
"Assalamualaikum." Ucap Anara ketika memasuki pintu rumahnya.
" Waalaikumsalam." Sahut Bi Yati, pa Mardi dan paman Ben.
"Non akhirnya Anda pulang juga. Bibi semalam khawatir sama non yang nggak pulang." Ucap Bi Yati sembari menghampiri Queen lalu memeluknya.
Setelah itu bi Yati menarik tangan Queen untuk duduk bersamanya dan kedua pria paruh bayah yang ikut menunggu kepulangan istri dari majikan mereka itu.
"Non sudah makan?" Tanya Bi yati dengan lembut, wanita itu memperlakukan Queen seperti putrinya sendiri, walaupun terkadang ia sering menjaga sikapnya mengingat status sosial diantara mereka.
Queen, mengeleng kepalanya sebagai jawaban. Karena tadi mereka memang belum sempat untuk makan malam.
"Non tunggu sebentar! Bibi akan menyiapkan makan malamnya." Ucap wanita paruh bayah itu lagi, sembari beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu jawaban dari Queen.
Setelah Bi yati pergi, Queen menatap pak Mardi dan paman Ben, secara bergantian. " Paman, pak Mardi." Panggil gadis itu dan Kedua lelaki paruh baya itu langsung melihat kepadanya.
"Mulai besok, pak Mardi tidak perlu mengantar jemput aku dan pak ben juga bisa memberi kabar kepada tuan, seperti biasa! Tidak perlu berkata jujur, toh dia juga tidak pernah datang dan Kalian tidak perlu takut, saya yang akan bertanggung jawab jika dia sampai mengetahui hal ini."Ucap Queen menyakinkan.
Kedua pria itu terlihat ragu sekaligus takut, sehingga mereka hanya diam tanpa tahu harus merespon seperti apa. " Silahkan paman dan pak Mardi pikiran semuanya dengan baik, jika kalian menolak saya tidak keberatan meninggalkan semua ini, saat ini juga." Lanjutnya dengan sedikit mengancam.
"Baiklah, jika itu bisa membuat Nona betah di rumah." Putus paman Ben.
" Terima kasih paman." Ucapnya bersamaan dengan datangnya bi Yati.
" Ayo non, makan malamnya sudah bibi siapkan." Gadis itu mengangguk kepalanya kemudian beranjak dari tempat duduknya menyusul bi yati, setelah berpamitan kepada paman Ben dan pak Mardi yang di balas anggukan kecil dari kedua pria paruh baya itu.
...\=\=\=\=\=\=...
Tidak terasa satu bulan sudah Queen dan Nathalia kini telah resmi menjadi anggota genk Phoenix.
Dan selama satu bulan ini, Queen merasa benar-benar hidup, sebab dia dapat melakukan apapun yang dia suka, paman Ben benar-benar membebaskannya.
Queen pun sudah tidak berpikir lagi tentang statusnya. Karena semakin di pikirkan semakin dia pusing sendiri, untuk saat ini Queen hanya ingin fokus dengan kehidupannya yang sekarang.
"Anara." Panggil anggota Phoenix, saat wanita itu memarkirkan motornya bersama motor anggota Phoenix lainnya.
Wanita itu kemudian turun dari motor lalu bertos-ria bersama anggota Phoenix yang ada disitu."Nat sama Chika belum datang?" Tanya Anara kepada salah satu anggota Phoenix.
Saat ini mereka tengah bersiap untuk balapan seperti biasanya dan siapa yang turun nanti belum di putuskan.
" Tuh mereka sama Zicko disana." Tunjuk salah satu anggota Phoenix kepada kedua sahabatnya itu.
Anara pun hanya mengangguk, setelah itu dia memilih untuk duduk mengobrol bersama mereka yang ada disitu, ketimbang menyusul kedua sahabatnya.
Hingga seorang anggota Phoenix lainnya datang untuk menghampirinya." Hai Ara." Panggil orang itu sembari menepuk pundak Anara.
" Iya ada apa?"
"Di panggil Zicko tuh." Tunjuk-nya kepada Zicko yang sedang melihat kearahnya lalu memberi kode untuk Anara mendekat.
"Aku ke sana dulu ya." Pamit Anara kepada anggota Phoenix yang bersamanya, setelah mendapat anggukan dari mereka, Anara langsung menghampiri Zicko.
" Ada apa?" Tanya Anara setibanya ia di depan mereka.
" Ra, nanti kamu turun ya! Lawan Queen, the devil." Ucap Zicko, langsung pada intinya.
" Iya Ara kamu aja! Aku malas banget lawan dia." Timpa Ema, anggota Phoenix cewek yang biasanya turun untuk balapan saat lawan mereka cewek, kecepatan Ema saat balapan ini sudah tidak bisa di ragukan lagi.
Tapi untuk yang kali ini dia malas melawan Queen the devil itu.
"Bisa-kan." Tanya Zicko lagi, saat tidak menemukan jawaban dari Queen.
" Iya." Jawabnya.
"Oke, nanti pakai motor aku aja," Saran Zicko.
" Ingat Ra, kamu harus hati-hati, anggota the devil itu licik mereka akan menghalalkan apa saja asal bisa menang." Pesan Ema. Anara pun mengangguk paham.
Suasana yang awalnya tidak terlalu bising itu, menjadi sangat bising saat terdengar bunyi deruman motor yang terdengar saling bersahutan mendekati ke arah mereka.
Lokasi yang mereka pilih saat ini, terjamin sangat tersembunyi dan diyakini aman dari jangkauan patroli malam.
"Gimana udah siap kalah! Emangnya selain sih Ema. Kamu punya siapa lagi? Chika, entar kalah nangis." Ucap seseorang orang yang baru datang dengan geng motornya sembari mencibir penuh ejekan kepada Chika.
Lelaki yang baru datang itu, mengepalkan tangannya tidak suka. " Jangan sok hebat deh kalian."
"Dari dulu juga anggota Phoenix itu hebat-hebat, bukan asal rekrut men." Sahut Nat.
"Nggak usah sok kalian mending kita mulai sekarang dan kita liat siapa yang menang, kalau cewek gue yang menang gue mau posisi ketua Phoenix." Ucap sang ketua the devil.
"Oke Deal, Ambil aja! Tapi kalau cewek Lo kalah, mulai malam ini the devil bubar." Sahut Zicko sembari menepuk pundak Anara.
Soal menyatakan kalau kalau posisi Phoenix berada ditangannya, tanpa menghiraukan tatapan protes gadis itu.
Tidak hanya Zicko bahkan semua anggota Genk Phoenix menyetujui hal itu dan mendukung Anara.
Begitulah anggota Genk Phoenix tidak peduli anggota baru atau lama, mereka akan di perlakukan sama dan di beri kepercayaan yang sama.
"Ara ayok." Ucap salah satu anggota Phoenix, sembari menyerahkan helm Anara untuk di pakai wanita itu, sedang Zicko mendorong motornya menuju garis start.
Anara menghampiri Zicko dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya." Hati-hati." Pesan Zicko begitu ia bertukar posisi dengan Anara dan gadis ini kini sudah duduk di atas motornya.
Disaat kedua wanita itu sudah siap, Zicko berdiri diantara keduanya, sembari memegang sebuah slayer berwarna merah di tangannya.
"Kalian siap." Tanya Zicko, Anara dan lawannya saling melirik, kemudian kompak mengangguk.
" 1."
" 2."
" 3."
"Mulai." Ucap Zicko sembari menjatuhkan slayer di tangannya.
Bruumm Bruumm
Anara dan ratu mulai memacu motor mereka dengan kecepatan tinggi, semua anggota Genk the devil dan Phoenix bersorak menyemangati anggota masing-masing.
" Ara ayo semangat, kalau menang besok aku beli iPhone keluar terbaru." Teriak Indra.
" Semangat Ara! Kalau menang, aku traktir kamu selama seminggu." Nat pun ikut-ikutan berteriak untuk Anara.
Sementara Chika dan Tommy hanya bisa diam dan berdoa semoga anara menang tanpa harus di iming-iming seperti yang dilakukan kedua sahabatnya.
Ratu melajukan motornya dengan sengaja ingin menyerempet motor Anara, mencoba membuat gadis itu terjatuh.
Beberapa kali dia melakukan hal licik ini tapi selalu gagal, Karena Anara yang memiliki otak cerdas dan penglihatan yang tajam dapat dengan mudah menghindar dan ketika dia sudah berada dekat garis finis. Anara langsung tancap gas melewati Si ratu itu.
"Wuuuus." Motor Anara melewati garis finish sebagai pemenang dan di iku sorak gembira anak-anak Phoenix.
Genk teh devil yang tidak suka akan hal itu langsung menyerang anggota Phoenix dan perkelahian antar dua Genk itu tidak dapat dihindari.
Wiuww... wiuuwww...
Terdengar suara sirine polisi, baik anggota Phoenix maupun the devil langsung menuju motor masing-masing dan meninggalkan itu.
Sayangnya beberapa anggota the devil dan Phoenix tidak sempat kabur, tertangkap dan dibawa ke kantor polisi.
"Ema, Anara, Nat, Zicko, Tommy, serta dua anggota Phoenix lainnya. Sementara anggota the devil lebih banyak dari mereka.
Malam itu, Zicko dan Nat, terpaksa menemani Anara tidur di kantor polisi karena tidak ada yang menjemput mereka, sementara Tommy, Ema dan dua anggota lainnya sudah di jemput orang tua mereka setelah mendapat siraman rohani dari pak polisi dan menadatangani surat pernyataan.
"Ara, kamu nggak punya orang tua?" Tanya Zicko, karena gadis itu mengatakan tidak memiliki siapapun di dunia ini saat polisi meminta nomor telepon orang tuanya tadi.
" Ya! Mama papa aku sudah meninggal sejak aku berusia 9 tahun. Aku dibesarkan kakek dan nenek, tapi nenek meninggal di usia ku yang baru 15 tahun dua tahunnya kakek menyusul nenek. Aku hanya sendiri di dunia ini." Jawab Anara, menunjukkan senyum baik-baiknya.
Sementara Nat yang mendengar hal itu, langsung memeluk Sahabatnya itu. " Kamu tidak sendiri, kamu punya kita. Aku, Chika, Indra dan Tommy akan selalu ada buat kamu, jangan pernah merasa sendiri."
Malam itu Nat bisa saja ikuti lari tapi melihat Anara yang tertangkap karena motornya terparkir sedikit jauh dan wanita itu sempat terjatuh karena teman-teman mereka yang panik. Memilih menyerahkan dirinya. Begitupun dengan Zicko dan Indra.
"Ya yang di katakan Nat benar, selain mereka ada aku dan anggota Phoenix lainnya. Kamu nggak usah khawatir, nanti orang papi aku akan datang untuk membebaskan kita.
Dan benar saja, keesokan harinya, orang suruhan papi Zicko langsung datang dan membebaskan mereka. Setelah itu mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing dan beristirahat.