
"Ya udah cepat naik, keburu orang-orang jahat itu datang." Queen mengangguk kemudian naik keatas mobil pick up dan langsung tengkurap dibelakang sana, begitu mobil itu menjauh meninggalkan rumahnya, sepanjang perjalanan ia berada diposisi yang sama hingga mobil itu sampai berhenti di depan kantor polisi yang letaknya tidak jauh dari kampus.
"Neng sudah sampai." Ucap supir baik hati itu, karena mau mengantar Queen ke kantor polisi. Padahal Queen hanya berbohong." Neng mau bapak bantu Buat bersaksi didalam?" Tanya sang supir itu lagi sembari membantu Queen untuk turun.
"Nggak usah pak, dengan bapak bantu saya saja saya sudah berterima kasih banget." Tolak Queen, karena ia tidak mungkin masuk kedalam sana dan membuat laporan, bukankah itu sama saja dia menyerahkan dirinya kepada Evan.
"Kamu yakin?" Queen mengangguk kepalanya." Ya udah ini bapak ada sedikit rejeki, siapa tahu bisa membantu neng." Ucapnya kemudian memberi Queen uang lima puluh ribu.
"Pak nggak usah_"
"Jangan ditolak, anggap aja ini rejeki kamu?" Lelaki paruh itu menolak tangan Queen ingin mengembalikan uangnya." Ya sudah bapak pergi dulu ya neng! Hati-hati." Pesannya sembari mengusap kepala Queen lalu masuk kedalam mobilnya, sebelum melajukan mobil itu pergi dari hadapan Queen, bersamaan dengan air matanya yang jatuh tanpa ia sadari.
Selama ini ia mencoba Kuat dan baik-baik saja, nyatanya dia sangat kesepian dan membutuhkan perhatian. Usapan lembut pria paruh baya itu membuat ia merindukan ayah dan kakeknya. Sudah lima tahun dia mencoba baik-baik saja dan kuat menjalani hidupnya, tapi hari ini dia sadar semua ini semu.
Queen terduduk diatas trotoar yang ada di depan kantor polisi itu, lalu menangis sejadi-jadinya, sembari menatap uang selembar lima puluh ribu ditangannya.
Dia rindu, masa dimana nominal uang ini begitu sulit dicari, namun ia dilimpahi kasih sayang buka seperti sekarang, uang ia tidaklah begitu berharga sama seperti dirinya yang hidup namun sendiri.
Beberapa polisi yang sedang berada di pos itu, menghampiri Queen saat mendengar suara tangisannya, mereka bertanya apa yang terjadi. Namun Queen hanya diam, bahkan saat mereka membujuknya untuk berdiri namun Queen tetap pada tempatnya.
Hingga ia menjadi tontonan pejalan kaki dan beberapa pengemudi yang lewat, bahkan ada yang berhenti hanya untuk melihatnya.
"Ara, kamu kenapa?" Indra yang hendak ke kampus, begitu terkejut mendapati sahabatnya itu menangis seperti ini." Ia mencoba membujuknya untuk berhenti menangis namun Queen suara tangisan Queen semakin menjadi.
Tidak ingin sang sahabat menjadi tontonan, Indra langsung menggendongnya membawa masuk Queen ke dalam mobilnya kemudian pergi dari sana, membuat orang-orang berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Indra mengurungkan niatnya ke kampus dan memilih menemani Queen hingga perasaan wanita itu sedikit membaik tanpa perlu banyak bertanya.
Keduanya hanya berputar-putar, hingga Queen berhenti menangis dan perlahan terlelap karena kelelahan.
Kalau bukan karena mata dan wajahnya, mungkin Indra tidak akan mengenalinya dan mengira dia orang gila.
Setibanya di gedung apartemen sepupunya, indra mengendong Queen keluar dari mobil itu dengan hati-hati, lalu masuk kedalam lift, yang akan membawanya ke lantai tujuh dimana unit apartemen sepupunya berada.
Setibanya ditujuan, Indra dengan sedikit kesusahan menekan tombol bel dengan Queen dalam gendongannya. " Kebanyakan dosa nih anak." Gumam Indra sembari melihat wajah damai. " Nyaman banget ya tidurnya, habis nangis nggak jelas, kaya orang gila, sekarang tidur. Ara, Ara!"
Ceklek.
Pintu apartemen itupun dibuka, sang empunya keluar sambil menatap bingung Indra lalu berpindah pada wanita dalam gendongannya. " Dia siapa?"
"Delvika! Tanya-jawabnya nanti aja, izin aku masuk dulu please." Mohonnya. Wanita yang dipanggil Delvika itu langsung memberi ruang untuk Indra lewat. " Terima kasih." Ucapnya kemudian masuk begitu mendapat izin dari siempunya.
"Pacar kamu?" Tanya Vika. Begitu Indra selesai membaringkan Queen di sofa.
"Bukan, dia sahabat aku! Tadi aku nemuin dia nangis dijalan." Jawab sembari mendaratkan bokongnya pada sofa single yang ada diruang itu.
Sementara Delvika hanya mengangguk lalu menelisik penampilan Ruby yang masih terlelap itu. "Putus cinta?" Tebak wanita itu.
Indra menaikkan kedua bahunya tidak tahu," udah jangan banyak tanya, ambil-in minum kek, haus nih."
"Si-alan, lama-lama ngelunjak ya."
"Vika, aku tamu! Dimana-mana tamu itu_"
"Apa?" Sentak Delvika dengan kedua mata yang melotot, membuat indra tidak dapat melanjutkan kata-katanya. "Kalau haus, sana ambil sendiri biasanya juga gitu nggak punya urat malu." Ucap wanita itu lagi, kemudian berlalu meninggalkan Indra dan Queen, masuk kedalam kamarnya.