My Sexy Girl

My Sexy Girl
Aku lapar




Taakk..!! Diandra meletakan penanya diatas meja, meraih tas dan bangkit dari duduknya, dia hendak pergi namun Ben meraih pergelangan tanganya, Ben menggenggamnya dan Diandra pun menoleh.


"Ada apa?"Tanya Ben khawatir.


"Bukan urusanmu!"Saut Diandra, dia menghempaskan tangan Ben dari tanganya.


Diandra melangkah membuntuti tuan Willy untuk menuju ruanganya, Diandra masuk dan melihat keberadaan Geea didalamnya.


"Silahkan duduk Diandra."Pinta tuan Willy.


Diandra patuh, dia duduk berdampingan dengan Geea.


"Berikan surat ini pada ayahmu."Pinta tuan Willy, dia menyerahkan sebuah amplop berisi surat undangan untuk ayah Diandra, tuan Willy meletakan surat itu diatas meja didepan Diandra karena Diandra tidak kunjung menerimanya, Diandra menatap surat itu.


"Dan ini berikan pada ayahmu Geea."Pinta tuan Willy, dia menyerahkan sebuah amplop berisi surat yang sama pada Geea.


"Baik tuan Willy."Saut Geea, dia menoleh pada Diandra dan tersenyum picik.


Diandra mendorong surat itu dengan jari telunjuknya, dia mendorong dan menghentikanya tepat dihadapan tuan Willy, tuan Willy tidak mengerti apa maksud Diandra.


"Anda memanggil ayahku?"Tanya Diandra, dia melipat kedua tanganya didada.


"Diandra, jaga sikapmu."Pinta tuan Willy, Geea terdiam menatap wanita yang ada didekatnya.


"Katakan kesalahan apa yang aku perbuat?"Tanya Diandra.


"Kamu menyiram Geea dengan Jus jeruk dan jus manggah, kampus ini bukan tempat untuk saling membully, kalian harus mendapatkan hukuman dan panggil orang tua kalian datang ke kampus besok."Ucap tuan Willy tegas.


"Meski bukan aku yang memulainya?"Tanya Diandra.


"Meski bukan kamu yang memulainya tapi sikapmulah yang harus aku bicarakan dengan ayahmu."Saut tuan Willy.


"Tuan Willy, apa maksud anda aku juga akan dihukum?"Tanya Geea.


"Tentu saja, kalian berdua akan dihukum."Saut tuan Willy.


"Sial tau seperti ini, aku tidak akan mengadu."Batin Geea.


"Anda butuh orangtuaku datang kan? jika begitu kenpa anda tidak memanggilnya sendiri saja?"Tanya Diandra.


"Sudah tidak ada yang perlu dibahas, jika begitu aku pulang."Ucap Diandra, dia bangkit dari duduk dan memutar tubuh untuk hendak meninggalkan ruangan tuan Willy, namun dia terhenti dan menoleh.


"Tuan Willy, ayahku pasti akan sangat terhormat jika mendapatkan undangan dari anda langsung."Ucap Diandra, dia melanjutkan langkahnya dan menghilang dibalik pintu ruangan.


Hari itu tuan Willy mengundang secara langsung ayah Diandra untuk datang ke kampus, Diandra sendiri belum pulang kerumah semenjak dia mendapatkan perlakuan keras dari ayahnya.


Ke esokan hari, tuan Hans datang kekampus, bertemu ayah Geea dan tuan Willy, tuan Willy meminta kedua ayah tersebut untuk lebih memperhatikan sikap putri mereka, tuan Willy juga meminta izin pada kedua konglomerat itu untuk menghukum putri mereka bersih-bersih dikampus selama 5 hari untuk membuat mereka jera dan menyadari jika mereka berdua melakukan kesalahan, mereka mengakhiri pertemuan berbarengan dengan jam pulang.


Tuan Hans melihat putrinya Diandra keluar dari kelas, saat itu Ben ada dibelakang Diandra, dia melihat pria paruh baya itu menghampiri Diandra, pria itu meraih pergelangan tangan Diandra dan menariknya pergi bersamanya, dia tidak melepaskan tangan putrinya meski Diandra memberontak, membuat Ben terus membuntuti keduanya.


"Lepas ayah!"Tegas Diandra, dia menghempaskan tangan ayahnya dari tanganya.


Tuan Hans memutar tubuh dan menatap mata putrinya sangat tajam penuh kemarahan, Ben terhenti dan menyembunyikan diri dibelakang salah satu mobil diparkiran kampus besar itu.


"Diandra! kamu sudah mempermalukan ayah! apa yang akan dikatakan oleh media jika mereka tau putri seorang pejabat dikota ini melakukan hal yang sangat memalukan!"Tegas tuan Hans.


"Cih... hal sepele kau ributkan, lalu bagaimana denganmu yang mencampakan istrimu dan menikahi temanya? istrimu menghilang selama 6 tahun dan kau hanya diam saja! apa kau...tidak takut media akan menyorotmu? apa menurutmu kamu tidak memalukan?"Tanya Diandra dengan senyum getir diwajahnya.


Plaakkk...!! Tuan Hans menampar wajah Diandra lagi, dia meremas lengan putrinya dan memaksanya masuk kedalam mobil.


"Ayo masuk!!"Tegas tuan Hans.


