
Kedua keluarga itu tertawa bahagia saat melihat cincin berlian pertunangan mereka telah di sematkan di jari manis Diandra, mereka mengira tangisan Diandra saat itu adalah tangis haru bahagia.
"Axel dan Diandra, ayah dan mamah merestui hubungan kalian. mulai besok kami akan mulai menyiapkan acara pernikahan yang paling mewah untuk kalian berdua." Ucap tuan Zoan.
"Hahaha... terimakasih tuan Zoan." Ucap tuan Hans.
"Oh iya nak Axel, sekarang sudah siang, Diandra sebenarnya belum makan sejak pagi, lebih baik kalian berdua makan siang bersama." Ucap tuan Hans.
"Baiklah, aku akan mengajak Diandra untuk makan siang bersamaku." Sahut Axel.
"Iya, jangan khawatirkan ayah dan mamah, kami akan pulang setelah berbincang dengan tuan Hans." Ucap tuan Zoan.
Axel tersenyum, ia meraih pergelangan tangan tunanganya dan bangkit dari duduk, pasangan itu melangkah bersama menuju pintu utama.
"Lepas!" Ucap Diandra, ia menghempaskan tangan Axel dari tanganya.
"Sudah cukup sandiwaranya, sekarang aku akan kembalikan cincin ini padamu." Ucap Diandra sambil ia hendak melepaskan cincin pertunanganya bersama Axel.
"Jangan pernah kamu melepaskanya." Sahut Axel, ia segera meraih tangan Diandra lagi untuk menghentikan niatnya.
"Aku tidak mencintaimu lagi! aku membencimu Axel! kenapa kau melakukan ini semua? kenapa kau menggunakan ayahku untuk memaksaku? kau hanya memikirkan dirimu sendiri! kau pria yang sangat egois!"
"Terserah kamu menilaiku seperti apa! terserah kamu suka atau tidak. aku tetap akan menikahimu." Sahut Axel, ia meraih pergelangan tangan Diandra lagi dan membawanya menuju mobil.
"Lepaskan aku Axel! singkirkan tanganmu dariku!" Pinta Diandra, namun Axel tetap melanjutkan langkahnya, Axel membuka pintu mobilnya dan meminta Diandra untuk masuk.
"Masuklah sayang." Ucap Axel.
"Cih! sayang? Axel.. apa aku boleh menampar wajahmu yang tidak tau malu itu?" Tanya Diandra.
"Tampar aku jika itu membuatmu senang." Sahut Axel.
Plaaakkk!!!
Diandra sungguh menampar wajah Axel hingga Axel tertunduk dengan rambut yang berantakan, ia hanya diam meski tamparan itu adalah tamparan sekuat tenaga Diandra untuknya.
Bug! bug! Wanita itu terus melangkah maju sambil berulang kali menggunakan sepasang tanganya untuk memukul dada bidang Axel.
"Aku sangat membencimu Axel bajing*an! breng*sek! kau sungguh memuakan! kau........"
Diandra terhenti saat Axel membungkam mulut wanita itu dengan menggunakan mulutnya, Axel mencoba menenangkanya dengan ciuman manis meski Diandra berusaha melepaskan diri darinya. tangan kiri Axel berusaha menahan kepala Diandra untuk tidak melepaskan diri dan tangan kananya mendekap erat tubuh wanita yang terus meronta.
Saat itu Axel sungguh tidak memberi kesempatan Diandra untuk melawan dan melepaskan diri, ia menahan wanita itu untuk terus menerima ciuman darinya hingga perlahan tubuh Diandra tidak dapat berbohong, meski di dalam hati wanita itu sangat tegas berkata tidak tapi tubuhnya merespon lain, perlahan ia mulai melemah dan menikmatinya, sepasang bola mata yang semula membelalak saat ini bahkan telah meredup, Axel telah berhasil menakhlukan wanita itu.
Diandra terengah di hadapan pria yang saat ini telah menguasainya, ia tertunduk sambil mengusap bibirnya yang basah. Axel meraih pergelangan tanganya lagi dan Diandra pun masuk kedalam mobil.
Mereka meninggalakan kediaman Hans menuju sebuah restoran mewah bintang lima, di sepanjang jalan Diandra hanya diam menatap keluar jendela sedangkan Axel mengemudi sambil sesekali ia menoleh pada wanita yang bahkan tidak bersedia menatapnya.
