
Malam itu Diandra terlelap disofa ruang televisi, sedangkan Ben kembali lagi dengan membawa selimut, dia menyelimuti tubuh Diandra dan terdiam menatapnya.
"Lebih baik aku menghentikan langkahku sebelum aku semakin jauh terperangkap olehmu Diandra."Ucap Ben.
Layar ponsel Diandra diatas meja menyala dan bergetar, Ben menoleh dan meraihnya, dia memeriksa isi ponsel Diandra tanpa izin.
"Cih... Banyak sekali priamu."Gumam Ben, dia meletakan kembali ponsel Diandra diatas meja.
Ben duduk disofa di ruangan itu, memandangi Diandra yang terlelap.
"Awalnya aku pikir kita akan bisa menjalin hubungan yang lebih serius, tapi setelah aku mengenalmu semakin dalam, aku merasa kita berada didunia yang sangat berbeda, aku... menyerah untuk meraihmu, tapi.. aku akan menjagamu sebagai teman wanitaku."Batin Ben.
Ben pun merebahkan tubuhnya disofa tempatnya duduk, perlahan larut dalam renungan dan terlelap hingga pagi menyambutnya lagi.
Mentari pagi belum muncul, Ben sudah membersihkan diri dan bersiap pergi ke kampus, dia membuatkan Diandra roti panggang dengan selai kacang dan susu hangat dengan tanganya sendiri, dia membawanya keluar dari dapur besih dan meletakanya diatas meja.
"Diandra, bangun.. ayo pergi ke kampus denganku."Ucap Ben, dia berusaha membangunkan Diandra yang tidak kunjung membuka matanya, Ben membangunkanya berulang kali.
"Diandra."Panggil Ben.
"Berisik banget sih!"Saut Diandra marah, dia menghempaskan tangan Ben dan melanjutkan tidurnya.
"Kita akan terlambat! ayo bangun!"Pinta Ben.
Diandra tidak menggubrisnya, membuat Ben merasa kesal, Ben pun masuk lagi kedapur dan keluar dengan membawa segelas air dingin, dia menuang air itu ditelapak tanganya dan memercikanya diwajah Diandra.
"Ben!"Teriak Diandra, dia sangat kesal.
"Bangun."Tegas Ben.
"Yaaissh!!"Ucap Diandra, dia bangkit dan melempar selimutnya, Diandra pergi kekamarnya, membuat Ben terdiam menatapnya.
"Bersihkan dirimu dan sarapan, cepat kita akan terlambat!"Ucap Ben pada Diandra yang melangkah semakin jauh darinya.
"Berisik!"Saut Diandra dan Gubrakk..!! suara pintu kamar yang Diandra banting sangat kasar.
"Hahh~ apa aku akan mati berdiri jika semakin lama serumah dengan wanita ini? apa ini saat aku menyesali telah memintanya tinggal dirumahku?"Gumam Ben.
Ben sudah duduk dikursinya dimeja makan keluarga, dia terlihat gelisah dan berulang kali melihat jam yang melingkar di perggelangan tanganya, Ben pun sudah tidak sabar lagi, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri kamar Diandra, dia mengetuknya berulang kali.
"Diandra! keluar! kita terlambat!"Ucap Ben kesal.
"Pergi sana! aku akan pergi ke kampus sendiri!"Saut Diandra dari dalam kamarnya.
"Hahh~ baik, aku pergi duluan."Ucap Ben.
"Iya!"Saut Diandra.
Setelah kesal dan menunggu lama, akhirnya Ben pergi sendirian ke kampus, hari itu dia datang telambat, kelas pun dimulai, tapi Diandra belum juga terlihat sampai Ben mulai memasuki mata kuliah ke 4 yang mana adalah kelas terakhirnya.
Hari itu Ben segera pulang kerumahnya setelah dia tidak melihat Diandra seharian, Diandra membolos lagi tanpa alasan.
Ben memarkirkan mobilnya di garasi dan masuk kedalam rumah, melihat jam dinding dengan posisi jarum pendek di angka 5 sore hari.
"Diandra."Panggil Ben, dia meraih gagang pintu kamar Diandra dan membukanya, mendapati wanita muda itu sedang tidur pulas dikamarnya, membuat Ben mengelus dada.
