My Sexy Girl

My Sexy Girl
Hukuman




Dipagi hari Ben sudah bersiap, dia meninggalkan kediamanya untuk pergi ke kampus, pagi itu Ben tidak membangunkan Diandra, dia berusaha untuk mulai tidak ikut campur dalam kehidupan wanita itu lagi karena niatnya meminta Diandra tinggal dirumahnya saat ini hanyalah untuk membantu Diandra menjauh dari ayahnya.


Diandra pagi itu masih berbaring diatas tempat tidur dengan seluruh tubuh yang tertutup rapat oleh selimut tebal, Diandra menjulurkan tanganya untuk meraih ponsel yang berdering diatas meja, dia mematikan alarm dari ponsel itu, menyingkab selimut dan bangkit, duduk dengan wajah lesu.


Meski malas pergi ke kampus, nyatanya Diandra bangkit dan memebersihkan diri, dia memakai pakaian yang Ben belikan untuknya, pagi itu Diandra masih dalam keadaan mabuk karena dia pulang pagi.


"Sakit sekali kepalaku."Gumam Diandra.


Wanita itu bahkan tidak perduli siapa yang membawanya pulang, dia melewatkan sarapan dan langsung pergi ke kampus dengan menggunakan taxi.


Setelah sampai Diandra melangkah cepat, dia menemui tuan Willy yang sudah menunggunya untuk bersih-bersih.


"Diandra, kamu selalu saja terlambat."Ucap tuan Willy kesal.


"Ini, pegang dan mulai mengepel semua lantai."Perintah tuan Willy.


"Cih.. yang benar saja! masa iya semua lantai."Saut Diandra merasa kesal.


"Berani membantah maka hukuman akan saya tambah 3 hari."Ancam tuan Willy.


"Halah.."Saut Diandra, dia melangkah pergi meninggalkan tuan Willy dan Geea yang mematung melihat sikap tidak sopanya.


"Mahasiswi yang paling kurang ajar selama saya menjadi dosen dikampus ini memang hanya Diandra, tidak ada yang lain."Gumam tuan Willy, dia mengelus dada dan menghela nafas panjang.


"Aku akan mulai bersih-bersih."Ucap Geea kesal, dia pun pergi untuk mulai menegepel lantai bersama Diandra.


Geea melihat tuan Willy pergi, dia mengalihkan pandanganya pada Diandra, menggunakan alat pelnya untuk mendorong ember air Diandra hingga air dari dalamnya memunclak keluar membasahi lantai.


Diandra menoleh dengan tatapan mematikan, dia menghampiri Geea dan menendang ember airnya hingga terbalik dan air membanjiri lantai.


"Diandra!"Teriak Geea marah.


"What?!!"Saut Diandra.


"Cepat bersihkan!"Tegas Geea, dia mendorong tubuh Diandra hingga membuatnya terhempas dan hampir terjatuh kelantai.


"Cewek sia*lan!"Saut Diandra, dia mendorong tubuh Geea hingga dia terjatuh ke lantai.


"Heh! lain kali ngaca! ini semua karena ulahmu yang mengadu pada tuan Willy! jika tidak mana mungkin kita dihukum!"Ucap Diandra marah.


Geea bangkit, dia mendorong tubuh Diandra lagi dan Diandra membalasnya, mereka saling menjambak dan memaki satu sama lain, berkelahi tidak terkendali.


"Hentikan!"Tegas Ben, dia datang setelah mendapat pengaduan dari mahasiswi lainya.


Ben menghampiri kedua wanita muda yang saat ini terluka dengan penampilan yang berantakan, wanita yang saling menatap tajam menusuk satu sama lain.


"Geea, cepat bereskan semua dan pergi ke klinik, jangan sampai tuan Willy mengetahui tentang ini, jika tidak.. bersiaplah mungkin kalian akan di skorsing."Ancam Ben.


"Baik kak Ben."Saut Geea patuh karena dia takut diskorsing.


Ben menatap Diandra yang masih sangat kesal saat itu, dia mendekat saat Geea telah pergi.


"Bersihkan semua lantai sendirian!"Perintah Ben.


"Apa? kau gila?"Tanya Diandra.


"Pel semua lantai atau aku akan mengadukanmu pada tuan Willy!"Tegas Ben.


Tidak dapat dipungkiri saat itu Diandra sangat kesal pada Ben, dia menghela nafas panjang dan menggertakan giginya menatap wajah datar Ben padanya, Diandra mengepalkan kedua tanganya namun Diandra pun tidak mau jika diskorsing.


"Cepat!"Tegas Ben.


"Tunggu pembalasanku Ben."Bisik Diandra ditelinga Ben sambil melangkah menuju alat kebersihanya.


Pagi itu Diandra mematuhi ucapan Ben, mengepel semua lantai kampus dengan perasaan amarah yang menguasainya.


Diandra yang semula sangat cantik, hari ini dia menjelma seperti cleaning service dikampus megah itu, Diandra menyimpan semua alat kebersihan digudang, dia pergi ke kantin dan membeli air minum, Diandra pergi ke belakang gedung kampus, duduk disembarang tempat, tertunduk dan termenung memandangi tanganya yang gemetar, merasakan pusing akhibat pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya menghilang.


"Halo baby, kamu dimana?"Tanya Diandra.


"Aku masih dikampus, ada apa baby?"Saut Nara.


"Aku didepan rumahmu, kamu simpan dimana kunci rumahmu? kepalaku sakit, aku ingin tidur sebentar."Ucap Diandra.


"Kamu dirumahku? bukanya tadi kamu ada dikampus? kamu sakit?"Tanya Nara khawatir.


"Hanya karena mabuk, cepat aku sudah capek."Saut Diandra.


"Kunci ada di bawah vas bunga warna coklat, ambil saja dan istirahat baby."Ucap Nara.


"Okay, oh iya baby.. jangan bicara pada siapapun aku dirumahmu, aku membolos hari ini."Pinta Diandra.


"Okay baby kamu jangan khawatir."Saut Nara.


"Bye."Ucap Diandra.


"Bye."Saut Nara.


Mereka mengakhiri panggilan telpon, Diandra mulai mencari kunci rumah Nara, dia masuk setelah menemukan dan membuka pintu, Diandra lansung melemparkan tasnya kesembarang tempat dan melemparkan tubuh keatas sofa diruang utama rumah Nara, dia langsung terlelap saat itu juga.


Dikampus, Ben memberikan tes setelah dia mengajar, semua mahasiswa/i tengah fokus dengan lembar jawaban mereka masing-masih, saat itu.. Ben hanya diam, menatap kursi Diandra yang kosong.


Ben kembali kerumah secepat mungkin setelah kelas telah habis, dia melangkah cepat masuk kedalam rumahnya dan membuka pintu kamar Diandra, Ben terdiam dipintu setelah melihat kamar itu kosong.


Meski Ben ingin berhenti memperdulikan Diandra, pada kenyataanya dia tetap saja mengkhawatirkan wanita itu, Diandra sendiri tidak pernah memperdulikan Ben, dia hanya perduli pada kesenanganya sendiri tanpa mau tau hal lainya.


Sore telah berganti malam, Ben duduk disofa diruang utama rumahnya, menoleh kearah jam didinding berulang kali, menunggu Diandra yang tidak kunjung kembali sampai malam mulai larut.


"Pergi kemana kamu Diandra? kenapa belum juga pulang?"Batin Ben.


"Apa kamu sangat marah karena aku hukum?"Batinya lagi.


Malam itu Ben terjaga, dia tidak bisa tidur dan terus menunggu Diandra yang tidak kunjung kambali kerumahnya, Ben mulai memejamkan mata sebentar saat hari mulai pagi karena dia masih harus mengajar lagi.


Pagi itu Diandra masuk pada kelas ke 3, seperti biasa, Diandra tidak pernah menyapa dan hanya diam tidak banyak bicara, dia datang kekampus sesuka hatinya, meski begitu Diandra masih menduduki posisi teratas, wanita dengan attitude nol besar, semua dosen memberinya dua jempol, mengakui akan kemampuan dan kecerdasan Diandra dalam pendidikanya selama ini.


Disore hari Ben membuntuti Diandra saat kelas telah habis.


"Diandra."Panggil Ben.


Diandra tidak menggubrisnya, dia bersikap sama seperti saat baru pertama kali mengenal Ben, sangat angkuh dan dingin.


"Diandra."Panggilnya lagi.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍


Suka dengan novel ini?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏


Baca juga novel pertamaku judulnya Day's Eye


Kisah cinta 1 wanita dengan 3 pria kaya raya