
"Lalu apa tujuanmu sekarang?"Tanya Ben.
"Aku meninggalkan tasku dirumah, pinjamkan aku uang."Saut Diandra.
"Kamu pinjam uang atau sedang menagih hutang?Tanya Ben.
"Baby Ben, apa aku bisa pinjam uangmu?"Tanya Diandra menggoda.
"Untuk apa?"Tanya Ben datar.
"Aku akan cari apartemen didekat sini, aku pasti akan ganti, kamu tidak perlu khawatir."Saut Diandra.
"Bagaimana caramu menggantinya? kenapa tidak mau pulang?"Tanya Ben.
"Cih.. aku punya banyak pria yang bisa memberiku uang berapapun yang aku mau, jika kamu tidak bisa bilang saja, kenapa aku tidak mau pulang itu urusanku."Saut Diandra, dia melepaskan infusnya.
"Apa yang kamu lakukan? mau kemana?"Tanya Ben bangkit.
"Aku tidak suka rumah sakit."Saut Diandra, dia bangkit dan melangkah pergi meski kesakitan.
"Kamu belum boleh pulang."Ucap Ben meraih pergelangan tangan Diandra, dia menggenggamnya.
"Aku akan cepat sembuh hanya dengan datang ke club."Saut Diandra.
"Apa katamu? kau akan pergi ke club? Diandra! pakai isi kepalamu!"Tegas Ben.
"Berisik!"Saut Diandra, dia tidak bisa dihentikan.
Ben mengurus administrasi dan mencari keberadaan Diandra, dia menyusuri jalan dan menghentikan kendaraanya saat dia melihat Diandra berjalan dengan setelan pakaian pasien rumah sakit, Ben memarkirkan mobilnya, keluar dan meraih tangan Diandra, dia memaksa wanita itu masuk kemobilnya, Ben membawanya pulang kerumah.
"Rumahnya sangat besar dan megah, rupanya dia sungguh sangat kaya."Ucap Diandra.
"Ayo turun."Ajak Ben, dia mengulurkan tanganya.
Diandra meraih uluran tangan Ben, dia keluar dari dalam mobil, Ben menarik tanganya dan Diandra pun patuh.
"Kamu bisa pakai kamar ini."Ucap Ben.
"Berapa banyak penghuni dirumah mewah ini?"Tanya Diandra.
"Hanya kita berdua dan pelayan."Saut Ben.
"Kita berdua? kemana orang tuamu?"Tanya Diandra.
"Mereka pergi ke Paris dan akan menetap disana."Saut Ben.
"Apa dirumah ini ada pakaian perempuan?"Tanya Diandra.
"Tidak ada, aku akan belikan untukmu."Saut Ben, dia memutar tubuh hendak keluar.
"Ben."Panggil Diandra.
"Apa?"Tanya Ben menoleh.
"Thanks."Saut Diandra.
"Iya."Saut Ben, dia berlalu pergi.
Diandra menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan kedua tangan yang merentang, dia tertidur pulas.
Ben kembali setelah dia membeli beberapa stel pakaian wanita, mengetuk dan membuka kamar Diandra, dia melangkah mendekat kearah tempat tidur, mematung menatap seorang wanita cantik yang saat ini berbaring pulas dihadapanya, Ben duduk didekat Diandra, dia meletakan paper bag didekatnya, menoleh untuk menatap wajah Diandra lagi.
"Kamu terlalu membentengi didirmu."Ucap Ben.
Ben bangkit lagi, meraih selimut untuk menyelimuti Diandra, dia keluar dari kamar dan membuat sesuatu didapur dibantu pelayanya.
"Tuan, nona itu siapa namanya?"Tanya kepala pelayan dirumah mewah Ben.
"Namanya Diandra, panggil dia nona Diandra, bibi Risa, tolong ambilkan piring saji."Pinta Ben.
Bibi Risa patuh, dia mengambil piring saji dan menyerahkanya pada Ben, setelah siap Ben membawa masakanya kekamar Diandra.
Diandra langsung membuka mata saat dia mencium aroma harum masakan, dia mengendusnya dan bangkit.
"Cih.. aku bahkan belum membangunkanmu."Ucap Ben.
"Ben kamu membawa apa?"Tanya Diandra, dia mendekati Ben.
"Apa aku boleh mencicipinya?"Tanya Diandra.
"Kau seorang wanita, bahkan tidak ada rasa malu sedikitpun."Ucap Ben.
"Aku masih lapar."Saut Diandra, dia merampas makanan yang ada digenggaman tangan Ben.
