
Entah apa yang terjadi kepada Evan, dia yang tidak pernah mengalah kepada orang lain dan tidak menunggu untuk alasan apapun.
Akan tetapi, pagi ini terasa berbeda. Bagaimana tidak, seorang Evan justru dengan sabar menunggu dan mengalah untuk Queen, wanita itu tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Membuat Evan yang ingin melakukan ritual pagi nya, mau tak mau harus bersabar menunggu wanita itu selesai tanpa ia sadari, dirinya telah mengalah untuk wanita di dalam sana, bahkan ia telah lupa akan niatnya menghukum Queen.
Sungguh hanya wanita itu yang mampu membuat seorang Evan seperti ini, dia yang notabene adalah seorang pria yang tegas dan selalu membuktikan Ucapannya tanpa sadar mulai labil jika berhadapan dengan sosok Queen.
Wanita yang terpaksa ia ratukan atas permintaan sang kakek, walaupun begitu seiring waktu ia pun terbiasa meratu-kan Queen dan mengabulkan semua keinginannya.
"Queen, kamu akan terlambat ke kampus jika terus berada didalam sana." Teriak Evan namun tidak disahuti oleh Queen, pria itu berharap semoga pagi ini, Queen-nya tidak berulah lagi.
"Queen mau sampai kapan kamu terus berada didalam sana, kamu harus sarapan dan pergi ke kampus." Evan kembali mengingatkan wanita itu.
"Queen_"
Ceklek.
"Iya-iya, aku sudah selesai." Sela Queen yang baru saja keluar kamar mandi.
Wanita itu terlihat jauh lebih segar dengan bathrobe yang membungkus sebagian tubuhnya juga handuk yang sengaja ia lilitkan di kepalanya, sehabis keramas.
Dengan tanpa beban Queen melangkah kearah pintu kamar, namun sebelum sempat ia menggapai hendel pintu suara Evan menghentikan langkahnya.
"Mau kemana?" Queen mende-sah pendek, entah mengapa ia merasa pria ini sedikit aneh! Entahlah. " Queen aku sedang bertanya, jangan diam saja." Desak Evan sedikit tak sabar.
Hal itu membuat Queen memutar bola matanya malas, namun ia tetap berbalik untuk menjawab pertanyaan pria yang sialnya, adalah suaminya sendiri.
Sebagai istri yang baik, bukankah sudah seharusnya menghormati suaminya dan Queen berusaha melakukan itu dengan versinya sendiri. "Aku harus ganti baju tuan pengatur, apa tuan ingin aku ke kampus dengan penampilan seperti ini? Jika ya, tak ada salahnya mencoba." Walaupun terlihat jelas kalau Queen sangat jengkel dengan pria itu namun sebisa mungkin ia tetap bersikap sopan semampunya.
"Pergilah." Usir Evan, dia tidak ingin meladeni istrinya pagi ini, sebab Evan yakin pada akhirnya dia yang kesal nantinya dengan semua sikap pembangkang Queen.
"Dasar aneh, dia yang bertanya! Giliran udah dijawab malah ngusir dasar orang tua." Ucap Queen, sengaja menaikkan volume suaranya agar didengar oleh Evan.
"Queen, siapa yang kamu Katai tua?" Tanya Evan. Seperti kesabaran pria itu telah habis, terlihat dari tatapannya seakan ingin menguliti Queen saat itu juga.
"Bukan siapa-siapa." Jawab Queen, wanita itu bergegas membuka pintu lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan Evan yang berulang kali menarik lalu menghembuskan nafas, untuk meredam api tak kasat mata dalam dirinya.
Setelah Queen keluar, Evan pun menuju kamar mandi untuk memulai ritual pagi nya yang sedikit terlambat karena Queen.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Aku sungguh-sungguh dengan keinginanku." Ucap Queen Setelah wanita itu menyelesaikan sarapannya, sementara sementara Evan yang mendengar itu menaikkan salah satu alisnya.
Ia tidak mengerti apa yang yang dimaksud wanita dihadapannya itu, seakan tahu raut bingung sang suami Queen pun menegaskan. " Aku tetap ingin bercerai." Ucapnya lagi. Hal itu sukses membuat Evan kehilangan selera makannya.
Evan melepaskan garpu dan pisau di tangannya, lalu menatap tajam kepada Queen.
"Kita tidak akan bercerai Queen." Tegas Evan.
"Kenapa? Apa karena kakek lagi! jika ia, pertemukan aku dengan kakek Atmaja, biar aku yang berbicara dengannya, Aku yakin kakek pasti mengerti_"
"Dan kamu ingin menjelekan aku didepan kakek begitu." Evan langsung menyela ucapan Queen.
"Jika itu yang kamu takutkan, aku berjanji tidak akan mengatakan yang tidak-tidak tentang kamu, aku janji." Evan menarik kedua sudut bibirnya keatas lalu menatap tajam pria itu.
"Lalu apa yang akan kamu katakan kepada kakek nanti?" Tanya Evan.
"Aku akan mengatakan jika selama ini kamu baik, perhatian dan segala yang baik-baik kamu lakukan untuk aku, aku janji tidak akan mengatakan hal buruk?" Jika dengan cara memberontak tidak berhasil, Queen akan mengunakan cara halus, salah satunya ini.
"Jika benar begitu? Lalu kamu akan menjawab apa saat kakek bertanya nanti. Apa alasan kamu ingin bercerai?" Tanya Evan membuat Queen terdiam. Wanita itu telah di pukul mundur oleh Evan.
Melihat Queen yang terdiam, Evan menarik salah satu sudut bibirnya, ia merasa telah menang dari Queen.
Namun hal itu hanya sesaat, sebab jawaban Queen sukses membuat Evan tersulut emosinya.
"Aku akan mengatakan kepada kakek jika aku mencintai pria lain, kalau perlu aku akan mengarang cerita, jika aku sedang hamil anak pria lain, aku yakin kakek pasti akan mendukung perceraian kita." Sungguh gila jawaban Queen, tapi itulah Queen dengan sejuta keajaibannya.
Tanpa ia tahu pria dihadapannya itu mengepalkan kedua tangannya.
BRUK.
"Akhh." Queen langsung menjerit saat Evan memukul meja. Kesabarannya sudah sampai pada batasnya.
Ia mendorong kursi yang ia duduki kebelakang dengan sedikit kasar beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Queen yang ketakutan melihat ekspresi wajah Evan yang tidak biasa.
"Kamu mau akkhhh." Evan menarik tangan Queen, lalu menyeret wanita itu meninggalkan ruang makan."Lepas, kamu mau bawah aku kemana." Berontak Queen saat ia terus ditarik menuju lantai dua.
"Aku harus ke kampus." Ucap Queen yang mulai ketakutan namun Evan tetap diam sembari terus menariknya, entah apa yang akan dilakukan pria itu padanya, Queen hanya bisa berdoa semoga hal itu bukanlah sesuatu yang buruk.