My Sexy Girl

My Sexy Girl
Kekasihmu??




"Lepas Axel!" Pinta Diandra, ia menghempaskan kedua tangan Axel dari tubuhnya.


"Diandra." Panggil Axel, ia berusaha meraih pergelangan tangan Diandra lagi, namun dengan sigap Diandra memutar tubuh dan menggunakan kedua tanganya untuk mendorong dada Axel hingga Axel terhuyung dan hampir terjatuh.


"Pria tidak tau malu! jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" Ucap Diandra, ia menunjuk wajah Axel dengan jari telunjuknya namun Axel langsung menggenggam pergelangan tanganya.


"Lepas! lepas Axel!" Pinta Diandra.


Axel tidak menggubrisnya, dia malah menarik wanita itu masuk kedalam dekapanya hingga membuat Diandra mematung seketika.


"Aku minta maaf." Ucap Axel.


"Maaf?? cih...!!" Saut Diandra tertawa getir.


"Aku minta maaf Diandra, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku dulu." Ucap Axel.


"Apa yang perlu kamu pertanggung jawab kan? sesuai apa katamu, aku tidak hamil! jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa menikah denganku bajing*an!" Saut Diandra, ia masih berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Axel.


"Lepas! aku jijik!" Ucap Diandra.


Axel tidak juga melepaskan dekapanya, dia sangat merindukan wanita itu. dia memeluknya sangat erat hingga ia memejamkan mata sambil berulang kali mencium keningnya.


"Lepaskan aku breng*sek!" Ucap Diandra masih meronta.


Kedua kelopak mata Axel terbuka saat seseorang menepuk punggungnya, Axel pun melepaskan Diandra dan ia menoleh.


Braaakkk!!


"Ben!" Teriak Diandra, ia menutup mulut dengan kedua telapak tanganya, Diandra melangkah mundur, ia terkejut melihat Ben datang langsung memukul wajah Axel.


"Bajing*an! berani sekali kau memeluknya!!" Ucap Ben, ia menghampiri Axel yang tersungkur di tanah. Ben meraih kerah jas pria itu dan memukul wajah tampanya berulang kali.


"Cukup Ben! ayo pergi!" Ucap Diandra, dia menarik tangan Ben untuk menghentikan perlakuan kasarnya pada Axel.


Diandra menarik tangan Ben menuju mobil, seolah tidak terima akan perlakuan Ben. Axel bangkit dan mengayunkan kepalan tanganya hingga mendarat di wajah Ben.


"Ben! Axel! cukup!" Teriak Diandra.


Kedua pria itu saling memukul sangat kasar, Axel meraih pakaian Ben dan ia menariknya untuk bangkit. Axel menghempaskan tubuh pria itu hingga ia tertahan di sisi mobilnya, Axel menggunakan sikunya untuk menahan dada Ben hingga membuat kedua pria itu saling menatap tajam.


"Siapa kau berani ikut campur?!" Tanya Axel.


"Aku kekasihnya! kau mau apa!" Saut Ben.


"Hahaha.... kekasihmu? apa kau juga sudah tidur denganya sama sepertiku??" Tanya Axel.


"Apa???" Tanya Ben, dia terkejut dan menoleh pada Diandra.


Mendengar ucapan Axel, Diandra kembali menutup mulut dengan kedua telapak tanganya. kedua bola mata wanita itu memerah dan matanya mulai berkaca-kaca, Diandra memutar tubuh dan melangkah cepat meninggalakan kedua pria itu.


"Diandra!" Panggil Ben.


"Bajing*an!" Ucap Ben.


Braaakkk!!


Ben memukul wajah Axel lagi hingga ia melepaskanya. Ben menoleh ke arah Diandra pergi namun entah kemana wanita itu sudah tidak terlihat lagi dari pandangan matanya.


Ben pun menoleh lagi pada Axel yang saat ini memegangi wajahnya, "Jangan pernah muncul di hadapanya lagi atau aku akan membunuhmu!" Ancam Ben.


"Cih...!" Senyum kecut Axel.


Ben masuk kedalam mobil dan pergi, Axel pun masuk kedalam mobilnya dan terdiam menatap mobil Ben yang semakin jauh meninggalkanya.


"Aku sudah mencarinya selama ini dan sekarang aku sudah menemukanya. kau pikir.. aku akan menjauh darinya begitu saja? kau pikir.. aku akan menyerah dengan mudah? Heh~ aku sangat mencintainya, mana mungkin aku akan menyerah." Ucap Axel.


Langkah kaki Diandra terhenti di halte bus, dia mulai mengayunkan kakinya perlahan, ia tertunduk sambil menghapus air matanya.


