
Pagi itu Diandra dan Nara masuk kedalam mobil, mereka yang sudah cantik pergi dari rumah untuk hendak ke kampus.
"Baby.. Kita sarapan dikantin kampus saja ya."Pinta Nara.
"It's okay baby."Saut Diandra, dia sibuk dengan ponselnya.
"Chat siapa?"Tanya Nara.
"Gebetan."Saut Diandra sibuk dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
"Baby.. sampai kapan kamu akan meladeni mereka?"Tanya Nara.
"Tentu sampai aku bosan."Saut Diandra.
"Aku takut, bagaimanapun mereka itu pria, kita tidak tau meski mereka memberikan uang mereka padamu, kamu kan tidak tau isi hati mereka yang sesungguhnya seperti apa, aku takut kamu akan terjebak oleh mereka baby, aku takut mereka akan berbuat jahat terhadapmu."Ucap Nara.
"Aku tau, kamu tenang saja baby, aku bisa jaga diri."Saut Diandra, dia melihat pemandangan diluar.
Setelah sampai mereka keluar dari dalam mobil yang sudah terparkir di halaman parkir kampus, mereka menuju kantin untuk hendak sarapan dahulu sebelum masuk ke kelas, Diandra dan Nara melangkah sambil bercanda, masuk kearea kantin bersama.
"Ehem... Minggir teman-teman, ayam kampus mau lewat."Ucap Geea.
Geea adalah salah satu wanita populer dikampus yang merasa tersaingi oleh kecantikan, kecerdasan dan kepopuleran Diandra di kampus besar itu, dia satu angkatan dengan Diandra hanya saja beda jurusan.
Mendengar ucapan Geea, Diandra pun menghentikan langkahnya saat teman-teman dikantin mulai memberinya jalan, Diandra menoleh pada Geea yang sedang duduk anggun menoreh senyum picik diwajahnya, Diandra menghampiri wanita itu dan berdiri tepat dihadapanya.
"Cantik, apa kamu membicarakan tentang aku?"Tanya Diandra, dia membungkukan badan dan menatap sangat dekat wajah Geea.
"Iya."Saut Geea santai dengan wajah meledeknya.
"Aku memberimu kesempatan untuk meminta maaf padaku dihadapan teman-teman kita."Ucap Diandra dengan senyum yang sulit untuk Geea artikan.
"Cih.... aku baru tau, ayam kampus rupanya masih punya malu? teman-teman coba lihat ayam kampus yang ada didepanku ini, dia sangat percaya diri meski mendapatkan uang dari menjual diri hahaa~"Saut Geea meledek.
"Geea sayang, apa bedanya aku denganmu? jika aku ayam kampus, lalu kamu apa? wanita muda yang rela ditiduri pria ber uban yang sudah memiliki banyak anak dan banyak istri, hahaa~ kamu sama menjijikanya dengn aku bukan? yaahh... setidaknya aku memilih pria yang aku kencani, paling tidak mereka harus muda, tampan dan banyak uang untuk bisa berkencan denganku, aku tidak main dengan pria tua yang gendut dan jelek meski dia memberi banyak uang pastinya."Ucap Diandra menohok.
Semua mahasiswa/i dikantin tertawa, mereka mentertawakan Geea yang tidak tau malu dan tidak bercermin pada dirinya sendiri sebelum dia menghakimi seseorang, Diandra yang merasa puas telah membuat Geea gemetar, dia pun tersenyum picik, memutar tubuh untuk hendak meninggalkan Geea.
"Diandra!"Panggil Geea, dia bangkit dari duduknya dan meraih pergelangan tangan Diandra, Geea mengangkat tangan kananya untuk hendak menampar wajah cantik Diandra.
"Masih ada yang mau kamu sampaikan? wajahku terlalu berharga untuk kau sentuh, Geea."Ucap Diandra, dia menggenggam tangan Geea yang hendak menaparnya.
Diandra menghempaskan tangan Geea dari dekat wajahnya, memutar tubuh lagi untuk pergi namun Geea mengulangi perbuatanya.
"Diandra! dasar pela*cur."Panggil Geea.
Diandra memutar tubuh sambil meraih jus jeruk milik temanya yang sedang makan di kantin itu, dia menyiramkanya kewajah Geea, membuat Geea membatu dibuatnya, Diandra menghampirinya lagi dan berbisik ditelinga Geea.....
"Aku Diandra, bukan wanita lemah yang bisa kau tindas sesuka hatimu, aku bukan lawan yang seimbang untukmu Geea, bahkan aku bisa mempermalukanmu lebih dari ini, contohnya.....seperti ini."Ucap Diandra, dia meraih jus manggah milik Geea dan menyiramkanya perlahan di atas kepala Geea yang membisu.
Diandra tersenyum sangat puas, dia membuktikan pada Geea jika dia telah salah menilai dirnya, jika dia telah salah memilih lawan untuknya, bagaimana pun Diandra bukan wanita yang bisa mereka lawan dengan mudah, hari itu.. semua mahasiswa/i di kampus, tidak lagi berani untuk menghakimi Diandra.
Taakk...!! suara gelas yang diletakan Diandra diatas meja, dia menatap Geea dengan senyum lucu.
"Teman-teman, tolong berikan jalan untuk pela*kor kita yang cantik."Ucap Diandra.
Semua mahasiswa/i ditempat itu tertawa lagi, terpingkal-pingkal melihat Geea yang dipermalukan Diandra habis-habisan, Geea tertunduk meraih tasnya dan mengatakan...
"Bersiaplah Diandra, aku akan melaporkan ini pada pihak kampus."Ancam Geea.
"Okay Geea sayang, aku tunggu, bye..bye.."Saut Diandra, dia tersenyum puas sambil melambaikan tangan pada Geea yang berlalu pergi.
Diandra masuk kekelasnya, duduk dan termenung ditengah bisingnya teman-teman yang bergosip dengan senyum bahagia yang menyertai mereka.
Ben mengetuk pintu dan masuk, matanya langsung terfokus ke kursi tempat Diandra duduk, dia tersenyum saat melihat Diandra yang melamun bahkan tidak menyadari kehadiran Dosenya dikelas.
Kelas dimulai, Diandra mengeluarkan buku dan penanya dari dalam tas, dia tidak penah bersemangat saat menerima ilmu dari dosenya, baik itu tuan Jeff ataupun Ben, Diandra selalu terlihat malas-malasan bahkan menjadikan tangan kirinya sebagia penyanggah kepala, sedangkan tangan kananya sibuk mencatat, wajah datar dan tidak ada senyum yang terlihat, Diandra setiap hari seperti itu, bahkan terkadang dia masuk ke kelas masih dalam keadaan mabuk, namun itu sudah menjadi hal yang biasa dan tidak aneh lagi, bahkan teman-temanya di kelas itu tidak ada yang berani menghakimi Diandra, dikelas itu Diandra tidak ada teman dan hanya sendirian karena dia yang tidak ingin bergaul, dia yang membatasi diri dan menghindar dari teman-temanya, meski sebenarnya teman-teman Diandra sangat ingin berteman dekat denganya.
"Hari ini tes, kalian harus mendapatkan nilai diatas 80 jika ingin pulang cepat hari ini."Ucap Ben dengan fokus mata yang hanya menatap Diandra.
Kelas mulai ramai saat mendengar hari ini ada tes, mereka mulai bersikap berlebihan dan merengek maja pada teman-teman lainya, tapi itu tidak berlaku bagi Diandra, dia bisa saja.
Mereka mulai membagikan kertas jawaban dan mulai fokus menjawab semua pertanyaan, Diandra masih seperti itu, tidak bicara sepatah kata pun, hingga semau telah selesai dan meninggalkan kelas, kali ini Diandra sendirian lagi dikelas bersama Ben.
Ben menghampirinya dan duduk didekatnya, menatap wajah cantik mahasiswi yang memiliki watak dan sikap yang sangat berbeda dengan mahasiswi lainya, Diandra yang unik, rupanya menarik perhatian Ben untuk tetap melihat kearahnya, meski dia tau Diandra bukan wanita yang berdiri ditengah mereka kalangan wanita yang baik-baik, entah kenapa meski Ben tau jika Diandra hidup sesuka hati dan berantakan, dia tetap menyukainya.
"Diandra."Panggil Ben.
Diadra hanya diam, tidak berniat untuk menjawab, dia bahkan tidak menoleh.
"Cih... kamu kemana kemarin tidak datang?"Tanya Ben.
"Dirumah."Saut Diandra.
"Ada urusan pribadi?"Tanya Ben.
"Tidak ada, hanya ingin tidur saja."Saut Diandra.
"Tidur? alasan macam apa itu? kamu bahkan sangat jujur pada dosenmu? tidak takut aku beri nilai yang jelek?"Ucap Ben.
"Jika kau ingin silahkan saja."Saut Diandra.
Seseorang mengetuk pintu dan masuk untuk menemui Diandra.
"Diandra."Panggil tuan willy, dia seorang dosen penasehat akademik.
Diandra menoleh namun tidak menjawabnya.
"Datang keruanganku sekarang."Pinta tuan Willy.
**
Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍
Suka dengan novel ini?
Dukung author dengan cara:
VOTE
LIKE
FAVORIT
KOMEN Sopan
Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏
Baca juga novel pertamaku judulnya *Day's Eye*
Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya