My Sexy Girl

My Sexy Girl
"Aku benci aturan"




Mulai dari hari itu Diandra akan tinggal dirumah Ben, Ben mempersiapkan satu kamar yang letaknya berdampingan dengan Diandra dirumah mewahnya, mereka pulang bersama setelah jam kuliah telah habis.


"Mulai hari ini, kamar ini adalah kamarmu."Ucap Ben, dia membuka pintu kamar dan memperlihatkan isinya.


"Terimakasih."Saut Diandra.


"Kamarku di dekat kamarmu, panggil saja jika membutuhkan sesuatu."Ucap Ben.


"Iya."Saut Diandra.


"Masuklah dan beristirahat, aku akan pesan makanan."Ucap Ben.


Ben melangkah meninggalkan Diandra didepan pintu kamar yang akan dihuninya mulai hari itu.


"Ben."Panggil Diandra.


"Iya."Saut Ben, dia menoleh.


"Jangan batasi gerakku dirumah ini, karena aku akan menjalani kehidupanku sesuai apa yang aku mau, aku tidak suka aturan dan aku mungkin akan sering keluar malam."Ucap Diandra.


"Kamu sudah memutuskan, apa hakku melarangmu? tapi kamu tinggal dirumahku sekarang, aku akan menegurmu jika kamu keterlaluan."Saut Ben, dia melanjutkan langkahnya dan menghilang dari pandangan Diandra.


Diandra masuk kedalam kamarnya, dia duduk diatas sofa memandangi tiap detail dari tiap sisi ruangan yang begitu mewah, memandangi tiap furniture dengan harga fantastis dirumah pria yang belum lama dikenalnya.


Diandra mengalihkan pandanganya, menatap layar ponselnya yang menyala disertai getaran yang mengejutkanya, Diandra memeriksa isi chat yang sudah menumpuk, dia mulai sibuk membalasnya satu per satu dengan senyum manis yang tertoreh diwajah, duduk santai bersandar disofa mahal kediaman Ben.


Ben meninggalkan kediamanya dan kembali dengan banyak setelan pakaian wanita, dia membawanya ke kamar Diandra.


"Diandra."Panggil Ben.


Ben mengetuk dan memanggilnya berulang kali, namun tidak ada jawaban dari dalam, Ben pun meletakan barang bawaanya dilantai dan meraih gagang pintu, dia membukanya dan menyalakan lampu yang sudah dimatikan oleh Diandra, dia menatap wanita yang tertidur pulas diatas ranjang didalam rumahnya, Ben mendekat dan meletakan barang-barangnya diatas meja, dia memandangi wajah cantik Diandra meski dalam keadaan pulas.


Ben duduk diatas tempat tidur didekat Diandra, dia mengelus pipi wanita itu dan mencium keningnya, bangkit untuk meraih selimut tebal dan menutup seluruh tubuh Diandra, wanita yang beranjak dewasa dengan tubuh yang sudah terbentuk sempurna.


"Cih.. aku pria normal, seharusnya kamu lebih berhati-hati dan tidak lupa mengunci kamarmu lagi, jika tidak.. kamu akan menyesalinya."Ucap Ben.


Ben meletakan makanan diatas meja didalam kamar itu, dia mematikan lampu dan menutup kembali pintu kamar Diandra, Ben masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.


Ditengah malam, Ben membuka mata setelah mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup, dia bangkit dan membuka pintu kamarnya, dia tidak melihat siapapun, Ben pun mengikat jubah tidurnya, melangkah keluar menuruni anak tangga di rumah mewah yang sudah gelap ditengah malam, dia melihat kelantai dasar setelah menyadari televisi sudah menyala, perlahan Ben mendekat dan menghentikan langkahnya, Ben mematung melihat Diandra sedang duduk disofa menatap layar televisi yang tidak bersuara dengan tatapan kosong, mengepulkan asap dari mulut dengan sebatang rokok yang ada digenggaman tangan kirinya.


"Diandra."Panggil Ben.


Diandra menoleh, tapi dia tidak mejawabnya, Ben pun mendekat dan merampas rokok yang sedang dinikmati Diandra, dia mematikan rokok itu diasbak yang bersih tidak pernah terpakai sebelumnya, membuat Diandra heran menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan?"Tanya Diandra pada Ben yang duduk didekatnya.


"Dirumahku tidak ada yang boleh merokok."Saut Ben.


"Heh! kalau begitu untuk apa menyuruhku tinggal dirumahmu? aku sudah bilang untuk tidak membatasi gerakku dan aku akan melakukan apapun sesuka hatiku!"Saut Diandra marah.


