My Sexy Girl

My Sexy Girl
Tinggalah di rumahku




Ben terdiam mendengarnya, Diandra menilai sebuah ikatan pernikahan hanya dari sisi negatifnya saja, bahkan dia tidak memandang sisi positifnya.


"Aku bicara seperti ini, karena aku tidak pernah melihat kebahagiaan dalam pernikahan ayah dan mamah, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, tangisan mamah, pukulan ayah bahkan ayah tidak mau menceraikan mamah meski telah mencampakanya dan menikah dengan wanita lain, mengikat mamah dalam pernikahan yang berantakan, membuat mamah tidak bisa melepaskan diri dan melanjutkan hidup bersama pria lain, mamah.. dia sangat menderita hingga memutuskan untuk pergi meninggalkan aku dan papah, aku takut... aku tidak mau seperti itu, aku takut bernasib sama seperti mamah, aku tidak mau menikah."Batin Diandra.


Mereka masuk kekelas dan mulai belajar, Diandra sangat lemas hari itu, tidak seperti biasanya, dia tidak bergeming meski matanya menatap kedepan.


"Ayo Diandra, kamu kuat, tinggal satu mata kuliah lagi, semangat!"Batin Diandra.


Meski didalam hatinya Diandra semangat, tapi pada kenyataanya tubuhnya berkata lain, dia yang lemas dan sakit, pada akhirnya merebahkan kepalanya dengan kedua tangan yang melipat diatas meja sebagai alasnya, diandra menatap dengan tatapan kosong, perlahan matanya sayup dan tertutup.


Menyadari Diandra yang membaringkan kepala diatas mejanya cukup lama, Ben meminta teman Diandra yang ada didekatnya untuk membangunkan Diandra.


"Mery, bangunkan Diandra."Pinta Ben.


"Baik kak Ben."Saut Mery, dia mengulurkan tangan dan menggoyang-goyang tubuh Diandra.


"Diandra.. hey.. bangun...Diandra...Diandra bangun..Dian......."


Gubbrraak...!!


"Diandra!"Teriak Mery, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Diandra yang terjatuh dari kursinya.


Melihat Diandra terjatuh dari kursinya, Ben pun terkejut dan langsung menyambarnya, meraih kepala Diandra yang tidak sadarkan diri dikelasnya.


"Kalian pelajari bab 7, saya akan bawa Diandra ke klinik kampus."Ucap Ben panik.


"Baik kak."Saut semua serentak.


Ben langsung menggendong tubuh Diandra dan membawanya ke klinik, dia merebahkan tubuh wanita muda itu diatas tempat tidur klinik dengan dokter umum yang berjaga sudah ada didekatnya, dokter mulai memeriksanya.


"Tuan Ben silahkan duduk dulu, tungguh diluar."Pinta dokter.


Ben patuh, dia keluar dan meninggalkan diandra bersama dokter yang memeriksanya, dia duduk tertunduk dikursi tunggu dan tidak lama dokter memanggilnya lagi, meminta Ben untuk masuk kedalam ruang pemeriksaan, Ben melihat Diandra yang belum sadarkan diri.


"Tuan Ben, saya terkejut saat membuka pakaian teratasnya untuk memeriksa, kemarilah anda harus melihatnya."Ucap dokter, dia membuka pakaian Diandra dihadapan Ben.


Ben membatu saat melihat tubuh wanita muda itu.


"Banyak sekali luka akhibat pukulan benda tumpul ditubuh nona Diandra, ini tidak bisa dibiarkan, lebih baik dilaporkan ke polisi."Ucap dokter.


Ben mendekat, membuka dan melihat luka-luka yang membiru ditubuh wanita cantik itu, membuatnya ngilu dan gemetar.


"Aku akan bicara dulu denganya."Ucap Ben.


"Iya, tolong jangan dibiarkan, tindakan kekerasan bisa mempengaruhi mental korban, bisa membuatnya melakukan kekerasan yang sama, trauma, murung, kesulitan mempercayai orang lain, depresi, luka cacat fisik bahkan kematian."Ucap dokter, dia memakaikan lagi pakaian Diandra.


"Tuan Ben, saya akan memberinya obat untuk menghilangkan rasa sakitnya, tunggu sebentar."Ucapnya lagi.


"Sampai seperti ini kamu diam saja? tidak bicara.. siapa yang melakukan ini semua padamu Diandra?"Tanya Ben pada Diandra yang masih belum sadar.


Saat itu Ben menemani Diandra di klinik, menunggu sampai dia sadar, Ben tidak dapat mengalihkan pandanganya pada objek lain selain wajah Diandra yang sangat cantik meski dalam keadaan tidak sadarkan diri, setelah lama menunggu Diandra pun membuka mata dan langsung bangkit.


"Dimana ini?"Tanya Diandra terkejut.


"Klinik, tadi kamu pingsan."Saut Ben bangkit dari duduknya.


"Klinik? pingsan? aku mau ke kelas."Ucap Diandra, dia bangkit dan melangkah cepat.


"Hey.. kamu masih sakit."Saut Ben, dia meraih perggelangan tangan Diandra untuk menahanya.


"Aku tidak sakit!"Saut Diandra, dia marah dan pergi.


"Kamu takut luka ditubuhmu dilihat orang lain?"Tanya Ben.


Diandra terhenti, perlahan menoleh dan memutar tubuh, menatap mata Ben dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Apa yang kamu bicarakan?"Tanya Diandra.


"Tidak perlu menutupinya lagi, aku sudah melihatnya, aku akan melaporkan ini pada polisi."Ucap Ben, dia mengacungkan ponselnya yang berisi foto-foto luka yang ada ditubuh Diandra.


Diandra menjatuhkan airmatanya, dia melangkah perlahan menghampiri Ben yang saat ini menatap matanya tajam, Ben terkejut saat Diandra menjatuhkan tubuhnya, dia berlutut di kaki Ben sambil menangis.


"Jangan laporkan ini pada polisi Ben, aku mohon."Pinta Diandra, dia meraih kaki Ben.


Ben membisu, dia tidak pernah memahami isi kepala wanita yang saat ini berlutut di kakinya.


"Tidak, kamu harus janji untuk tidak melaporkanya pada polisi."Pinta Diandra.


"Bangun!"Tegas Ben.


"Aku tidak mau!!"Saut Diandra.


"Katakan apa alasanmu."Ucap Ben.


"Kamu jangan ikut campur persoalan pribadiku, biar aku sendiri yang akan menyelesaikanya."Saut Diandra.


"Selesai setelah kamu mati di aniaya? itu maksudmu?"Tanya Ben marah.


Diandra bangkit, merampas ponsel Ben dan menghampus foto-foto yang Ben ambil.


"Aku sudah menyalinya, untuk apa kamu menghapusnya?"Ucap Ben.


"Aku tidak mau mengenalmu lagi jika kamu berani melaporkan ini pada polisi!"Tegas Diandra, dia membanting ponsel Ben.


Ben terdiam, melangkah pergi meninggalakan Diandra.


"Kamu mau kemana?"Tanya Diandra, dia membuntuti Ben yang melangkah cepat.


"Kantor polisi!"Saut Ben.


"Jangan Ben, aku mohon..."Pinta Diandra, dia meraih tangan Ben untuk menghentikanya.


"Kamu diam saja! biar aku yang mengurus! setelah ini tidak ada lagi yang akan menganiayamu."Ucap Ben, dia menghempaskan tangan Diandra dari tanganya.


Diandra membatu, dia sangat takut saat melihat Ben begitu gigih dan tidak mau mendengarkanya, Diandra sangat panik, dia mencari cara untuk menghentikan Ben.


"Maju satu langkah lagi aku akan mati."Ancam Diandra.


Mendengar kata "Mati" Ben pun menghentikan langkahnya, dia memutar tubuh dan menatap Diandra yang sudah berdiri di sisi jalan, siap kapan saja menabrakan dirinya ke kendaraan yang melintas.


"Diandra! apa kamu gila!"Tegas Ben, dia melangkah cepat dan menarik Diandra menjauh dari jalan raya.


"Iya aku gila!"Saut Diandra, dia berlutut lagi di kaki Ben, memeluk kaki pria itu untuk berusaha mengurungkan niatnya.


"Aku mohon Ben, jangan lapokan ini pada polisi.. aku mohon jangan buat keluargaku semakin hancur berantakan, aku sudah sangat sengsara ditinggalkan mamah, jangan buat aku semakin sengsara karena melihat ayah di penjara, aku sangat menyayanginya meski aku juga membencinya, tolong Ben.. aku tidak punya kakak atau adik, aku hanya punya ayah sekarang, dia juga punya nama baik yang harus dia jaga, tolong jangan hancurkan semuanya."Pinta Diandra.


Mendengarnya Ben pun tidak dapat berkata-kata, dia sungguh melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang putri yang melindungi ayahnya meski dia dianiaya olehnya.


"Baik, sekarang bangunlah, aku tidak akan melaporkanya ke polisi."Ucap Ben, dia meraih lengan Diandra dan memintanya untuk berdiri.


Diandra patuh dia berdiri dan Ben membersihkan pakaian Diandra yang kotor, dia menatap mata wanita yang tidak berhenti menangis dihadapanya, Ben menghapus airmata Diandra, dia meraih wanita itu dan memeluknya erat.


"Sudah, jangan menangis, aku tidak akan melaporkan ini pada polisi tapi dengan satu syarat."Ucap Ben.


"Syarat apa?"Tanya Diandra.


"Tinggalah di rumahku."Pinta Ben.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng...


ini adalah Novel pertamaku😍


Suka?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏


Baca juga novel terbaruku judulnya Chasing The Light


(Fersi drama korea) Hyun Bin, Seo Kang Joon dan Kim Jisoo.