Ben membuntuti Diandra menuju sofa didalam kamar itu, tanpa sungkan Diandra langsung melahapnya meski masih panas, dia terlihat begitu lapar, Ben memperhatikanya, menatap Diandra sangat dalam.
"Kamu harus pulang, ibumu pasti khawatir."Ucap Ben.
Diandra langsung terhenti, selera makanya langsung hilang saat Ben mengucap kata "Ibumu", Diandra meletakan sendoknya dan minum.
"Aku akan pulang."Saut Diandra.
"Aku akan mengantarmu."Ucap Ben.
"Tidak perlu, kamu sudah banyak membantuku, aku bisa pulang sendiri."Saut Diandra.
"Iya, aku sudah kenyang, apa didalam paper bag itu pakaian wanita?"Tanya Diandra.
"Iya, kamu habiskan dulu makananmu."Saut Ben.
"Aku akan ganti pakaian."Ucap Diandra, dia bangkit dan meraih paper bag, diandra menghilang dibalik pintu kamar ganti.
"Kenapa tiba-tiba dia menghentikan makan? beberapa detik yang lalu dia masih terlihat sangat lapar, apa masakanku tidak enak?"Gumam Ben, dia mencicipi masakanya.
"Enak, apa yang salah?"Gumam Ben lagi.
Diandra keluar dari ruang ganti, dia terlihat sangat cantik menggunakan pakaian wanita yang Ben pilihkan untuknya, Diandra menghampiri Ben.
"Kamu yakin sudah membaik?"Tanya Ben.
"Iya."Saut Diandra.
"Aku akan pesan taxi, sambil tunggu kamu duduk dulu saja."Ucap Ben.
"Iya."Saut Diandra, dia patuh.
"Kenapa dia menjadi sangat patuh? tapi sepertinya dia menjadi murung."Ucap Ben.
"Apa yang kamu pikirkan?"Tanya Ben.
"Tidak ada, Ben.. apa kamu punya rokok?"Tanya Diandra.
"Aku tidak merokok, Diandra.. bisakah kamu berhenti merokok? itu tidak baik untuk kesehatanmu"Ucap Ben.
"Tidak bisa, lagipula rokok tidak bisa membunuhku."Saut Diandra.
"Taxinya sudah datang, ayo aku antar."Ajak Ben.
Diandra bangkit, dia membuntuti Ben, Ben membuka pintu taxi dan mempersilahkan Diandra untuk masuk, mereka berpisah saat taxi mulai melaju.
"Nona akan kemana?"Tanya driver taxi.
Diandra tidak pulang kerumah, dia menuju rumah Nara untuk hendak menginap disana, Nara menyambutnya sangat baik, dia senang jika Diandra menginap dirumahnya.
Keesokan hari, Nara membangunkan Diandra untuk mengajaknya pergi kekampus bersama.
"Aku tidak ngampus dulu hari ini."Saut Diandra.
"Kenapa?"Tanya Nara.
"Sudah pergi sana, kamu sudah kesiangan."Ucap Diandra.
"Baiklah."Saut Nara, dia bergegas pergi.
"Baby."Panggil Diandra, Nara menoleh.
"Jangan beritahu siapapun aku menginap dirumahmu."Pinta Diandra.
"Okay baby."Saut Nara, dia melangkah cepat menuju parkiran mobil dan pergi dari apartemenya.
Nara telah sampai dikampus, dia tidak satu jurusan dengan Diandra, Nara lebis menyukai management sedangkan diandra menyukai seni rupa, meski begitu mereka bersahabat sangat dekat.
"Nara."Panggil Mery.
"Iya mery, ada apa?"Tanya Nara.
"Diandra mana?"Tanya Mery.
"Dia sepertinya absen hari ini, aku tidak tau kanapa, Mery aku duluan ya sudah terlambat."Saut Nara.
"Aaah.. okay."Saut Mery.
Klas seni rupa II telah dimulai, Ben menatap kursi Diandra yang kosong.
"Ada yang tau Diandra kemana?"Tanya Ben.
"Sepertinya hari ini Diandra absen, tapi tidak tau kenapa."Saut Mery.
"Baiklah, kita mulai saja."Saut Ben.
Hari itu entah kenapa Ben merasa tidak bersemangat setelah mendengar Diandra tidak datang, rupanya Diandra sudah mulai memiliki tempat dihati Ben.
**
Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍
Suka dengan novel ini?
Dukung author dengan cara:
VOTE
LIKE
FAVORIT
KOMEN Sopan
Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