
"Ayah?" Batin Diandra.
Tuan Hans keluar dari dalam mobilnya, ia melangkah cepat menghampiri Diandra dan tanpa basa basi tuan Hans langsung meraih lengan Diandra, dia menariknya untuk masuk kedalam mobil.
"Lepas ayah." Pinta Diandra.
Langkah tuan Hans terhenti saat Kai menggenggam tangan Diandra, seketika tuan Hans menoleh dan ia langsung menghadiahi pria muda itu dengan kepalan tanganya hingga Kai terhempas dan jatuh ke tanah memegangi wajahnya.
"Ayah!"
"Diam! ayo pulang!"
"Untuk apa pulang?" Tanya Diandra, ia menghempaskan tangan ayahnya dan melangkah mundur.
"Kau ini wanita Diandra! kau hidup di mana-mana padahal punya rumah! untuk apa ayah membangun rumah besar jika kamu bahkan selalu tinggal di rumah orang lain? kamu mau mempermalukan ayah?"
"Untuk apa aku tinggal di rumah besar tapi bagai neraka di dalamnya? aku pikir ayah membangun rumah besar itu untuk istri pela*cur ayah!"
"Tutup mulutmu! ayo pulang!" Ucap tuan Hans, ia kembali meraih lengan Diandra dan memaksanya masuk kedalam mobil.
"Aku tidak mau pulang! ayah akan memukuli aku lagi kan! lepas!" Pinta Diandra.
Tuan Hans tidak menggubris permintaan Diandra, ia memaksa putri sematawayangnya itu masuk kedalam mobil untuk ikut pulang bersamanya, meski saat itu Diandra memberontak namun nyatanya ia tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman tangan ayahnya.
Diandra telah berada di dalam mobil mewah pejabat itu, dia meninggalkan Kai yang tidak bisa berbuat apa-apa karena Hans adalah ayah Diandra, Kai tidak mungkin membalas pukulan pria itu.
Di dalam mobil Diandra hanya diam menatap keluar jendela, ia duduk di baris kedua mobil ayahnya tentu bersama tuan Hans yang saat ini sedang mengontrol emosinya.
Mobil mereka melesat cepat menuju kediaman Hans, tuan Hans keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Diandra, dia meraih perggelangan tangan putrinya dan menariknya masuk, Diandra melangkah cepat mengikuti tiap langkah kaki jenjang ayahnya, mereka menuju ruang utama dan tuan Hans menghempaskan putrinya di atas sofa.
"Aku tidak mau tinggal di rumah ini!" Ucap Diandra, ia bangkit dari duduk dan bergegas pergi lagi.
"Mau kemana lagi? diam dan dengarkan ayah!" Sahut tuan Hans, dengan sigap ia meraih kedua lengan Dianda untuk mendorongnya duduk lagi di atas sofa.
"Ayah!"
"Dengarkan ayah Diandra! ayah sudah menjodohkanmu dengan seseorang, mau tidak mau kamu harus menikah denganya."
"Apa-apaan ini ayah! ayah menjodohkan aku tanpa bicara dulu padaku! aku tidak mau!"
"Kamu harus mematuhi perintah ayah dan berhentilah membangkang!"
"Cih! ayah! ayah! ayah! kau bukan ayahku! tidak ada ayah yang tega memukuli putri sematawayangnya hanya demi membela istri pela*cur menjijikan itu! kau bahkan tidak perduli akan biaya hidupku! aku mencari dan membiayai diriku sendiri! dan dengan bangga kau menyebut dirimu ayah? kau bahkan menelantarka ibu Hans!"
Plaaakkkk!!!
"Cukup Diandra! sekarang masuk ke kamarmu!" Ucap tuan Hans, ia meraih lengan putrinya lagi dan menariknya menaiki satu per satu anak tangga di rumahnya untuk hendak menuju kamar Dianda.
Tuan Hans membuka pintu kamar Diandra, ia mendorong putrinya masuk, hingga Diandra terhempas dan terduduk di lantai kamarnya dan tuan Hans meraih gagang pintu kamar wanita muda itu.
"Besok keluarga Zoan akan datang untuk melamarmu, bersiaplah."
"Iya! dia pria muda yang tampan dan mapan, dia cerdas dan kuat dalam dunia bisnis, bagiamnapun caranya kamu harus menikah denganya."
"Tidak! aku tidak mau ayah!"
Diandra yang saat ini terduduk di lantai, ia langsung bangkit dan berlari menuju pintu kamarnya saat tuan Hans menutupnya. Diandra memukuli pintu itu dengan sepasang kepalan tanganya, dia menangis sejadi jadinya saat mengetahui jika ayahnya akan menjodohkan dia dengan pria yang sangat ia benci sampai saat ini.