"Kenapa dia selalu mengingatkan aku akan kejadian malam itu? kejadian yang aku sesali sampai saat ini. sungguh aku telah menyesal sempat cinta mati pada pria breng*sek itu. kenapa dulu aku begitu bodoh?" Batin Diandra.


Sepasang kakinya terhenti dan Diandra duduk di halte itu, ia menangis mengingat setiap ucapan Axel setalah pria itu mendapatkanya.


"Kenapa aku sangat mencintainya dan sangat membencinya?" Batin Diandra.


Diandra termenung cukup lama, dia malu kepada Ben saat ia melihat ekspresi wajah Ben yang sangat terkejut mendengar ucapan Axel padanya.


"Ben pasti sangat jijik padaku kan? iya.. aku memang sangat menjijikan." Ucapnya.


Diandra mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, ponsel yang terus bergetar sejak tadi.


Diandra mulai memblokir nomor ponsel Ben dari ponselnya. ia tidak memiliki cukup nyali untuk berhadapan dengan pria itu lagi.


"Kamu sudah tau banyak tentang buruknya aku, lebih baik kita tidak usah berteman lagi. aku wanita kotor dan aku tidak mau mengotorimu." Ucap Diandra.


Diandra menghapus air matanya dan mulai melakukan panggilan telpon pada Nara.


"Halo." Sapa Diandra.


"Iya, ada apa baby?" Tanya Nara.


"Kamu di mana?" Tanya Diandra.


"Dirumah, kamu mau kerumahku? mau aku jemput? aku kangen kamu baby." Ucap Nara.


"Iya, jemput aku di halte dekat rumah Ben ya baby." Pinta Diandra.


"Okay, tunggu sebentar ya."


Diandra mengakhiri panggilanya dan hanya diam duduk di halte bus. sedangkan Ben mulai menepi saat ia tidak melihat Diandra di sepanjang ia menyusuri jalan.


"Kenapa nomonya sudah tidak bisa di hubungi lagi?" Tanya Ben.


Ben bersandar di kursinya, seketika ia terdiam saat teringat ucapan Axel padanya.


"Pria itu sudah pernah tidur bersamanya?" Tanya Ben.


"Dari reaksi Diandra sepertinya pria itu tidak berbohong." Ucap Ben, perlahan ia menundukan kepala.


Di halte Diandra mulai menyimpan ponselnya kembali, dia membuka bungkus rokoknya, sudah lama dia tidak merokok karena sakit dan Ben tidak mau membelikanya. kini Diandra bisa leluasa menikmatinya lagi.


"Tidak ada korek?" Batin Diandra.


Diandra melemas dan menoleh ke sekaliling, ia mulai bangkit dari duduk dan mengambil duduk di dekat seorang pria yang sedang menunggu busnya tiba.


"Ada korek api?" Tanya Diandra tanpa basa-basi dan tanpa menyapa terlebih dahulu.


Pria itu menoleh, ia menatap Diandra dengan tatapan bingung.


"Ada tidak? malah diam." Ucap Diandra, dia menadongkan telapak tanganya.


"A.. ada.." Sahut pria itu. dia mulai mengambil korek api di dalam saku kemejanya. pria itu memberikan korek api padanya dan Diandra langsung meletakan rokok di mulut sambil dia menyalakan korek api untuk membakar ujung dari rokoknya.


"Nih. thanks." Ucap Diandra, dia pergi begitu saja dan duduk di tempatnya semula.


Diandra mengepulkan asap dari mulutnya berulang kali, perlahan ia menyadari akan sesuatu dan Diandra pun mulai menatap sekeklilingnya.


"Apa yang kalian lihat?!" Tanya Diandra dengan tatapan matanya yang mengerikan.


Semua orang yang menatapnya seketika mengalihkan pandangan. mereka tidak berani menegur wanita cantik itu.


"Baby." Panggil Nara dari dalam mobilnya.


Diandra menoleh, ia menghampiri dan masuk kedalam mobil nara untuk ikut pulang kerumahnya.


"Wanita itu sangat cantik, tapi sayang dia perokok dan terlihat urakan.


"Iya"


"Sayang sekali, dia terlihat seperti bukan wanita baik-baik."


"Iya, pinjam korek api saja sangat tidak sopan."


Iya! dimana ada Diandra di situ ada mulut-mulut orang yang siap menghakiminya kapan saja, orang-orang yang hanya menilai dari satu sisi tanpa mereka mengetahui sisi lain dari sosok seseorang yang mereka gunjingkan.


🍁My Sexy Girl🍁


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Thanks for readers.... 🙏