My Queen

My Queen
Memulai dari awal



Evan menarik nafas dalam-dalam Lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan, begitu dia berhasil membawa Queen masuk kedalam Mansion-nya.


Pria itu mendudukkan Queen di sofa lalu mengapit kedua kaki Queen menggunakan tangannya, agar wanita itu tidak pergi saat ia mengajaknya berbicara.


Bukankah sudah seharusnya mereka berdua duduk dan berdiri dari hati kehati, walaupun Evan sendiri belum yakin dengan hatinya untuk Queen, namun dia serius ingin menjalani pernikahan.


"Aku minta maaf! bisakah kamu berhenti membicarakan perceraian," mohonnya sembari menatap wajah Queen penuh harap.


"Kenapa? apa kamu takut kakek akan marah? aku akan berbicara dengan kakek Atmaja dan aku janji tidak akan menjelekan kamu di depannya. Kamu boleh menghukum aku, jika aku berbohong." Sahut Queen seraya menundukkan kepalanya.


Wanita itu tidak berani membalas tatapan Evan, karena ini pertama kalinya dia berada di situasi seperti ini. Duduk dengan Posisi saling berhadapan dan tidak berjarak sama sekali. Tentu saja Queen dibuat gelisah setengah mati, namun sebisa mungkin ia tidak menunjukkannya dihadapan Evan.


"Bukan, ini bukan soal kakek! tapi soal kita berdua dan pernikahan ini." Ucap Evan, sembari mengangkat dagu Queen, agar wanita itu mau membalas tatapannya." Aku mau kita mencoba semuanya lagi dari awal! menjalani pernikahan ini dengan selayaknya." Bujuknya, berharap istri kecilnya itu akan luluh.


"Kamu sedang tidak berencana untuk membunuhku-kan?" Evan di buat membeo dengan tanggapan istrinya. Bagaimana bisa wanita itu berpikir jika Evan ingin membunuhnya.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Evan, pria itu mencoba sabar menghadapi Queen-nya.


Tuk.


Evan langsung menyentil dahi Queen, tidak sampai menyakiti wanita itu. " Mulai besok lakukan sesuatu yang lebih berguna ketimbang menonton drama-drama tak penting itu." Ujarnya tak habis pikir, sementara Queen hanya memasang raut wajah cemberutnya, sembari mengusap dahinya. "Jadi apa Tanggapan kamu?" Tanya Evan, ketika dia teringat tujuannya berbicara dengan Queen.


"Tanggapan untuk apa?" Kenapa Queen mendadak jadi lemot seperti ini.


"Queen Anara, Aku tanya sekali lagi kamu mau maafin aku dan kita mulai hubungan ini dari awal lagi." Queen terdiam sembari menatap wajah Evan, mencari keseriusan disana. "Queen!" panggil Evan mulai tidak sabar.


"Iya, tapi aku nggak mau di tinggal sendiri lagi, aku tidak suka dibentak dan aku mau disayang." melunjakkan. Begitulah perempuan, kalau sudah merasa menang Pasti banyak syarat dan embel-embel yang harus di penuhi, Queen ini salah satu contoh. " Kalau aku sampai di tinggal sendiri lagi, aku tidak akan menunggu sampai lima tahun lagi, tiga saja aku akan langsung kabur dari sini." lanjutnya mengingat.


"Maafkan aku! aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Evan, sembari merapikan rambut istrinya lalu menyelipkan kebelakang telinganya.


Dan Sejak hari itu mereka pun menjalani hubungan mereka dengan sebagai mana mestinya, hubungan yang harusnya terjalin harmonis diawal. Harus tertunda karena satu dan lain hal yang hanya Evanlah yang tahu, mengapa ia membiarkan Queen sendirian selama itu. Mungkin karena umur Queen yang terbilang belia atau Evan memiliki alasan lain, hanya pria itu yang tahu pastinya seperti apa.