My Queen

My Queen
Tolong saya!



Setelah mengunci Queen di kamar, Evan meninggalkan rumah itu! Rasanya terlalu lelah berurusan dengan Queen, bagaimana tidak wanita itu selalu memiliki cara untuk membuatnya marah. 


"Pak Mardi, katakan kepada paman Ben, jangan ada yang membukakan pintu untuk Queen, biarkan dia merenungkan kesalahannya." Ucap pria itu, setibanya di lobby perusahaan di antar oleh pak Mardi.


"Baik tuan."  Paman Mardi langsung mengiyakan apa yang dikatakan Tuan, sementara pria itu terus melanjutkan langkahnya menuju lift, entah ia dengar atau tidak apa yang diucapkan pak Mardi barusan. " Anak-anak muda ini, entah apa yang mereka pikirkan, menikah selama ini tapi tidak saling mengenal giliran sudah kenal seperti kucing dan tikus." Gumam pria paruh baya itu, sembari menyalakan mesin mobilnya, bersiap kembali ke rumah . 


Sementara itu ditempat lain, Queen tengah berusaha keluar dari kamar Evan. Ia   menggunakan cara yang sama saat ia keluar dari kamarnya Waktu itu, apalagi jika bukan melalui balkon kamar.


Jika waktu itu ia menghabiskan selimut dan kain apa saja yang dikamarnya, maka untuk kali ini, Queen juga melakukan hal yang sama, namun ia hanya mengunakan tirai jendela saja. 


Setelah mengikatkan tirai itu pada pembatas, Queen tidak langsung meluncur kebawah, wanita itu justru memporak-porandakan kamar suaminya itu terlebih dulu untuk membalasnya. 


Cermin yang dilempar hingga retak, tempat tidur yang diacak-acak dengan isi bantal yang Sengaja di keluar dan masih banyak lagi. 


Walaupun begitu, suara gaduh yang ia ciptakan tidak sampai keluar, karena ruangan itu memiliki peredam suara. 


"Selesai," Ucapnya dengan kedua tangan saling bertepuk lalu berkacak pinggang, melihat hasil karyanya." Lumayanlah untuk shock terapi." Gumam wanita itu, kemudian berbalik dan mulai meluncur turun dari balkon kamar itu mengunakan tirai yang telah dia ikat.


Tuk.


Akhirnya Queen sampai di bawah, wanita itu langsung bersembunyi setalah melihat salah satu bodyguard mendekat kearahnya. Pria itu sempat menengok keatas seakan ingin memastikan jika Queen tidak akan mencoba turun seperti sudah-sudah. 


Fokus pria itu, melihat kearah balkon kamar, sehingga ia tidak melihat tirai yang Queen sembunyikan di balik pilar. 


"Dasar bodoh, kamu dan tuan-mu sama saja." Cibir Queen saat pria itu berbalik pergi untuk melihat sisi lainnya, ketika ia merasa aman jika Queen tidak akan kemana-mana." Cih, ingin mengurungku! Dalam mimpimu." Gumamnya lalu memutar poros tubuhnya untuk melihat situasi di belakangnya.


Begitu ia merasa aman, Queen pun berjalan dengan perlahan-lahan, agar tidak ketahuan.  Ia melewati taman bunga samping hingga sampai pada pintu samping dimana para pekerja kebun bisa lewati. 


"Siapa disana?" Tanya penjaga kebun saat mendengar suara pintu yang tertutup. Penasaran karena tidak ada yang menjawabnya, pekerja itupun mendekat. 


"Hai kamu ngapain disitu?" Mendengar Suara itu Queen hanya bisa memejamkan matanya, wanita itu pasrah jika dirinya ketahuan, ia bahkan sudah ingin menangis sekarang. 


"Maaf, tadi say_"


"Halah nggak usah banyak alasan, sana balik kerja." Queen membuka matanya melihat sekitar, ternyata bukan dirinya yang di tegur. 


"Syukurlah, tuhan saja tahu kalau kamu itu pantas untuk ditinggalkan." Ucap Queen sembari mengelus dadanya.


Wanita itu meneruskan langkahnya hingga ia keluar dari rumah itu dan berlari cepat, menjauh dari rumah suaminya.


Krek, 


Sepanjang ia berlari, Queen mencoba merobek sisi pakaiannya dititik-titik tertentu, mengacak-acak rambutnya, untuk mencari bantuan, berharap ada yang kasihan dengannya dan mau membantunya. 


Sebuah mobil pick up mendekat, Queen menghentikan laju mobil itu dengan melambaikan kedua tangannya. 


Bersyukur mobil itu mau berhenti." Pak! Tolong saya pak, saya sedang dikejar-kejar orang jahat, tolong antar-kan saya ke kantor polisi." Mohon Queen dengan air mata kepalsuan.


"Ayo neng naik, nanti bapak antar." Ucap sang supir lalu membuka pintu untuk Queen namun gadis itu menolaknya.


"Tidak pak, saya dibelakang aja. Kalau dimuka takut ketahuan." Ucapnya.


"Neng yakin?" Pria paruh bayah itu terlihat khawatir.


"Iya pak." Queen pun mencoba menyajikannya, agar ia bisa segera pergi dari sana sebelum Evan datang. Entah apa yang akan dilakukan pria itu setelah melihat kekacauan yang ia buat hari ini.