"Aku tidak mau ayah! buka pintunya! aku mau pergi dari neraka ini!" Ucapnya.
Diandra terus memukuli pintu kamarnya, ia bahkan menendangi pintu itu dengan kakinya.
"Aaaaahhhh!!!! buka pintunya Hans!" Teriaknya.
Diandra memutar tubuh, ia yang sangat marah bahkan dengan bringas melemparkan apa saja yang di lihatnya, ia bahkan membenci setiap benda yang ada di dalam rumah itu.
Craaaang!!! braaakkk!!!
Suara itu nyaring terdengar hingga membuat gaduh, Diandra mengamuk di dalam kamarnya, dia bahkan berterik memanggil nama ayahnya "Hans! buka pintunya!" Teriaknya.
Diandra melempar tubuh ke atas tempat tidur, ia menenggelamkan wajahnya di atas bantal, isak tangis wanita itu masih mendominasi kamar mewahnya, malam itu langit menjadi saksi akan semakin bertumbuh besar rasa bencinya terhadap pria yang telah di takdirkan sebagai ayahnya.
"Aku tidak mau menikah dengan Axel\, aku membencinya! pria breng*sek! bajing*an! kepa*rat" Ucapnya.
Tidak dapat di pungkiri jika rasa benci Diandra terhadap Axel masih sangatlah besar, hati seorang wanita yang di permainkan olehnya di saat ia sedang merasakan cinta sebesar semesta terhadapnya, kalimat "Diandra wanita bekas pakainya" adalah 1 alasan terkuat wanita itu tidak mau memaafkanya sampai saat ini.
Seolah dunia kembali tidak berpihak padanya, Diandra hanya melalui malamnya dengan rasa kecewa, ia tidak bisa tidur dan hanya menangis tanpa satu orang pun dapat menenangkanya, bagaikan rumah dia adalah rumah yang tidak memiliki atap, tidak ada perlindungan dan hanya menunggu waktu untuk membuatnya usang dan perlahan hancur.
Malam telah berlalu, mentari bahkan sudah menyambutnya lagi di pagi hari. Diandra saat ini hanya diam dengan pandangan kosong, ia berbaring menyamping mengerucutkan tubuhnya, hidung dan matanya masih merah, itu tanda ia masih menangis. sepasang mata wanita itu bahkan membengkak, Diandra sungguh sangat kecewa.
Tit... tit... tit...
Suara itu terdengar dari luar kamarnya, tepat di posisi pintu, itu adalah suara seseorang yang sedang membuka kunci pintu kamar Diandar dengan menggunakan password.
Suara pintu terbuka bahkan membuat Diandra semakin mengerucutkan tubuhnya, suara langkah sepatu semakin terdengar jelas menghampirinya, dia adalah tuan Hans.
Tuan Hans menghampiri Diandra, dia duduk di atas tempat tidur di dekat Diandra putrinya, kehadiran tuan Hans di tempat itu rupanya membuat Diandra semakin bersedih, mereka yang hanya diam bahkan saling membelakangi, kamar yang hancur berantakan saat ini dan hanya ada suara isak tangis wanita muda yang berbaring di atas tempat tidurnya.
Tuan Hans menoleh, ia mengulurkan tangan dan mengelus kepala Diandra sangat lembut.
"Sudah sangat lama ayah tidak duduk di satu meja makan denganmu, ayo kita sarapan, kamu pasti lapar." Ucapnya sambil ia mencium kepala Diandra.
Diandra hanya diam, sejujurnya dia sangat merindukan sosok Hans yang seperti sekarang ini, ini adalah sosok dari Hans yang sesungguhnya sebelum ia mengenal pela*cur menjijikan itu meski memang perdebatan selalu terjadi di antara kedua orang tuanya.
"Apapun keinginan ayah akan aku patuhi mulai hari ini asalkan ayah batalkan rencana pernikahanku bersama Axel."
Tuan Hans terdiam, ia menatap putri yang bahkan tidak mau menatapnya saat ia bicara denganya.
"Ayah ingin kamu mendapatkan yang terbaik, dia pria yang memenuhi semua kriteria. Diandra ayah harap kamu mau menikah dengan Axel."
"Aku sudah memiliki kekasih, dia mapan, tampan dan dia juga sama seperti Axel, dia seorang Presiden Direktur pewaris perusahaan besar. aku mau menikah denganya."
🍁My Sexy Girl🍁