
Seharian itu Queen tidak pergi kemana usai mendapat hadiah ulang tahun dari Evan. Wanita itu terus mengurung dirinya dikamar dan memikirkan bagaimana caranya terlepas dari pernikahan ini yang hampar ini.
Queen tidak membutuhkan semua kemewahan ini dia ingin menjalani kehidupannya seperti dulu.
Dimana dia hidup dalam kekurangan tapi masih mendapatkan perhatian dan kasih sayang tidak seperti sekarang ini.
Queen merasa dia tidak mengenali dirinya yang sekarang. Karena terlalu banyak yang berubah dalam hidupnya semenjak statusnya berubah.
"Apa sebaiknya aku pulang ke rumah kakek aja?" Tanya Queen pada dirinya sendiri.
"Ya aku bisa mencari kerja dan hidup dengan tenang di sana setidaknya di sana aku tahu, aku sudah tidak memiliki siapapun." Queen terus bermonolog, merencanakan kepergian dari rumah itu.
Hingga dering panjang dari ponselnya yang berada di sampingnya, menyudahi semua pikiran-pikiran itu.
Queen mengambil ponselnya, melihat siapa yang menelponnya lalu menggeser icon berwarna hijau itu.
"Ha_"
"Anara, siap-siap sekarang satu jam lagi aku akan menjemputmu." Belum sempat ia berbicara, Nat sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Haah, apa? Kenapa, juga aku harus siapa-siapa?" Tanya Queen tak ingin menurut sahabatnya itu.
"Dengar baik-baik ya Anara sayang. Kita semua anggota Genk Phoenix itu di undang ke acara ulang tahun salah satu anak konglomerat, jadi untuk menghargai undangan mereka, Zicko menegaskan untuk kita menghadiri acara itu tanpa terkecuali." Ucap Nat panjang kali lebar membuat Queen mende-sah malas.
"Emang harus banget ya! Aku lagi nggak enak badan kayanya." Tanya Queen tak yakin.
"CK, jangan banyak alasan, pokoknya aku jemput setengah jam lagi, dandan yang cantik, pakai gaun malam terbaik yang kamu punya. Oke bye." Nat pun mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu jawaban Queen.
Memang benar-benar sahabat pemaksa, lagian apa bedanya kalau dia tidak hadir, memangnya parah orang kaya itu tahu siapa aja anggota Phoenix.
" Hadeeh, bilang saja kamu mau pergi kalau sama aku, pakai alasan anggota Phoenix segala." Ucap Queen pada ponselnya.
Wanita itupun beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju bathroom untuk membersihkan dirinya terlebih dulu sebelum karena ia belum sempat mandi sore tadi.
\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di tempat lain tepatnya di perusahaan Evan, pria itu masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
Padahal hampir semua karyawannya telah kembali ke rumah mereka masing-masing.
Saking sibuknya dengan pekerjaannya, pria itu sampai tidak sempat memeriksa file berisi kegiatan istrinya, file itu tidak hanya menunjukkan kegiatan Queen saja. Ada juga bukti penggunaan kartu kredit Queen, serta segala keperluan wanita itu.
Tok... Tok....
"Masuk." Ucap Evan memberi intrupsi kepada orang yang baru saja mengetuk pintu ruang kerjanya, untuk segera masuk. " Ada apa?" Tanya Evan lagi begitu pria itu telah berdiri didepan meja kerjanya.
"Maaf tuan, nyonya Evana berpesan agar Anda tidak terlambat, ke pesta ulang tahun putrinya, kalau anda terlambat beliau akan marah kepada anda tuan."Jawab pria yang baru masuk itu, seraya menyampaikan pesan dari kakak perempuan Evan. Evana Sahara Atmaja.
Evan sangat menyayangi sang kakak, sebab mereka hanya berdua. Evan dan Eva. Walaupun begitu, keluar Atmaja termasuk keluarga besar, karena kakek Atmaja memiliki lima orang anak, dua perempuan dan tiga laki-laki di antara cucu Atmaja, Evanlah yang paling dekat dengan kakeknya selain itu ia juga berkerja keras seperti kakeknya, sehingga ia bisa sukses dan menikmati hasil usahanya di usia muda.
Berbeda dengan sepupu-sepupunya yang hanya tahu nya minta dan berfoya-foya dengan harta sang kakek, untuk itu kakek Atmaja menyerahkan warisannya kepada Evan.