"Sungguh! wanita yang benar-benar tidak punya aturan, aku sungguh akan mati berdiri jika merasa kesal setiap hari."Gumam Ben.
"Cih..."Senyum Diandra, merasa lucu telah mengerjadi Ben hingga membuat wajahnya memerah.
"Dear, kamu sangat manis."Ucap Diandra.
Ben segera bangkit, namun Diandra menariknya lagi, membuat Ben benar-benar terdiam menatapnya, Diandra membuka mata, sayup-sayup dia menatap wajah tampan Ben yang saat ini ada diatas tubuhnya, Diandra tersenyum manis melihat wajah Ben yang merah seperti tomat.
"Diandra.. kamu akan menyesal jika menggodaku."Ucap Ben.
"Uuuhh~ takuuut."Saut Diandra, dia mendorong tubuh Ben menjauh dari tubuhnya hingga membuat Ben terhempas.
Diandra pun bangkit, menoleh pada Ben dengan senyum lucu, berhasil membuat Ben menjadi bo*doh dalam sekejap, Ben pun terdiam menatapnya, seorang wanita muda yang memiliki pesona, wanita muda yang mampuh menarik pria-pria mendekat kearahnya, Diandra yang saat itu sangat cantik dengan mata sayup, rambut panjang bergelombang, gigi putih dan rapih disertai senyum manis diwajah cantiknya, sore itu Diandra berhasil membuat Ben tergoda olehnya.
Diandra mendekat lagi, mendekatkan wajahnya ke wajah Ben, semakin dekat hingga hidung mereka saling beradu dengan tatapan mata dari keduanya yang sangat dalam, membuat wajah Ben semakin memerah menahan gairahnya.
"Hahahaaa~"Tawa Diandra merasa sangat puas.
Ben masih terdiam, namun.. dengan gerakan cepat Ben meraih kedua lengan Diandra, merebahkan wanita itu diatas tempat tidur dengan Ben yang saat ini ada diatas tubuhnya, Diandra terdiam menatapnya, Ben pun menarik sudut bibirnya dengan tatapan mata yang sangat lain dari sebelumnya.
"Kamu harus bertanggung jawab."Ucap Ben.
Ben langsung mencium bibir manis wanita yang saat ini ada dibwah tubuh bidangnya, dia mencium wanita itu sangat kuat hingga membuat Diandra terkejut dengan mata yang membelalak, berusaha melepaskan cengkraman Ben dari kedua tanganya, namun tidak semudah yang Diandra pikirkan, Ben sungguh tidak memberinya kesempatan untuk bergerak, hingga membuat mata Diandra kembali sayum, berkali-kali memejamkan mata menikmati manis ciuman pria yang saat ini bersamanya.
"Haahhh~"Engah Diandra, dia mendorong tubuh Ben dan bangkit, mengusap bibirnya yang memerah dan basah.
"Kamu gila Ben!"Ucap Diandra.
"Cih.. kamu yang memulainya, lain kali jangan macam-macam denganku atau.. aku akan melakukan lebih dari apa yang aku lakukan barusan padamu."Saut Ben.
Diandra masih terengah, merasa sangat kesal pada pria yang saat ini didekatnya, dia tertunduk, bangkit dari duduknya dan menghilang dibalik pintu kamar mandi, membuat Ben terdiam menatapnya yang berubah mood dalam sekejap.
Ben bangkit dari atas tempat tidur Diandra, dia masuk kekamarnya untuk membersihkan diri, Ben keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan jubah handuknya, meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambut basah yang menetes membasahi lantai, Ben duduk diatas sofa, memegangi bibirnya dengan jemari tangan kananya, terdiam mengingat ciuman manisnya bersama Diandra, Ben pun tersenyum dan melemparkan handuk kecinya keatas meja yang saat ini ada dihadapanya.
"Cih.. Diandra, selamat datang dikehidupanku, jangan pernah menyesal mengenalku karena sedikit demi sedikit, aku akan berusaha merubah dirimu menjadi pribadi yang lebih baik, Diandra.. mari bersamaku.. melangkah menuju cahaya kehidupan."Ucap Ben.
**
Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍
Suka dengan novel ini?
Dukung author dengan cara:
VOTE
LIKE
FAVORIT
KOMEN Sopan
Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏
Baca juga novel pertamaku judulnya Day's Eye
Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya