My Sexy Girl

My Sexy Girl
"Aku tidak mau menikah, tapi aku tidak keberatan jika harus hidup bersama."




Tidak butuh waktu lama, Ben kembali, dia meraih perggelangan tangan Diandra dan membawanya duduk di dikursi panjang didekat danau tidak jauh dari kampus, mereka duduk berdampingan ditempat itu.


"Makanlah dulu sebelum kelas dimulai."Pinta Ben, dia membongkar box berisi makanan lengkap dan memberikanya pada Diandra.


"Terimakasih."Saut Diandra, dia menerimanya, tanpa rasa sungkan dan malu, Diandra langsung melahap makananya.


Ben meraih botol air mineral, dia membukanya dan meletakanya lagi didekat Diandra untuk mempermudah wanita itu meminum airnya.


Ben terdiam menatap Diandra yang makan terlihat begitu lahap, sungguh dia tidak habis pikir karena Ben tau jika wanita itu putri seorang pejabat penting dikota itu, dia putri seorang konglomerat, tapi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika wanita yang saat ini bersamanya sering merasakan kelaparan dan terkadang terlihat begitu menyedihkan.


"Aku tidak menyangka Diandra yang arogan dan sangat galak, ternyata memeiliki sisi lemah yang tidak diketahui orang lain."Ucap Ben, dia menatap danau yang ada didepanya.


"Diandra yang aku lihat saat ini sungguh sangat berbeda dengan Diandra yang aku kenal selama ini, kamu yang seperti ini sungguh sangat bertolak belakang dengan kemasanya, kamu sangat pintar berkamuflase, mengemas Diandra yang lemah dengan sosok Diandra yang kuat dan disegani teman-temanya."Ucap Ben.


"Tolong rahasiakan apa yang kamu lihat hari ini pada yang lainya Ben, aku lebih suka dikenal sebagai Diandra yang arogan."Pinta Diandra.


"Iya, kamu tenang saja, akupun lebih menyukai kamu yang arogan dan galak, dengan begitu orang-orang tidak akan berani menindas wanita yang memiliki kehidupan yang berantakan sepertimu."Saut Ben.


"Kamu terlalu jujur, tidak takut sama sekali padaku."Ucap Diandra.


"Cih.. sekuat apapun kamu, aku tau.. semua orang memiliki sisi lemahnya masing-masing."Saut Ben.


"10 menit lagi kelas sudah akan dimulai."Ucap Diandra, dia makan tergesa-gesa setelah melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganya.


"Diandra."Panggil Ben.


"Heemm?"Saut Diandra menoleh.


"Kamu makan begitu cepat, pelan-pelan saja."Ucap Ben.


"Aku akan terlambat."Saut Diandra.


"Bukankah kamu sudah sering terlambat? bahkan datang sesukamu? lagipula aku dosenya."Ucap Ben.


"Oh iya ya~ hee."Saut Diandra, dia mulai tersenyum lagi.


Diandra membuang bekas makananya ditempat samapah yang ada didekatnya, dia meraih tas dan membongkarnya didekat Ben, dia berdandan di dekat pria itu tanpa rasa malu.


"Apa aku masih terlihat seperti habis menangis?"Tanya Diandra, dia memperlihatkan wajahnya pada Ben.


"Kemarilah biar aku lihat."Pinta Ben.


Diandra patuh, dia mendekatkan wajahnya pada Ben untuk mendengar pendapat darinya.


"Pejamkan matamu."Pinta Ben.


Diandra pun patuh, dia memejamkan mata dan cup~ Ben mencium kedua kelopak mata Diandra yang tertutup secara bergantian hingga membuat Diandra terkejut dan membuka matanya, kedua bola mata wanita cantik itu sungguh sangat fokus menatap mata pria yang saat ini ada dihadapanya, Ben pun mendekat lagi dan Cup~ cup~ dia mengecup pipi dan bibir Diandra, hingga membuat Diandra mematung dibuatnya.


"Ayo kita ke kelas."Ajak Ben, dia meraih tas Diandra dan membawakannya.


"Kamu sudah menciumku, aku minta ganti rugi."Ucap Diandra, dia menodong Ben tanpa rasa takut.


Ben tersenyum, dia tidak menggubris permintaan Diandra dan hanya terus berjalan.


"Hey.. tidak ada yang gratis di dunia ini, pria-pria membayarku dengan cek yang aku tulis sendiri jika mereka ingin menciumku, itu pun berlaku padamu."Ucap Diandra.


Ben menghentikan langkahnya, dia menoleh dan meraih pinggang Diandra, menariknya mendekat ke tubuhnya, Ben pun mengatakan...


"Jadilah wanitaku dan aku akan berikan semua yang kamu mau."Ucap Ben, dia menatap mata Diandra.


"Cih...Menjadi wanitamu? daripada aku hanya mendapatkan semua yang aku inginkan dari satu orang, bukankah lebih baik jika aku mendapatkan semua keinginanku dari banyak orang? aku tidak mau memiliki hubungan dengan pria manapun, akupun ingin hidup bebas sesuka hatiku tanpa terikat dengan siapapun."Saut Diandra.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini? bukankah kamupun suatu saat harus menikah?"Tanya Ben.


"Aku tidak mau menikah, tapi aku tidak keberatan jika harus hidup bersama, tanpa ikatan apapun."Ucap Diandra, dia merampas tasnya dari tangan Ben dan melangkah mendahuluinya.


"Hey Diandra, kamu wanita yang sangat aneh, bagaimana mungkin kamu mau hidup bersama tanpa ikatan?"Tanya Ben, dia melangkah cepat didekat Diandra.


"Tentu saja, aku tidak mau punya ikatan tapi bukankah aku wanita normal.. akupun butuh pria yang bisa memenuhi kebutuhan biologisku."Saut Diandra.


"Apa alasan yang memotivasimu untuk memiliki kehidupan yang berbanding terbalik dengan yang seharusnya?"Tanya Ben, dia menghentikan langkahnya.


Diandra pun terhenti, dia menoleh pada Ben.


"Aku tidak mau punya ikatan, aku mau hidup bebas, jika pasangan priaku melukai hati atau tubuhku, aku bisa dengan mudah meninggalkanya kapan saja dan mencari pria lainya kapan pun aku mau untuk menggantikanya, tanpa aku harus terbelenggu dan mengurus perceraian yang rumit jika salah satu dari kita tidak menginginkan perceraian dan tetap mengikat kita kaum wanita namun disisi lain kita disakiti sampai se sakit- sakitnya oleh mereka, tidak bisa melepaskan diri, tidak bisa hidup dengan pria lainya karena status masih sebagai istri orang lain, bukankah itu sangat menyedihkan?"Ucap Diandra.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍


Suka dengan novel ini?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏


Baca juga Novel terbaruku judulnya *Chasing The Light*


Hyun Bin, Seo Kang Joon dan Kim Jisoo (fersi Drakor)