Axel meraih telapak tangan Diandra dan dengan sigap Diandra menghempaskan tanganya.
"Jangan pernah menyentuhku lagi!" Ucapnya.
Axel hanya diam, ia tau jika ia menjawab maka Diandra pasti akan lebih membencinya. setelah sampai di tempat tujuan Axel keluar dan membukakan pintu mobil untuk Diandra. Diandra pun keluar dan dengan langkah cepat ia meninggalkan Axel menuju pintu masuk restoran.
Pelayan mulai menyambutnya dan mengikuti langkahnya, ia terhenti saat nona cantik itu duduk di salah satu kursi di dekat kolam.
"Silahkan nona." Ucap pelayan, ia meletakan buku menu di hadapan Diandra dengan sangat sopan.
Diandra mulai membuka buku itu dan Axel pun menarik kursi di dekatnya, ia memperhatikan wanita yang telah lama ia cari selama ini, wanita yang kini duduk di hadapanya dengan menggunakan cincin pertuangan darinya, Axel pun tersenyum bahagia.
Pasangan itu memesan menu dan menunggu, sambil menunggu keduanya hanya diam, Axel tidak mau merusak suasana hati wanitanya sedangkan Diandra cukup malas hanya untuk sekedar ber basa-basi dengan prianya.
Pasangan itu melahap makananya saat telah selesai di hidangkan, Axel meletakan sepotong daging asam manis di piring Diandra hingga wanita itu melirik sambil memperlambat kunyahanya.
"Aku tidak suka daging!" Ucapnya sambil ia mengembalikan potongan daging itu di piring Axel.
Axel pun hanya diam, jujur saja Axel memang tidak tau apapun tentang Diandra, apa yang dia suka, apa yang dia inginkan bahkan apa yang mampuh membuat wanita itu bahagia. Axel tidak tau semua tentangnya. bagaimana tidak? selama Diandra mendekatinya dulu, Axel tidak pernah memperdulikan wanita itu, baginya wanita yang saat ini ada di hadapanya hanyalah wanita cantik yang sangat mengganggu aktivitasnya.
Entah kenapa dunia bahkan seolah terbalik, dulu ia yang mencampakan wanita itu dan sekarang wanita itu yang telah mencampakanya. dulu ia yang sangat terganggu akan kehadiranya dan saat ini kehadiran dirinya lah yang sangat mengganggu Diandra.
Diandra telah selesai makan, ia duduk bersandar sambil memperhatikan sekeliling. iya! setelah makan ia biasanya menikmati sebatang rokok, namun kali ini ia tidak membawa rokoknya.
Axel melihat wanita itu tersenyum picik menatap seorang pria yang sedang menikmati rokoknya, Axel sungguh tidak tau apa yang ada di dalam pikiran wanitanya saat ini. Diandra pun bangkit dari duduk, dengan kaki jenjang dan gaun cantik yang terhempas angin ia menghampiri pria itu, pria itu pun mendongak saat menyadari kehadiran Diandra, mereka berbincang kecil dan Diandra kembali ke kursinya dengan sebatang rokok yang ia rampas dari pria itu.
Pria itu nampak bodoh menatapnya, wanita cantik yang telah merampas rokok yang sedang di nikmatinya. namun apa daya? Diandra sangat cantik hingga pria itu tak kuasa untuk melawanya. ia memilih mengalah dan menikmati rokoknya yang baru.
Axel sendir saat ini hanya diam menatap wanita yang mengepulkan asap dari mulutnya, wanita yang tidak menganggap kehadiranya di tempat itu.
"Kamu tidak merasa jijik? rokok itu bekas mulut pria jelek itu." Ucap Axel.
"Apa masalahmu? aku bahkan sudah merasakan banyak mulut pria." Sahut Diandra.
"Diandra, kenapa kamu jadi seperti ini?" Tanya Axel.
Diandra memutar bola mata sambil ia tersenyum sinis mendengar pertanyaan Axel, ia sungguh sangat malas untuk ber basa-basi dengan pria itu hingga ia lebih memilih untuk mengalihkan pandanganya sambil melipat sebelah tanganya di dada, dia mengepulkan asap dari mulutnya lagi.
🍁My Sexy Girl🍁