Diandra meraih bungkus rokoknya, mengeluarkan satu batang dari dalamnya dan menyalakan korek api untuk menikmati rokoknya lagi, Ben terdiam menatapnya, Diandra yang begitu berbeda saat di kampus dan diluar kampus, membuat Ben menatap mata wanita itu sangat dalam.


Diandra mendekat, menekan dadanya dilengan Ben, tersenyum picik sambil mengepulkan asap rokoknya kewajah Ben, Diandra juga meniup telinga pria yang saat ini ada didekatnya.


"Hahaa~"tawa Diandra merasa lucu melihat wajah Ben yang datar.


"Diandra, kamu sungguh sangat pintar berkamuflase, berubah begitu drastis dan sangat berbeda."Ucap Ben.


"Apa kamu menyesal memintaku tinggal dirumahmu? heemm?"Tanya Diandra, dia berbisik ditelinga Ben.


"Tidak."Saut Ben datar.


"Ben, jika dilihat-lihat kamu sangat tampan."Ucap Diandra, dia meraba dada Ben.


"Jaga sikapmu Diandra!"Tegas Ben menghempaskan tangan wanita itu dari dadanya.


"Hahaha~ apa? apa kamu bereaksi? ingin aku membantumu?"Tanya Diandra.


"Sudah malam, masuk ke kamarmu dan tidur, besok masih harus ke kampus."Ucap Ben.


"Kai?"Gumam Diandra, dia langsung menerima panggilan dari Kai.


"Hello dear."Sapa Diandra sangat manis.


"Honey, kamu tidak datang ke club?"Tanya Kai.


"Aku akan datang besok malam, kenapa? kamu kangen yaaa?"Tanya Diandra, dia melupakan kehadiran Ben didekatnya.


"Aku datang untukmu tapi kamu tidak ada."Saut Kai.


"Besok jemput aku bisa?"Tanya Diandra.


"Tentu saja, aku mau besok waktumu hanya untukku, abaikan pria-pria sam*pahmu yang lain."Pinta Kai.


"Cih... Kai, kamupun tidak ada bedanya dengan mereka, but it's okay.. aku akan berikan waktuku untukmu tapi kamu harus memberiku sesuatu yang lebih."Saut Diandra.


"Apapun akan aku berikan okay? apapun."Ucap Kai.


"Apapun? aku mau tulis cek ku sendiri."Saut Diandra.


"Itu bukan hal yang sulit buatku, kamu bisa tulis cek mu sendiri berapapun kamu minta."Saut Kai.


"Kai.. kamu memang paling manis, sekarang aku harus tidur dear, selamat malam muaaacchhh."Ucap Diandra.


"Bye honey."Saut Kai.


Mereka mengakhiri percakapan, Diandra tersenyum picik, meletakan ponsel diatas sofa didekatnya dan menikmati rokoknya lagi.


"Cih..."Senyum Ben, senyuman yang sulit diartikan Oleh Diandra.


Diandra hanya diam, tidak perduli sama sekali.


"Selain berstatus sebagai mahasiswi, rupanya kamupun berprofesi seperti pela*cur."Ucap Ben.


"Terserah kamu menganggapnya apa, ini hidupku dan kesenanganku."Saut Diandra.


"Meski aku terlihat seperti pela*cur dimata banyak orang, tapi aku.. hanya memberikan tubuhku pada Axel 4 tahun yang lalu, untuk pertama dan terakhir kalinya."Batin Diandra, dia mengepulkan asap dari mulutnya lagi.


Ben bangkit dari duduknya, melangkah pergi meninggalkan Diandra sendirian, dia menuju kamar dan menutup pintu, duduk termenung diatas tempat tidur.


"Dari sekian banyak wanita baik-baik, kenapa aku harus menyukai wanita sepertimu?"Gumam Ben, kecewa pada dirinya sendiri.


Diandra sendiri masih belum bergeser dari tempatnya duduk, dia mematikan rokonya yang sudah sangat pendek, merebahkan tubuh diatas sofa besar tempatnya duduk diruang utama rumah mewah Ben, dia tidak memejamkan matanya, dia hanya merenungi akan dirinya sendiri yang semakin lama semakin dalam terjerumus dalam kehidupan yang tidak sehat, merenungi akan langkah yang telah dia ambil dalam menghadapi kehidupan, Diandra tau jika kehidupanya yang seperti itu adalah sebuah kesalahan.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng...


ini adalah Novel pertamaku😍


Suka?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏


Baca juga novel pertamaku judulnya Day's Eye


Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya