
Harap untuk memilih bacaan!!!
Sambil mengendarai mobil Axel mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, ia melakukan panggilan pada sekertaris Khelvin.
"Halo tuan." Sapa Khelvin.
"Khelvin, atur pertemuanku bersama tuan Hans." Perintah Axel.
"Tuan Hans? seorang perjabat, ayah nona Diandra tuan?" Tanya Khelvin.
"Iya, malam ini aku ingin menemuinya."
"Baik tuan."
Hari itu Ben tidak menemukan Diandra, dia kembali kerumah dengan tangan kosong. sedangkan Diandra sedang sibuk menari-nari di atas tempat tidur empuk sahabatnya, tentu saja ia menari bersama Nara dengan musik rock yang menggema sangat kuat.
"Kamu sudah tidak sedih lagi kan baby?" Tanya Nara.
"Iya baby, aku padamu pokoknya!!!" Sahut Diandra, mereka saling berteriak di tengah bisingnya suara musik beraliran keras itu.
Diandra dan Nara mulai meraih guling, mereka saling memukul sangat kuat dan berulang kali jatuh dari tempat tidur, apa yang mereka lakukan memang sungguh tidak pantas karena mereka sudah bukan anak-anak lagi mereka adalah wanita muda yang telah dewasa.
Mereka berpesta dan menghabiskan waktu bersama hingga hari mulai sore, Sungguh... Nara adalah bagian dari Diandra, wanita itu sangat memahami sosok Diandra hingga ia paling tau apa yang bisa membuat Diandra kembali bahagia saat ia sedang down, Nara akan melakukan apapun seperti saat ini untuk membuat sahabatnya itu tersenyum lagi dan melupakan masa lalu yang menghantuinya selama ini.
"Baby sudah sore! mandi! mandi!" Ucap Nara.
"Ayo kita mandi bersama baby!" Sahut Diandra.
"Tidak mau!"
"Hahahahaha.... kenapa? kamu kalah saingkan?"
"Iiiiiihhh apa sih baby!"
"Hahahaha...."
Suara tawa kembali meramaikan rumah Nara, mereka mandi bergantian dan seperti biasa Diandra meminjam pakaian sahabatnya, mereka saling berhadapan untuk saling mendandani satu sama lain. kedua wanita itu bercermin dan keduanya tertawa geli bersama saat mereka sehati saling mendandani ala badut yang sangat menggelikan.
Dimalam hari mereka berganti pakaian, iya! Nara juga wanita yang butuh kebahagiaan, dia hidup sendirian karena kedua orang tua yang telah menelantarkanya sejak kecil, Nara hidup mandiri dengan profesinya yang sama dengan Diandra meski ia tidak sehebat Diandra dalam menggaet mangsanya.
Kedua wanita itu sudah sangat seksi, mereka sudah siap untuk pergi ke Club, Nara membuka pintu rumahnya dan ia terdiam saat melihat seorang pria hendak mengetuk pintu, pria itu pun terdiam dan menoreh senyum.
"Apa Diandra ada di dalam?" Tanyanya.
"Ada."
Nara menoleh dan mencari keberadaan Diandra, "Baby..." Panggilnya.
"Tunggu sebentar." Sahut Diandra dari kejauhan.
"Ada yang datang mencarimu."
"Siapa?"
"Siapa namamu?" Tanya Nara.
"Aku Kai."
"Namanya Kai baby."
"Kai?"
"Iyaaaaa."
"Wait!!"
Diandra berlari dan terhenti saat ia melihat Kai, Diandra melangkah cepat dan melompat kepelukan pria itu.
"Dear, kamu kemana saja?" Tanya Diandra.
"Kamu memblokir nomor ponselku, lupa?"
"Benarkah? lalu kenapa kamu baru datang sekarang?"
"Aku baru sembuh, teman pria yang membawamu pergi dari club dia memukuliku."
"Benarkah? maaf ya dear."
"Tidak apa."
"Okay baby hati-hati ya."
"Iya, aku duluan ya." Nara melangkah cepat menghampiri kekasihnya, ia masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Diandra dan Kai di rumahnya.
Kai dan Diandra pun mulai mengalihkan pandangan mereka lagi, mereka saling melangkah maju dan kai mulai meraih kedua sisi pinggang ramping Diandra.