Cucunya yang lain hanya hidup dari belas kasih Evan. Lebih tepatnya Evan mendisiplinkan, dengan meminta mereka bekerja jika ingin mendapatkan uang tidak begitu saja memanjakan mereka.
"Hmmm, setengah jam lagi, kita akan ke sana." Ucap Evan." Kamu boleh pergi." Usir pria itu.
"Maaf tuan, saya hanya ingin mengingatkan anda akan file, berisi kegiatan nona Queen karena beberapa Minggu yang lalu, tepatnya pukul delapan malam Nona Queen melakukan transaksi pertama kalinya mengunakan kartu kredit yang anda berikan." Ucap sang asisten.
Pria itu tidak ingin menunda untuk memberitahu tuannya, karena semakin di tunda, maka tidurnya semakin lama semakin tidak tenang.
"Apa? Kenapa bisa." Tanya Evan sembari mengebrak meja kerjanya membuat tubuh pria itu terperanjat karena terkejut. " Bukankah sudah saya katakan jangan biarkan dia keluar rumah selain untuk ke kampus." Lanjutnya meneriaki asistennya itu.
" Maaf tuan, untuk memastikan hal itu, sebaiknya anda langsung menanyakan kepada Ben saja." Ucap sang asisten.
Mendengar ucapan asistennya, pria itu langsung mengambil ponselnya, untuk menghubungi paman Ben.
Namun belum sempat ia menghubungi paman Ben, ponselnya tiba-tiba berbunyi dan terpampang nama sang kakak pada layar ponselnya.
Evan dengan cepat menjawab panggilan itu. " Ya kak?" Tanya Evan dengan suara yang begitu lembutnya.
"Kamu dimana?" Tanya Eva dari seberang sana.
"Masih di perusahaan, setengah jam lagi aku akan ke rumah kakak." Jawab Evan.
"Tidak kamu kesini sekarang atau kamu tidak perlu datang sekalian." Tegas wanita itu dari seberang sana membuat Evan tidak punya pilihan.
"Baiklah aku kesana sekarang?" Putus Evan pada akhirnya. Dan panggilan itupun berakhir.
Setelah itu, Evan langsung mengajak asistennya pergi begitu ia selesai menyimpan data-data pekerjaannya dan mematikan laptopnya itu.
Lelaki itu menunda niatnya, untuk menghubungi Ben, ia akan menghubungi paman Ben setelah pulang dari rumah kakaknya.
\=\=\=\=\=\=\=
Dilain tempat, mobil Nat baru saja memasuki pekarangan rumah Queen dan berhenti tepat dibelakang mobil barunya Queen.
" Wow." Kata itu keluar begitu saja dari bibir saat melihat mobil dengan harga fantastis itu.
Ia pun segera turun dari mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah itu sembari berteriak memanggil nama Queen. " Ara, ANARA." Teriak Nat dengan menggebu-gebu.
"Iya ada apa Nat?" Queen turun dari lantai atas dengan penampilannya yang wow, sebuah gaun malam tanpa lengan, berwarna hitam menempel pas di tubuh Queen, hingga memperlihatkan lekukan tubuhnya yang aduhai. Dengan rambut yang sengaja ia biarkan terurai begitu saja.
"Di depan itu mobil siapa?" Tanya Nat, tak sabar.
" Hadiah ulang tahun dari orang yang mengadopsi aku." Jawab Queen.
"Berarti mobil kamu." Tanya Nat lagi memastikan, namun Queen hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya.
" Aku anggap itu sebagai jawaban iya." Ucap Nat.
" Terserah kamu, kita pergi sekarang." Ajak Queen namun nahan tangan Queen." Apa?" Tanya Queen lagi.
" Kita pergi pakai mobil itu, please Queen mau ya! Aku ingin merasakan sensasi menaiki Buggati. Please." Mohon Nat.
" Nat kita akan menjemput Chika kalau kamu lupa! Entar Chika nya mau duduk dimana?" Tanya Queen tak habis pikir dengan keinginan sahabatnya itu.
" Gampang nanti aku akan menghubungi Tommy untuk menjemputnya. " Sahut Nat, membuat Queen merotasi-kan kedua matanya malas.
Walaupun begitu ia tetap menurutinya keinginan Nat, sahabatnya itu dan keduanya pun menuju pesta ulang tahun itu mengunakan mobil Buggati Queen.