My Queen

My Queen
Ceraikan aku!



"Apa yang tidak mungkin! Kamu tidak ingin menerima kenyataan jika akulah suamimu." Evan menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh arti. " Kamu harus menerima kenyataan jika lelaki inilah yang memenuhi semua kebutuhan dan keinginanmu Selama ini." Lanjutnya bertepuk dada seakan ingin menunjukkan kepada Queen jika wanita itu harus tunduk kepadanya karena status yang mereka punya.


"Harusnya kamu bersyukur dan menuruti semua perkataan dan peraturan yang sudah aku buat, bukan menjadi wanita pembangkang dan berkeliaran bebas diluar sana." Ucap Evan lagi, pria itu melangkah lebih dekat dengan Queen, menjepit dagu Queen mengunakan jempol dan telunjuknya hingga membuat Queen meringis kesakitan sebelum menghempaskan dagu Queen dengan kasar.


Evan ingin. Menunjukkan pada wanita itu, se-marah apa dirinya saat ini dan posisinya yang harus di hargai oleh Queen.


Minimnya pengalaman dalam percintaan membuat ia memperlakukan Queen sama seperti para pekerja-nya yang harus tunduk pada perintahnya.


"Aku tidak memintanya dan kalau pun kamu memberi, itu sudah kewajiban kamu sebagai seorang suami." Sahut Queen dengan beraninya, membuat Evan tertawa.


Evan menertawakan keberanian Queen saat menyahuti ucapannya, bahkan sang istri berani membalas tatapannya dengan lebih tajam dan menusuk, seakan dia adalah penguasa disini.


Oh, Evan hampir lupa jika wanita itu adalah ratunya tentu saja dia bisa bersikap sepertinya.


"Kenapa tertawa, tidak ada yang lucu dari kata-kataku." Queen melipat tangannya di dada lalu menatap para pelayan yang masih berlutut menunggu hukuman mereka itu. " Paman, berdirilah, kalian semua juga boleh berdiri dan silahkan tinggalkan ruangan ini." Titah Queen. Evan menaikkan sebelah alisnya mengakui keberanian wanita itu.


"Kenapa diam saja, apa kalian tulis." Bentak Evan saat paman Ben dan para pelayan itu tidak kunjung beranjak dari tempat mereka." Pergilah karena dia yang akan menanggung semua kesalahan kalian." Lanjutnya. Membuat paman Ben dan yang lainnya semakin membeku di tempat mereka.


"Paman pergilah, ajak mereka bersama paman, aku akan baik-baik saja."Queen meyakinkan paman Ben, tidak ada ketakutan ataupun ketegangan diwajahnya. Queen yakin bisa mengahadi pria dihadapannya ini. Seperti pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.


"Non_"


"Pergilah." Bentak Evan, membuat mereka semua langsung menghilang dari tempat dari sana tanpa menunggu di bentak dua kali.


Queen yang mendengar bentakan Evan hanya bisa memejamkan matanya sembari menguatkan hatinya, hari ini juga dia harus menyampaikan keinginannya.


"Si_"


Selain ingin menolong paman Ben dan yang lainnya, ini juga alasan lainnya Queen mau turun menemui pria itu, walaupun suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah dipermalukan suaminya.


Sementara Queen sendiri tidak sadar jika dua kata yang baru saja dia ucapkan, berhasil memprovokasi Evan dan membuat sang suami tersulut emosinya.


"Kenapa?" Tanya Evan. Membuat Queen menaikkan sebelah alisnya. " Kenapa ingin bercerai? Apa semua kemewahan itu tidak cukup untuk kamu?"


"Aku tidak membutuhkan hartamu dan semua kemewahan ini." Sahut Queen. Gadis itu sungguh tidak habis pikir, apa semua orang kaya berpikir seperti ini dan menilai segala sesuatunya dengan materi.


"Lalu apa alasannya kamu ingin bercerai." Tanya Evan dengan tangan terkepal, merasa Queen tidak menghargai segala usahanya untuk wanita itu dan dengan seenaknya dia mengatakan tidak membutuhkan semua kemewahan yang Evan berikan, sedangkan ia terus menikmati semuanya.


Evan terus mengintimidasi wanita itu, mengikis jarak diantara mereka, membuat Queen mundur beberapa langkah hingga ia tersandung dan hampir saja terjatuh jika Evan terlambat sedikit saja menahan tubuhnya.


"Kenapa Diam, jawab aku! Apa alasannya kamu ingin bercerai dariku." Tanya Evan lagi. Jika tidak memikirkan kondisi kesehatan sang kakek, Evan akan dengan senang hati mengabulkan keinginan wanita Queen.


Sayangnya ia tidak ingin melakukan hal bodoh yang mungkin akan mempercepat pertemuan sang kakek dengan malaikat maut. Terlebih lagi dia sering mengatakan kepada sang kakek jika selama ini ke-duanya hidup dengan baik.


"Aku ingin menjadi gadis biasa, yang bebas pergi kemana pun! Bukan menjadi istri pria kaya yang hidupnya hanya dalam sangkar emas seperti ini." Jawab Queen mantap.


"Alasan yang tak masuk akal." Ejek Evan. Disaat wanita-wanita diluar sana berjuang untuk hidup enak seperti Queen, wanita itu justru ingin melepaskan kemewahan yang dia dapatkan dan ingin hidup seperti wanita biasa.


"Apa yang tidak masuk akal? Aku justru akan hilang akal jika terus bertahan disini."Teriak Queen, mendorong dada Evan, agar pelukan pria itu terlepas dari pinggangnya.


Namun usaha Queen terbilang sia-sia."Stop, jangan sekali-kali kamu meninggikan suara kamu dihadapan aku." Evan mencengkram pipi Queen, membuat sang empunya memberontak namun Evan tidak begitu saja melepaskannya. " Dengar ini baik-baik Queen, aku tidak akan pernah menceraikan kamu dan mulai saat ini aku sendiri yang akan mengawasi kamu." Lanjutnya penuh penekanan,