Tuan Hans membawanya pulang, dia mengunci pintu mobilnya dan memaksa Diandra masuk kedalam kamarnya, hari itu tuan Hans memperlakukan putrinya sangat kasar lagi, dia merasa jika Diandra sudah mempermalukanya dan selalu menentangnya, tuan Hans keluar dari dalam kamar Diandra dengan kemarahanya lagi, dia mengurung Diandra dan kembali ke kantor saat itu juga, untuk kesekian kalinya, Diandra mengerang kesakitan penuh luka lebam ditubuhnya.


Tuan Hans tidak pulang, dia menelpon istrinya dipagi hari untuk membuka pintu kamar Diandra karena dia harus pergi ke kampus setelah tuan Hans menerima panggilan telpon dari tuan Willy yang menayakan Diandra padanya, saat itu tuan Hans baru ingat jika dia mngurung Diandra di kamarnya.


Diandra hanya diam, duduk dilantai bersandar disisi tempat tidurnya sambil memeluk lutut, menatap dengan tatapan kosong.


Ny. Jenie tersenyum melihat Diandra yang seperti itu, dia sungguh sangat puas, Ny. Jenie pun keluar dari kamar Diandra.


Diandra bangkit dari duduknya, menahan rasa sakit disekujur tubuhnya, dia membersihkan diri dan pergi ke kampus, bagaiamanapun juga dia masih harus berjuang sedikit lagi untuk menyelesaikan pendidikan S1 nya, dia harus patuh dan bersabar sedikit lagi untuk bisa pergi meninggalkan neraka itu dan hidup sendirian ditempat yang lain, hidup dengan hasil kerja keranya sendiri.


Pagi itu Ben menunggunya ditempat parkir, tempat biasa Diandra memarkirkan mobilnya, Diandra datang dan memarkirkan mobilnya, keluar dari mobil dan melewati Ben tanpa menoleh dan berjalan dengan tatapan kosong.


"Diandra."Panggil Ben.


Diandra mendengar, namun dia malas meladeni Ben, dia terus berjalan tanpa memperdulikan pria itu, Ben pun melangkah cepat menyusulnya, meraih pergelangan tanganya untuk menghentikan langkah kaki Diandra.


"Auuu sakit!!"Ucap Diandra kesakitan, dia mengerucutkan tubuhnya dan tertunduk.


Membuat Ben dengan sigap melepaskan genggamanya karena dia tidak ingin menyakiti wanita itu.


"Sakit? mana yang sakit?"Tanya Ben.


"Diandra."Panggil tuan Willy.


Diandra menghampirinya dan meninggalkan Ben, dia melihat Geea ada didekat tuan Willy, tuan willy meminta kedua wanita muda itu untuk bersih-bersih lapangan yang yang dipenuhi sampah daun kering sebelum mereka memulai belajar, dalam 5 hari terhitung sejak hari itu, mereka berdua harus datang 1 jam lebih awal untuk bersih-bersih.


Hari itu Diandra yang belum makan apapun sejak kemarin ayahnya mengurungnya tanpa memberinya makan, Diandra bersih-bersih tanpa makan siang, makan malam bahkan tidak sarapan, dia sangat pucat dan kesakitan, namun dia bukan wanita lemah yang mengeluh dan merengek minta untuk dikasihani, Diandra meletakan alat-alat kebersihanya setelah dia telah selesai, Geea pun pergi meninggalakanya karena kesal jika diapun mendapatkan hukuman atas pengaduanya pada tuan Willy.


Diandra masih didekat gudang yang ada dibelakang gedung kampusnya, dia bersandar disisi tembok, memegangi perut dan merasakan sakit disekujur tubuh, dia pun jongkok, meringis sambil memejamkan mata, tertunduk tidak berdaya.


"Diandra, minum ini."Ucap seorang pria, dia memberi air mineral pada Diandra.


Diandra membuka mata dan melihat sepasang kaki dengan sepatu hitam yang mahal sudah ada dihadapanya, dia mendongak untuk melihat wajah pria itu, Diandra tersenyum lucu dengan wajah pucatnya saat dia melihat pria itu adalah Ben yang selalu mendekatinya, Diandra pun menerima air yang Ben berikan padanya, dia masih jongkok, tidak punya tenaga hanya untuk membuka tutup botol yang masih tersegl.


Ben pun jongkok dan merampas lagi air minaral yang ada ditangan Diandra, dia membukakan tutup botolnya dan memberikan air itu untuk Diandra minum, Diandra menerimanya lagi dan menenggaknya sampai habis tidak tersisa.


"Sangat haus? mau aku belikan lagi?"Tanya Ben.


"Aku lapar, berikan aku makanan."Pinta Diandra, dia tiba-tiba menangis dihadapan Ben, Diandra tidak bisa menahanya lagi.


"Aku lapar."Ucapnya lagi, airmatanya begitu deras dan dengan cepat membasahi kedua pipinya.


"Diandra, jangan menagis, tunggu sebentar aku akan bawakan makanan untukmu."Ucap Ben, dia menghapus airmata Diandra dengan kedua telapak tanganya dan bangkit meninggalkan Diandra untuk memebelikanya makanan.


Diandar terisak pilu dibelakang gedung kampusnya.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍


Suka dengan novel ini?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏


Baca juga novel pertamaku judulnya *Day's Eye*


Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya