My Sexy Girl

My Sexy Girl
Club malam




Diandra dan Nara masuk kedalam gedung bising itu, mereka mulai liar, memesan minuman keras dan menikmati rokoknya lagi, Diandra bersandar disofa sangat santai sambil memainkan kepulan asap dari mulutnya.


"Aku akan cari pria tampan yang bisa dimanfaatkan."Ucap Diandra pada Nara yang duduk didekatnya.


"Iya, tidak ada pria yang tidak tertarik pada seorang putri sepertimu."Saut Nara, dia menenggak minumanya.


Diandra menarik sudut bibirnya, dia mulai mendekat kearah keramaian, dia menari hingga lupa diri, seorang pria tampan menghampirinya, Diandra tersenyum picik.


"Hay..."Sapa pria itu berbisik ditelinga Diandra.


"Hay..."Saut Diandra merespon.


"Mau menghabiskan waktu bersamaku?"Tanya pria itu.


"Apa yang bisa aku dapatkan darimu?"Tanya Diandra.


"Kamu bisa pulang membawa cek sesuai angka yang kamu mau."Saut Pria itu.


Diandra mendekat, dia menempelkan dadanya didada pria itu dan berbisik.


"Aku bisa menemanimu tapi aku tidak bisa tidur denganmu."Bisik Diandra.


"Baby.. aku bisa memberikan berapapun yang kamu mau asalkan kamu mau tidur denganku."Saut pria itu.


"Cih.. I can't dear."Saut Diandra, dia mengangkat kedua bahunya, dia memutar tubuh untuk meninggalkan pria itu.


"It's okay baby."Ucap pria itu, Diandra pun tersenyum picik.


"Aku bisa menguras dompetmu tanpa perlu merugikan diriku."Ucap Diandra.


Diandra menemani pria tampan itu, bersikap manja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa perlu berbaring diranjang untuk menjual diri, karena sesungguhnya Diandra hanya mencari kesenangan semata dan mendapatkan keuntungan dari kesenangan itu, tidak ada yang merugikanya.


Waktu terus berputar, malam semakin larut, jam menunjukan pukul 01:02, pria itu menyerah dan mengusaikan pertemuan mereka malam itu.


"Thank you baby, aku akan datang dan mencarimu lagi, dipertemuan kita berikutnya, kita harus lebih dari sekedar mengobrol, bersiaplah.. Cup~"Ucap pria itu, dia mengecup punggung tangan Diandra, Diandra meresponya sangat manis.


"Tentu saja aku akan menemanimu lagi dan kamu harus memberiku lebih dari apa yang aku dapatkan malam ini."Saut Diandra berbisik.


"Iya, tentu saja."Saut Pria itu tersenyum, dia pergi meninggalkan Diandra.


Diandra merebahkan tubuhnya disofa, dia mengipaskan cek dengan angka fantastis yang dia tulis sendiri, angka yang sangat besar hanya untuk menemani mengobrol.


"Cih, datang lah dan aku akan menguras brangkasmu lagi baby."Ucap Diandra.


Diandra sangat senang, namun perlahan senyum diwajahnya memudar, dia telah sadar jika ada mata yang begitu tajam menatapnya, Diandra menoleh pada seorang pria yang duduk disebrangnya, benar saja.. pria itu menatap Diandra begitu mengerikan, Diandra mengalihkan pandanganya.


"Matanya begitu tajam menusuk, dia membawa pengawal disisi kanan dan kirinya, dia terlihat seperti seorang tuan muda, Cih.. sepertinya kali ini pria dari kelas kakap, tapi sayang.. aku sudah mendapatkan banyak uang malam ini."Gumam Diandra, dia merebahkan tubuhnya disofa lagi.


"Baby Diandra, ayo pulang, sudah jam 02:03, besok kamu harus ngampus kan?"Tanya Nara yang baru datang dari toilet.


"Aku masih mau disini baby, aku malas pulang."Saut Diandra, dia meraih ponselnya.


"Aku pulang duluan ya? pacarku sudah menunggu didepan."Ucap Nara.


"Okay, hati-hati dijalan baby."Saut Diandra.


"Iya, kamu juga hati-hati, daah baby."Ucap Nara, dia pergi meninggalkan Diandra sendirian.


Diandra menikmati rokoknya lagi sambil membuka chatt yang sudah menumpuk, dia membacanya satu per satu.


*Chatting On.


"Baby Diandra, aku rindu kamu."Chatt gebetan 1.


"Sayangku Diandra, aku ingin menemuimu, kamu dimana?"Chatt gebetan 2.


"Baby aku didepan rumahmu, bisakah kamu keluar sebentar?"Chatt gebetan 3.


Dan seterusnya...


Diandra tersenyum, membalas Chatt itu satu per satu, dia sangat telaten meladeni para pria itu, tentu saja karena mereka adalah ATM berjalan milik Diandra, jika tidak.. Diandra tidak akan meladeni mereka semua, terlebih Diandra wanita yang akuh dan dingin.


"Cih.. dasar pria-pria stu*pid, punya banyak uang dan wajah yang tampan tapi sangat mudah aku gali isi dompetnya, yaa... teruslah seperti itu."Gumam Diandra, dia menggak wine nya.


Seorang pria menghampirinya dan duduk didekat Diandra, Diandra menoleh, rupanya pria itu adalah pria yang menatapnya sangat tajam yang duduk disofa disebrang tempatnya duduk, pria itu menatapnya.


Diandra terdiam, dia sudah malas meladeni siapapun, toh Diandra sudah mendapatkan banyak uang hanya dari satu pria, Diandra pun mengabaikanya, dia melanjutkan membalas chatt.


"Temani aku tidur malam ini."Ucap pria itu melemparkan segepok uang pecahan seratus ribu dipangkuan Diandra.


"Cih.."Diandra tersenyum kecut, dia kesal dengan sikap pria itu.


"Kamu pikir aku pela*cur?!!"Saut Diandra, dia meraih uang yang ada dipangkuanya dan melemparkanya pada pria itu lagi.


Pria itu terdiam, dia merasa sangat kesal, terlihat jelas dari wajahnya, Diandra meraih tasnya dan bangkit, dia hendak pergi namun pria itu menggenggam perggelangan tanganya erat.


"Berapa yang kamu minta? aku akan berikan."Ucap pria itu.


"Cih.. maaf tuan, tapi aku tidak berminat, selamat malam."Saut Diandra, dia menghempaskan tangan pria itu dari tanganya dan melangkah pergi begitu saja.


"Selidiki wanita itu."Perinta pria itu pada pria yang setia berdiri disisinya.


"Baik tuan Axel."Saut pria itu, dia dikenal dengan sebutan sekertaris Harry, orang kepercayaan Axel yang selalu berada didekatnya siang dan malam.


Dipagi hari, kelas seni rupa II telah ramai, matakuliah akan segera dimulai, Ben tidak melihat Diandra dikelasnya.


Kelas telah dimuai sejak 40 menit yang lalu, Diandra membuka pintu tanpa mengetuk, dia bahkan masuk kekelas tanpa menoleh pada dosenya, Ben terdiam menatapnya.


Diandra menuju kursinya dan merebahkan kepalanya diatas meja, semua teman-temanya dikelas itu menatap kearahnya termasuk Ben, namun bagi teman-teman Diandra, pemandangan itu sudah biasa, mereka telah memahami sosok Diandra yang seperti itu.


"Diandra."Panggil Ben.


Diandra tidak bergeming, Ben pun menghampirinya, berdiri tepat dihadapan tempat Diandra duduk.


"Diandra Racel Hans."Panggil Ben lagi.


"Jangan ganggu aku, urus saja urusanmu."Ucap Diandra.


"Kalian pelajari bab 5, saya akan berikan soal saat kembali."Ucap Ben pada semua mahasiswa/i dikelas itu.


"Diandra ikut aku."Pinta Ben.


"Siapa kamu menyuruhku."Gumam Diandra.


Ben meraih tangan wanita itu, dia menariknya keluar dari kelas menuju ruanganya, Diandra duduk tertunduk, merasakan kepala yang sangat pusing, Ben menuang air dan memberikanya pada Diandra.


"Minum ini."Ucap Ben.


Diandra patuh, dia menerima dan meminum airnya, meletakan gelasnya lagi diatas meja.


"Sudah lebih baik?"Tanya Ben.


"Iya."Saut Diandra bangkit dan hendak keluar.


"Duduk!"Perintah Ben.


Diandra patuh, dia duduk lagi, mengibas rambut panjangnya kebelakang sambil mengalihkan pandanganya, dia tidak mau menatap mata Ben.


"Apa kamu memiliki masalah? kamu bisa ceritakan padaku, aku bisa membantumu."Ucap Ben.


"Cih.. membantu?"Gumam Diandra.


"Iya, kamu masih sangat muda, kehidupanmu sangat berantakan, perbaiki perilakumu mulai dari sekarang, apa kamu bisa?"Tanya Ben.


Mendengar ucapan Ben, Diandra terdiam, raut wajahnya berubah, dia terlihat marah, Diandra bangkit dari duduknya dan melangkah pergi lagi.


"Diandra."Panggil Ben.


"Kau bukan siapa-siapa! kau tidak mengenalku! kau tidak berhak menilai aku seperti apa! jangan pernah! bicara tentangku lagi! kau mengerti?!"Ucap Diandra mengacungkan telunjuknya diwajah Ben, Diandar sangat mengerikan.


Ben menggenggam pergelangan tangan Diandra, dia menatap mata mengerikan wanita itu, Diandra menepisnya dan pergi.


Ben bangkit, dia kembali kekelas, menatap Diandra yang tertidur dikelasnya.


"Bagikan."Ucap Ben menyerahkan kertas jawaban pada salah satu mahasiswinya.


Ben mulai menulis pertanyaan dipapan tulis, dia duduk dikursinya saat telah selesai, memperhatikan Diandra lagi.


"Diandra bangun, ini kertas jawabanmu."Ucap Mery teman sekelas Diandra, dia duduk didekat diandra.


"Thanks."Saut Diandra.


Diandra mulai bangkit, mengisi kertas jawabanya, dia terlihat lemas dan tidak fokus.


"Bagi yang mendapatkan nilai terendah bersiaplah untuk menerima hukuman."Ucap Ben.


Diandra hanya diam, yang dia tau saat ini hanyalah mengerjakan soal yang Ben berikan, semua mulai mengumpulkan kertas jawaban, seiapa lebih cepat maka dialah yang pulang duluan, satu persatu dari mereka telah selesai dan pulang, tersisa Diandra yang masih menyelesaikan jawabanya, Ben menghampiri Diandra, dia duduk didekat wanita itu dan memperhatikanya.


"Apa kamu seperti ini setiap hari?"Tanya Ben.


Diandra hanya diam, tidak menggubris pertanyaan dosen penggantinya sama sekali, dia sibuk dengan balpoin dan kertasnya.


"Aku bertanya, apa kamu mendengarnya?"Tanya Ben.


Taaakkk!! Diandra meletakan balpoinya diatas meja sangat kasar, dia meraih tasnya dan pergi pegitu saja, Ben sungguh tidak dapat berkata-kata melihat wanita yang sungguh tidak punya sopan santun itu, Ben meraih kertas jawaban Diandra, dia melihat isinya.


"Luar biasa, dia menjawab semua pertanyaan dengan benar meski dalam kondisi tidak fokus."Gumam Ben.


Diandra dan Nara pergi kekantin sebelum mereka pulang.


"Diandra, kamu mau kemana setelah ini?"Tanya Nara.


"Pulang."Saut Diandra.


"Skripsimu sudah berapa persen?"Tanya Nara.


"80%."Saut Diandra.


"Setelah lulus kamu mau bagaimana?"Tanya Nara.


"Bekerja dan keluar dari neraka itu."Saut Diandra.


"Kamu belum menemukan ibumu?"Tanya Nara.


"Belum."Saut Diandra.


Mereka bangkit dari duduknya setelah selesai, menuju mobil mereka masing-masing yang terparkir diarea kampus, Diandra terhenti lagi saat melihat Ben bersandar dipintu mobilnya.


"Cih.."Senyum Diandra kesal.


"Aku akan mengantarmu pulang."Ucap Ben.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍


Suka dengan novel ini?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