"Aku sangat merindukanmu." Ucapnya.
"Aku juga." Sahut Diandra, dia mengelayuti leher Kai.
Kai mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra, Diandra tersenyum dan wanita itu langsung mencium pipi Kai.
"Kenapa hanya pipi?" Tanya Kai.
"Hanya itu yang gratis." Sahut Diandra.
"Hahaha... kamu memang yang paling manis." Ucap Kai, ia langsung membungkam mulut Diandra dengan mulutnya.
Kai mencium bibir Diandra sangat lembut, ia sangat menyukai wanita itu meski ia tau Diandra memiliki banyak teman kencan sama sepertinya. mereka menikmati pertemuan itu dengan sambutan manis.
Diandra menarik diri dan ia merebahkan kepalanya di dada Kai, Kai memgelus kepala dan membelai rambut panjangnya, dia juga menciumi puncak kepala Diandra.
"Honey..." Panggil Kai.
"Hmmm~" Sahut Diandra.
"Aku ingin menikahimu." Ucap Kai.
Diandra menarik diri dan menatap mata Kai, pria itu sungguh sangat serius dengan ucapanya kali ini.
"Tapi kamu tau jika aku hanya bermain-main denganmu dear."
"Apapun itu apa kamu bisa merubah semua keadaan ini?"
Diandra menggelengkan kepala dan menjawab "Aku tidak bisa, aku tidak mau menikah."
"Kenapa? Honey, aku putra tunggal, aku putra pemilik bandara internasional di kota ini, aku bahkan sudah mulai memegang kenadali, aku bisa memenuhi semua kinginanmu, semua kebutuhanmu."
"Maafkan aku dear tapi aku tidak mau menikah."
"Honey aku mohon..."
"Sudahlah dear, jangan membuang waktumu untuk membujukku karena sampai kapanpun aku akan tetap menjawab tidak."
"Honey, bukankah usia semakin bertambah?"
"Aku tidak perduli."
Kai tertunduk kecewa, dia sangat menginginkan Diandra namun apa yang harus dia lakukan Jika Diandra bahkan tidak mau menikah.
"Jika begitu apa kamu mau hidup sersamaku? tanpa ikatan apapun dan aku akan memberikan semua yang kamu mau, jika kamu tidak percaya aku akan membuat perjanjian hitam di atas putih."
"Apa kamu bisa memberiku waktu untuk berpikir?"
"Tentu saja, tapi aku sangat berharap kamu mau hidup bersamaku."
"Aku akan mempertimbangkanya."
Kai tersenyum dan ia mulai mencium wanita itu lagi, ia menyesap bibir wanita itu penuh gairah, kali ini Kai bahkan sangat bringas melakukanya, entah apa yang terjadi pada pria itu yang jelas Diandra pun hanya ber basa-basi denganya.
"Cih... menikah? dengan pria seperti kalian? Heh~ kalian lebih pantas di permainkan bukan?" Batin Diandra.
Diandra memejamkan mata menerima ciuman dari Kai, tentu itu hanya sebagai pelengkap kencan mereka, seperti yang Diandra ucapakan, dia benci pria dan dia tidak mau menikah, dia hanya ingin bermain-main dan mendapatkan keuntungan dari kesenanganya tanpa ia harus merugikan dirinya untuk menjual diri pada mereka pria-pria yang menginginkanya.
Diandra tidak perduli akan perasaan mereka terhadapnya, toh ia sudah jujur sejak awal pada pria-pria itu jika mereka bukanlah satu-satunya dan mereka hanya untuk bermain saja. Diandra sudah bicara sejak awal untuk mereka tidak menaruh harapan padanya meski itu sebesar semut.
Diandra menarik diri lagi, dengan nafas yang terpenggal-penggal ia menatap mata Kai.
"Ayo kita pergi." Ajaknya.
"Iya." Sahut Kai.
Kai dan Diandra bergegas pergi, mereka menuju mobil Kai yang terparkir di halaman rumah Nara, langkah pasangan itu terhenti saat Diandra melihat sebuah mobil mewah terhenti di dekatnya, dia mengenal mobil itu.
"Diandra." Panggil seseorang dari dalamnya.
🍁My Sexy Girl🍁