan mulai menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh pelayan.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍


Suka dengan novel ini?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏


**Baca juga novel pertamaku judulnya Day's Eye


Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya**