My Sexy Girl

My Sexy Girl
Tamparan




"Kamu punya mata, sekarang kamu sedang berdiri didepan pintu mobilku, untuk apa aku ikut denganmu?"Ucap Diandra kesal.


"Hey.. semakin kamu galak, aku semakin tertarik padamu."Saut Ben.


"Cih.."Senyum kecut Diandra tidak lagi mampuh berkata-kata.


Diandra merampas kunci mobil Ben, dia melangkah cepat dan masuk kemobil pria itu.


"Hey.. Diandra, apa yang kamu lakukan?"Tanya Ben mengetuk pintu mobilnya.


Diandra tidak menggubrisnya, dia pergi meninggalkan area kampus dengan menggunakan mobil Ben, Ben membatu, wanita itu sungguh mampuh membuatnya merasa sangat kesal.


"Cih.."Senyum Ben merasa lucu.


Diandra telah sampai dirumahnya, dia memarkirkan mobilnya dan melangkah masuk kedalam rumah.


"Diandra."Panggil Ny. Jenie.


Diandra menghentikan langkahnya, dia menoleh.


"Mobil siapa yang kamu pakai?"Tanya Ny. Jenie.


"Apa pentingnya buatmu?"Saut Diandra.


"Aku ibumu, sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu padaku?"Tanya Ny. Jenie.


"Hello, Ny. Jenie. ibuku hanya satu dan itu bukan kamu."Saut Diandra menyebalkan.


"Diandra, kamu harus sadar, sekarang akulah ibumu."Ucap Ny. Jenie.


"Ny. Jenie.. are you dreaming? kamu hanya seorang wanita kotor yang diangkat dari lumpur oleh ibuku, dan sebagai balasanmu kamu merebut suaminya, dan kamu ingin aku memanggilmu ibu? Cih.. sampai akhirpun aku tidak akan pernah memanggilmu ibu."Saut Diandra.


"Diandra!"Panggil tuan Hans.


Plaakkk..!! Tuan Hans menampar wajah Diandra lagi dengan sekuat tenaganya, Diandra terdiam, memegangi wajahnya yang dihadiahi tamparan oleh ayahnya sendiri, sudut bibir diandra melebam dan berdarah.


Diandra mendongak, menatap wajah ayahnya yang dibutakan oleh istri mudanya.


"Tampar aku lagi!"Ucap Diandra.


Plaakkk..!! Tuan Hans menampar wajah Diandra lagi, diandra tertunduk memegangi wajahnya.


"Semakin kamu dewasa, kamu semakin kurang ajar."Ucap tuan Hans.


"Aku benci ayah."Saut Diandra.


Tuan Hans terdiam, dia menatap putrinya yang tertunduk memegangi pipinya, Diandra melangkah cepat menuju kamarnya, dia melempar tubuh diatas tempat tidur dan menangis.


Tuan Hans masih diam melihat putri yang menghilang dibalik pintu kamarnya.


"Sudah sayang, biarkan Diandra sendiri dulu."Ucap Ny. Jenie.


"Rasakan kamu Diandra, ibumu sudah pergi, aku hanya perlu menyingkirkanmu dari rumah ini dan semua harta Hans akan jatuh ditanganku, akan aku pastikan kalian tidak akan mendapatkan apapun."Batin Ny. Jenie.


"Aku akan menemuinya."Ucap tuan Hans, dia menuju kamar Diandra.


"Sayang."Panggil Ny. Jenie.


Tuan Hans terus melangkah, dia membuka pintu dan mematung melihat Diandra yang menangis pilu, Tuan Hans masuk dan duduk diatas tempat tidur didekat Diandra.


"Sayang."Panggil tuan Hans pada putrinya.


Diandra bangkit, menuju pintu dan membukanya.


"Silahkan keluar!"Pinta Diandra.


"Diandra! kamu tidak pantas bersikap seperti pada ayah!"Ucap Tuan Hans.


"Kau bukan ayahku! mulai hari ini aku tidak punya ayah sepertimu! lindungi saja istrimu! aku sangat muak! kau bahkan tidak mencari mamah yang sudah pergi meninggalkan kita selama 6 tahun! kau menghianatinya! kau mencampakanya! kau menyakiti hati mamah! kau menyakiti aku! wanita itu! dia bukan manusia! kapan kau akan sadar! dia hanya mengincar hartamu! dia tidak mencintaimu! wanita yang mencintaimu tulus hanya mamah! tapi kau! kau malah berselingkuh darinya! aku! aku sangat membencimu! sekarang pergi dari sini! aku tidak ingin melihat wajahmu!"Ucap Diandra, dia sangat mengerikan saat marah.


Tuan Hans bangkit, meraih kursi besi dan menggunakanya untuk menyakiti Diandra, tuan Hans tidak terima jika istrinya dituduh hanya mengincar hartanya saja, dia bahkan lebih memilih menyakiti Diandra putrinya sendiri.


Tuan Hans pergi meninggalkan kamar Diandra, dia menapaki anak tangga dengan wajah yang sangat mengerikan.


"Eeenng."Erang Diandra kesakitan.


Diandra bangkit dari lantai, dia melangkah perlahan, tubuhnya penuh luka lebam dan terbuka, dia meraih kunci mobil Ben dan pergi diam-diam meninggalkan rumah.


Meski sudah tidak sanggup, Diandra berusaha tetap membuka matanya, dia memarkitkan mobil Ben didekat mobilnya diarea parkir kampus.


Diandra merebahkan kepalanya dikemudi mobil, kedua tanganya terhempas, terkulai tidak bergeming, Diandra memejamkan matanya.


Hari mulai sore, kampus mulai sepi, Ben keluar dari gedung menuju parkiran mobil karena temanya akan datang menjemputnya, namun Ben terhenti saat dia melihat mobilnya terparkir lagi.


Ben penasaran, mengintip kedalam dan melihat Diandra ada didalam mobilnya, Ben mengeluarkan ponselnya untuk mengubungi Sam temanya.


"Halo Sam, mobilku sudah kembali, aku akan pulang dengan mobilku."Ucap Ben.


"Baiklah, aku akan putar balik."Saut Sam.


"Baik, terimakasih Sam."Ucap Ben.


"Iya, tidak perlu sungkan."Saut Sam.


Ben mengakhiri panggilan telpon dan menghampiri mobilnya, dia mengetuk pintu mobilnya untuk membangunkan Diandra.


"Kenapa tidak bangun-bangun."Gumam Ben.


Ben tidak menyerah untuk mengetuk pintu mobilnya, namun perlahan dia merasa ada yang tidak beres, Ben kembali keruangan untuk mengambil kunci duplikat mobilnya yang dia simpan dilaci, Ben kembali keparkiran dan membuka pintu mobilnya.


"Diandra."Panggil Ben, dia menggoyang pundak Diandra.


Diandra masih belum merespon, Ben meraih rambut panjang yang menutupi wajah Diandra, dia terkejut saat melihat luka diwajahnya, Ben mulai meraih tangan Diandra, dia membuka Swater wanita itu, Ben tidak mampuh berkata-kata.


"Diandra! ada apa denganmu? kenapa banyak luka ditubuhmu?"Ucap Ben panik, namun Diandra tidak merespon.


Ben menggendong tubuh wanita itu dan memindahkanya kekursi depan disebelah kursi kemudi, Ben membawanya kerumah sakit.


Setelah mendapat pertolongan Diandra dipindah keruang inap VVIP, Ben menanggung semua biayanya, dia masuk keruang inap Diandra yang masih belum sadarkan diri, Ben menarik kursi, dia duduk didekat Diandra, memandangi wajah cantik yang saat ini membiru.


"Aku sungguh ingin tau lebih banyak tentangmu, meski aku bisa meminta orangku untuk menyelidikimu, tapi.. aku ingin mencari tau sendiri."Ucap Ben.


Ben terdiam, menatap wajah Diandra, dia menggenggam tangan wanita itu dan terus menemaninya.


Dipagi hari, Diandra membuka mata dan menoleh kesisi kananya, dia meliahat Ben tertidur menggenggam tanganya, Diandra berusaha melpaskan genggaman tangan Ben perlahan, namun usahanya malah membuat Ben terbangun dari tidurnya.


"Diandra, kamu sudah bangun? sudah lebih baik?"Tanya Ben langsung bangkit.


"Cih.. tidak usah berlebihan."Saut Diandra.


Ben terdiam, dia duduk lagi, menatap wajah Diandra.


"Apa yang kamu laihat?"Tanya Diandra.


"Tidak ada."Saut Ben.


"Aku lapar."Ucap Diandra.


"Kamu lapar? biar aku suapi."Saut Ben, dia meraih nampan makanan Diandra yang ada diatas meja.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."Ucap Diandra, dia merampas nampan makananya.


Ben membiarkanya, dia duduk lagi, memperhatikan wanita yang makan sangat lahap, Diandra terlihat seperti orang yang kelaparan.


"Kamu belum makan sejak kapan?"Tanya Ben.


"Kemarin siang."Saut Diandra.


"Apa yang terjadi padamu? kenapa sampai seperti ini? siapa yang melakukanya?"Tanya Ben.


"Bukan urusanmu, urus saja kepentinganmu sendiri."Saut Diandra, dia meletakan nampanya diatas meja dideakatnya.


"Masih lapar? biar aku belikan makanan diluar."Ucap Ben.


"Tidak perlu."Saut Diandra.


"Dokter bilang kamu sudah bisa pulang nanti sore, istirahat saja biar aku yang mengantarmu."Ucap Ben.


"Aku tidak mau pulang."Saut Diandra.


**


Halo Readers yang cantik dan ganteng 😍


Suka dengan novel ini?


Dukung author dengan cara:


VOTE


LIKE


FAVORIT


KOMEN Sopan


Dukungan kalian sangat berarti 😀🙏