My Sexy Girl

My Sexy Girl
Lamaran




"Tidak bisa Diandra, keluarga Zoan akan datang sebentar lagi."


Diandra menoleh dan beranjak duduk, "Tapi aku tidak mau menikah dengan Axel ayah!" Sahut Diandra.


"Mau tidak mau kamu harus menikah denganya."


"Ayah sangat egois! sejujurnya aku tidak mau menikah, aku mau hidup sendiri!"


"Kamu boleh memikirkan tentang masa depanmu, tapi selagi ayah masih hidup kamu akan tetap mematuhi perintah ayah."


"Tapi aku tidak mau menikah dengan Axel!"


Tuan Hans bangkit dari duduk, ia memutar tubuh dan menatap mata putri yang saat ini duduk di atas tempat tidur menatap matanya tajam.


"Ayah tidak ingin berdebat denganmu, bersiaplah sebelum keluarga Zoan datang."


"Aku tidak mau!"


Tuan Hans beranjak pergi, ia tetap teguh pada pendirianya untuk menikahkan Diandra dengan Axel, bagi tuan Hans Axel sudah sangat memenuhi kriteria sebagai menantu untuknya, Axel pun sangat pandai mengambil hati tuan Hans karena ia memang pria muda yang mampuh berkomunikasi dengan baik.


"Ayah!" Panggil Diandra.


Tuan Hans tidak menoleh meski Diandra memanggilnya, ia keluar dan mengunci kamar putrinya lagi karena ia takut Diandra akan melarikan diri.


Saat ini Diandra hanya diam duduk di atas tempat tidurnya, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, semua terlalu mendadak hingga ia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.


Tok... tok...


Pintu terbuka kembali dan Diandra menoleh dengan sepasang bola mata yang kembali memerah berkaca-kaca, ia melihat dua orang pelayan wanita berdiri di depan ayahnya, kedua pelayan itu masuk kedalam kamarnya dan tuan Hans mengunci pintunya lagi.


Dengan wajah sendu Diandra hanya diam menatap kedua pelayan wanita yang menghampirinya, kedua pelayan itu tertunduk melangkah perlahan sambil saling melirik, mereka nampak takut pada putri tuan Hans itu.


"Selamat pagi nona, tuan Hans ingin kami membantu nona bersiap." Ucap salah satu pelayan.


Diandra hanya diam, dia bangkit dari tempat tidur dan para pelayan mulai menyiapkan pakaian dan air hangat untuk ia membersihkan diri, pagi itu kedua pelayan melayaninya dengan sangat baik hingga Diandra yang terbiasa mengenakan pakaian minim kini menjelma menjadi Diandra yang sangat anggun dengan gaun sopan yang bernilai fantastis pemberian dari Axel.


Di ruang utama kediaman Hans, tuan Hans dan nyonya Jenie menyambut kedatangan keluarga Zoan, mereka saling berjabat tangan dan berbincang kecil sebelum meminta tamunya untuk masuk kedalam rumah.


"Mari masuk, jangan sungkan." Ucap tuan Hans, ia nampak sangat bahagia.


"Terimakasih tuan Hans." Sahut tuan Zoan ayahanda Axel.


Mereka semua melangkah bersama menuju ruang utama dan duduk sambil berbincang.


"Sebelumnya putraku Axel sudah datang menemui anda tuan Hans, aku sampai terkejut saat ia menghubungiku ingin melamar puti anda." Ucap tuan Zoan.


"Hahaha iya, putra anda sangat pemberani dan meminta putriku langsung padaku, aku sangat suka dengan pria seperti Axel."


"Baguslah jika anda menyukai putraku, ngomong-ngomong di mana Diandra putrimu?" Tanya tuan Zoan.


"Diandra sedang berdandan untuk menyambut anda dan keluarga." Ucap tuan Hans.


"Hahaha... anda sangat tampan tuan Hans, pasti putri anda juga sangat cantik meski tidak berdandan." Sahut tuan Zoan.


Mereka berbincang sangat akrab hingga tiba saat tuan Hans mulai meminta salah satu pelayan wanita untuk menjemput Diandra di kamarnya, pelayan wanita itu patuh dan langsung bergegas pergi hingga ia tidak kembali cukup lama.


Tuan Hans yang saat itu mulai mengorek tentang kepribadian Axel, ia menoleh saat pelayan itu menghampirinya dan berbisik sopan di telinganya.


"Tuan, nona Diandra tidak mau turun."


"Tunggu sebentar aku akan menjemput putriku." Ucapnya.


"Ah~ iya, silahkan." Sahut tuan Zoan.


Tuan Hans bangkit dari duduk, ia menuju kamar Diandra dengan di ikuti pelayan. Diandra menoleh ke arah pintu dan melihat ayahnya melangkah cepat menghampirinya, tuan Hans pun langsung meraih lengan Diandra yang hanya duduk di atas tempat tidur sedangkan ia dan keluarga Zoan telah lama menunggunya di ruang utama.


"Aku tidak mau ayah!" Ucap Diandra, ia berusaha melepaskan tangan tuan Hans dari lenganya.


"Diam!" Sahut tuan Hans.


"Ayah! aku tidak mau menikah dengan Axel!"


Tuan Hans terus melangkah maju menarik putrinya keluar dari dalam kamar, ia tidak melepaskan Diandra meski sepasang kaki jenjang wanita itu sangat kaku bagaikan kayu, Diandra tidak mau melangkah dan berusaha untuk tetap berada di dalam kamarnya.


Diandra meraih pintu dengan harapan ayahnya mau melepaskanya, namun nyatanya tuan Hans tidak melepaskanya hingga ia mulai mendekat ke arah tangga.


"Bersikaplah yang manis." Ucap tuan Hans.


Tuan Hans melepaskan cengkramanya, ia merapihkan jasnya dan meraih pergelangan tangan Diandra, ia mulai menuruni anak tangga dengan senyum yang tertoreh di wajah sedangkan Diandra hanya menundukan kepala dengan wajah dan sepasang mata yang merah, jujur saja saat itu Diandra sangat ingin menangis tapi dia tidak sudi menjatuhkan air mata bahkan terlihat lemah di hadapan Axel.


Tuan Zoan dan nyonya Yuna beserta putranya Axel, mereka bangkit dari duduk saat melihat kehadiran tuan Hans dan putrinya yang sangat cantik.


"Perkenalkan ini putriku, namanya Diandra Racel Hans." Ucap tuan Hans.


"Diandra sangat cantik." Ucap nyonya Yuna, ia tersenyum terlihat sangat menyukai Diandra.


"Iya Diandra sangat cantik." Sambung tuan Zoan.


"Mari silahkan duduk." Ucap tuan Hans mempersilahkan keluarga Zoan untuk kembali duduk.


Tuan Hans kembali duduk di susul Diandra duduk di dekatnya, Diandra hanya diam menundukan kepala, dia bahkan tidak mau menatap Axel ataupun keluarganya.


"Tuan Hans, apa aku boleh duduk di dekat Diandra?" Tanya Axel.


"Oh~ tentu saja Axel." Sahut tuan Hans.


Axel bangkit dari duduk, ia menghampiri Diandra dan duduk di dekatnya. saat itu Axel tidak dapat mengalihkan pandanganya pada objek lain, ia begitu fokus menatap Diandra yang sejak datang hanya diam menundukan kepala, ia bahkan tidak mau menatap matanya.


"Diandra, aku dan keluargaku datang untuk melamarmu." Ucap Axel, ia hendak meraih tangan Diandra untuk menggenggamnya namun Dianda segera meraih beberapa helai anak rambut yang menutupi wajanya, ia menyelipkan anak rambut itu di sela telinganya sambil ia menoleh ke arah yang berlawanan. Axel pun terdiam menatapnya dan perlahan ia menarik kembali tanganya.


"Hahaha... putriku Diandra memang pemalu." Ucap tuan Hans.


Tuan Zoan dan istrinya pun tersenyum, mereka percaya akan apa yang tuan Hans katakan karena mereka tidak mengenal sosok Diandra yang sesungguhnya.


"Kalau begitu aku akan memulainya, ayah, mamah, tuan Hans dan nyonya Jenie. hari ini aku Axel, di hadapan kalian meminta restu, aku ingin meminta Diandra sebagai istriku, aku datang untuk melamarnya. meski memang kami tidak dekat, tapi aku sangat serius ingin menikahi dan membahagiakanya aku ingin menjaganya." Ucap Axel, ia mengeluarkan kotak berwarna merah dari dalam saku jasnya. Axel membuka kotak itu di hadapan keluarganya dan keluarga Diandra, sebuah cincin berlian mewah bermata merah muda berada di dalamnya, Axel pun meraih cincin cantik itu dan meraih telapak tangan Diandra.


"Diandra.. aku harap kamu mau menerima niat baikku." Ucap Axel.


Diandra menoleh berbarengan dengan air mata yang menetes dari kedua sudut matanya, dia menatap mata Axel sangat tajam penuh kebencian.


"Aku tidak....."


"Silahkan di sematkan cincinya nak Axel." Sambar tuan Hans, ia merangkul Diandra sambil mencengkram lengan putrinya.


Diandra menoleh pada ayahnya dan tuan Hans menatap matanya sangat tajam seolah mengancam, Diandra pun terkejut dan menoleh saat Axel telah menyematkan cincin lamaranya di jari manis Diandra. Diandra menarik tanganya dan ia menatap jari manisnya yang kini berhias cincin tanda ikatan hubungan serius mereka berdua, Diandra pun tertunduk menjatuhkan air matanya lagi.


🍁My Sexy Girl🍁