
Mobil Axel masuk kehalaman rumah dan memarkirkanya digarasi, dia keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Diandra.
"Pelan-pelan."Ucap Axel, dia mengulurkan tanganya.
"Iya."Saut Diandra, dia menerima uluran tangan Axel, demi apapun saat itu Diandra sangat bahagia.
Axel membantunya berjalan, mereka masuk kedalam rumah disambut para pelayan dan patung manusia hidup yang berdiri dibanyak sisi rumah mewah itu.
"Rumahmu besar sekali."Gumam Diandra.
"Apa bedanya dengan rumahmu?"Saut Axel.
"Kamu tau rumahku?"Tanya Diandra terkejut.
"Tidak."Saut Axel menyangkal.
Axel membawa Diandra masuk kekamarnya, Diandra pun duduk disofa mewah kamar pria itu, dia melihat kesekelilingnya.
"Axel pria tapi dia sangat menjaga kerapihan dan kebersihan."Batin Diandra.
Diandra melihat Axel yang membuka laci mejanya, dia mengambil krim otot dan menghampiri Diandra.
"Jangan pakaiakan aku benda itu, aku tidak suka."Pinta Diandra.
"Ini krim otot."Saut Axel.
"Aku tau tapi aku tidak mau."Ucap Diandra.
Axel pun jongkok, dia tidak menggunakan krim ototnya dikaki Diandra, dia langsung meraih kaki wanita itu dan melepaskan high hilsnya, Axel mulai memijat kaki Diandra, Diandra menatap pria yang saat ini sedang fokus memijat kakinya, sungguh Diandra sangat tergila-gila dengan pria itu, pria yang sangat tampan dilihat dari sisi manapun.
"Bersiaplah ini akan sedikit sakit."Ucap Axel, dia menarik pergelangan kaki Diandra dengan gerakan cepat.
"Aaauuu...!"Teriak Diandra kesakitan.
"Coba gerakan sekarang."Pinta Axel.
Diandra patuh, dia menggerakan kakinya dan dia tersenyum saat sudah tidak merasakan sakit lagi.
"Axel, terimakasih."Ucap Diandra.
"Cih.. menyusahkan saja."Gumam Axel.
Axel bangkit, dia duduk didekat Diandra dan menoleh, Axel menatap senyum sempurna Diandra saat dia sibuk menggerakan kakinya.
"Diandra."Panggil Axel.
"Iya."Saut Diandra, dia menoleh.
"Kenapa kamu masih menyukaiku? jelas-jelas aku mengabaikanmu?"Tanya Axel.
"Entahlah."Saut Diandra, dia mengangkat kedua bahunya.
"Kamu benar, mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi dan sibuk menjalani kehidupan masing-masing, akupun tidak akan dibuat risih lagi olehmu."Ucap Axel.
"Cih..."Senyum Diandra merasa lucu, dia menoleh dan menatap mata Axel yang saat itu juga menatap matanya.
Mereka saling menatap dalam waktu yang lama, Axel yang semula mengabaikan Diandra, rupanya dia mulai sadar saat mengingat ucapan Diandra jika setelah ini mereka tidak akan saling bertemu lagi dan Diandra pun tidak akan bisa membuat Axel risih lagi karena kelakuanya yang selalu mengganggu Axel selama 3 tahun.
"Aku sudah mengabulkan permintaanmu, apa kamu bisa mengabulkan permintaanku?"Tanya Axel.
"Permintaan apa?"Tanya Diandra.
"Kemarilah."Pinta Axel.
Dengan polos Diandra pun patuh, dia mendekat dan duduk disamping Axel, Diandra menatap mata pria itu seolah menunggu pria itu mengucapkan permintaanya, tapi.. Diandra mulai merasa bingung saat Axel tidak juga mengucapkan permintaanya, Axel malah semakin mendekat kewajahnya.
"Kamu mau apa?"Tanya Diandra.
Axel tidak menjawab, dia semakin dekat hingga hidung dan kening mereka saling beradu, membuat Diandra seketika menjadi kaku, gemetar, sekaligus merinding.
Malam itu Axel mencium manis bibir Diandra, dia memejamkan mata saat menikamati bibir wanita itu, Diandra yang sangat menyukai Axel, diapun tidak menolak ciumanya, mereka menikmati ciumanya bersama.
Namun semakin lama Axel semakin mendekat, membuat tubuh Diandra mendoyong kebelakang dan pada akhirnya posisi Diandra saat ini ada dibawah tubuh bidangnya.
Axel masih belum melepaskan ciuman manis itu, dia semakin dikuasai rasa ingin yang begitu besar saat dia mencium bibir manis Diandra, Axel.. melepaskan kancing kemejanya satu persatu dengan menggunakan tangan kirinya hingga membuat dada bidang dan sixpacknya terlihat sangat jelas, iya Axel suka olahraga hingga tubuhnya pun sudah terbentuk diusianya yang masih muda.
Diandar gemetar saat Axel meraih tangannya dan meletakanya didada yang sudah polos, Diandra mendorong tubuh Axel hingga dia terhempas, Diandra langsung bangkit dan menatap Axel dengan kancing pakaian yang sudah terlepas semuanya, Axel pun mendekat lagi.
"Axel kamu mau apa?"Tanya Diandra.
"Bukankah kamu mau kenangan manis yang terakhir dariku? aku akan membrikanmu kenangan yang paling manis."Ucap Axel.
"Tapi...."Saut Diandra, dia menjauh.
"Kamu satu-satunya wanita yang beruntung bisa menarik minatku."Ucap Axel.
Tangan Axel mulai nakal, menyusuri semua lekuk tubuh Diandra dan mulai melepaskan risleting pakaianya, Axel melepaskan pakaian wanita yang bahkan bukan kekasihnya, dia merebahkan tubuh Diandra dibawah tubuhnya dan mulai mencumbu tubuh Diandra sambil melepaskan seluruh pakaian yang melekat ditubuh wanita itu.
"Axel, kita tidak boleh melakukanya."Ucap Diandra.
Axel mendongak dan menatap mata Diandra.
"Kamu bilang kamu menyukaiku bukan? jika begitu aku mau kamu membuktikanya."Saut Axel.
Diandra yang masih sangat polos dan bodoh saat itu, dia menyerahkan tubuhnya pada Axel karena dia sangat mencintai pria itu dan ingin membuktikan jika dia bersungguh-sungguh.
"Kamu tidak akan melupakan kenangan manis ini Diandra, aku memberikanya hanya padamu."Ucap Axel.
Meski tau jika apa yang terjadi saat ini, bisa terlupakan dimasa depan, apa yang diinginkan saat ini, bisa dicampakan dimasa depan, Diandra rela memberikan dirinya untuk Axel Zoan, meski hubungan mereka saat itu tidak lah dekat, melakukanya meski tidak ada pernyataan cinta sebelumnya.
Axel melepaskan semua pakaian Diandra, mencumbu dan meninggalakan banyak noda merah ditubuh wanita itu, dia melu*mat semua bagian-bagian senditif seorang wanita hingga membuatnya memejamkan mata dan mendesah tak tertahan, Diandra menangis saat selaput darahnya dibobol Axel malam itu, rasa sakit, pedih, lemas dan takut, semua menjadi satu.
Waktu terus berputar, rembulan dan bintang malam itu menjadi saksi akan apa yang mereka lakukan malam itu dikamar Axel, Axel yang telah puas dan lelah, dia merebahkan tubuhnya didekat Diandra, dia memeluk tubuh wanita itu sangat erat, mendengarkan suara isak tangis Diandra yang menyesali perbuatanya.
Axel mendongak, meraih dagu Diandra untuk menatap wajahnya, dia mengusap airmata Diandra yang kesakitan dan menyesali kebodohanya.
"Jangan menangis, jika kamu hamil, aku akan bertanggung jawab."Ucap Axel.
Mendengarnya Diandra pun tersenyum dan mulai tenang, dia memeluk selimut tebalnya lagi dan tidur menyamping membelakangi Axel, Axel memeluknya lagi dan termenung.
Setelah lelah saling memuaskan dan memberi kenikmatan, mereka terlelap dalam tidurnya malam itu, Diandra membuka matanya dipagi hari, menepuk tempat tidur dan bangkit saat dia tidak melihat keberadaan Axel, meski sangat saki dan pedih Diandra pun bangkit dari tempat tidurnya dan menatap darah yang ada diatas tempat tidur, darah perawan yang direnggut Axel darinya.
"Axel."Panggil Diandra lirih.
Diandra terhenti saat dia melihat Axel sedang menerima telpon dibalkon kamarnya dipagi hari, dia duduk dikursi sangat santai dengan setelan jubah handuk yang melekat ditubuh proporsionalnya, dia tersenyum saat berbicara dengan teman prianya, Diandra menyembunyikan diri dan menguping, mendengarkan obrolan Axel yang terdengar sangat jelas dengan pria itu.
"Ayo kita keluar."
"Nanti malam saja, aku masih cape."Saut Axel.
"Cape? habis ngapain pagi-pagi sudah cape?"
"Haha~ aku sudah mendapatkan Diandra, wanita yang paling cantik disekolah kita, sekarang dia sedang berbaring diatas ranjangku, aku sudah mendapatkanya."Saut Axel.
"Sungguh? Axel kau memang penjahat."
"Cih.. Diandra sudah aku dapatkan, sekarang dia hanya wanita bek*as aku pakai."Saut Axel.
"Axel, apa kau akan menikahinya?"
"Cih.. untuk apa menikahinya? dia sangat mencintaiku, aku bisa memanfaatkan tubuhnya kapanpun aku mau, kali ini aku tidak akan membiarkanya menghilang sebelum aku telah bosan."Saut Axel.
"Kau tidak akan menikahinya?"
"Tidak akan."Saut Axel.
"Bagaimana jika dia hamil?"
"Dia tidak akan hamil."Saut Axel.
Mendengar percakapan itu, Diandra membatu, dia meneteskan airmata dan menahan suara tangisnya, wajahnya memerah dengan tubuh yang gemetar tidak dapat dia kendalikan.
"Breng*sek."Batin Diandra.
Diandra bergegas, memakai kembali pakaianya dan pergi dari kediaman Axel dengan keadaan yang telah hancur baik hati, pikiran dan tubuhnya, dia menyesal memebrikan dirinya pada Axel Zoan.
"Nona Diandra, mau...."Sapa pelayan wanita yang berpapasan dengan Diandra, dia membatu saat melihat Diandra menangis keluar dari kamar Axel, Diandra pergi begitu saja.
"Apa tuan bertengkar dengan nona Diandra?"Batin pelayan.
**
Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍
Suka dengan novel ini?
Dukung author dengan cara:
VOTE
LIKE
FAVORIT
KOMEN Sopan
Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏
Baca juga novel pertamaku judulnya *Day's Eye*
Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya