My Queen

My Queen
Games.



Semenjak tertangkap polisi waktu itu dibebaskan oleh orang suruhan papinya Zicko.


Queen dan yang lainnya semakin berani, membuat masalah bahkan tidak hanya di arena balap liar di kampus pun mereka membuat ulah.


Queen yang dikenal sebagai gadis baik dan berprestasi itu sudah tidak ada lagi kini hanya tersisa Queen yang bar-bar dan tidak segan untuk meladeni mereka yang ingin mencari masalah dengannya, termasuk mereka yang suka nyinyir atau membicarakan mereka di belakang.


Entah dia laki-laki atau perempuan, Queen tidak memperdulikan hal itu. Hingga terlahir-lah sih Queen dengan julukan baru, ratu bar-bar.


Bahkan julukan itu sampai terdengar di telinga rektor mereka. Sang rektor yang tahu betul status Queen dan asal usul Queen tentu saja menyayangkan hal ini mengingat Queen adalah istri dari sahabatnya.


Sebab rektor, kakaknya Nat dan Indra adalah sahabat baik Evan dan hal itu diketahui oleh adik-adik mereka tapi mereka tidak tahu jika Queen memiliki hubungan dengan Evan, hanya kakak mereka saja yang tahu.


"Kapan kamu akan menemuinya Van? Kamu tahu, masalah yang menyerat nama dia itu, hampir terdengar setiap hari di kampus!" Evan mengerutkan keningnya bingung.


Evan sungguh sangat sibuk saat ini dan lelaki di hadapannya itu tiba-tiba datang lalu mengatakan sesuatu yang tidak penting seperti ini. " Siapa yang kamu maksud Roy?" Tanya Evan tanpa menatap lawan bicaranya, pria itu terus sibuk dengan tumpukan pekerjaannya.


"Queen." Evan langsung menghentikan pekerjaannya dan melihat keseriusan pada wajah sahabatnya itu.


" Queen." Evan menyebut ulang nama istrinya, untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


"Ya, Queen_nya kamu itu terus saja membuat masalah di kampus?" Jawab Roy sembari menekan kata Queen_nya kamu.


"Jangan menipuku Roy! Ben selalu melaporkan semua kegiatannya dan itu masih sama." Sahut Evan , sembari memandang tak suka kepada sahabatnya itu. " Aku tahu kamu ingin aku menemuinya, tapi jangan mengatakan kebohongan seperti itu. Kamu cukup memastikan istriku, mendapat pendidikan terbaik di kampus_mu dan diperlakukan dengan baik disana. Karena aku yakin paman Ben tidak akan membohongi aku." Roy terdiam.


Pria itu antara ingin tertawa Atau kasihan dengan Evan, karena dia berhasil di bohongi oleh orang-orang kepercayaannya, entah apa hebatnya gadis itu sampai orang-orang kepercayaannya kakek Atmaja berpaling mengikutinya ketimbang cucu kesayangan kakek Atmaja itu. Sungguh miris sekali.


"Kenapa?" Tanya Evan, begitu melihat sahabatnya itu terdiam sambil senyum-senyum sendiri.


" Haah? Nggak papa! Aku hanya ingin memanggilnya keruanganku untuk memastikan berita yang aku dengar tentangnya itu salah! Apa boleh?" Tanya Roy, meminta izin.


Roy bukan ingin memastikan berita yang beredar di kampus nya tentang sih ratu bar-bar itu, karena ia pasti berita itu benar adanya. Roy hanya ingin melihat wajah Queen, dia tahu nama wanita itu, statusnya tapi sama seperti Evan, dia tidak tahu wajah Queen seperti apa. Karena Evan tidak mengizinkannya! Dia cuma diminta untuk memastikan Gadis bernama Queen Anara Ardely itu mendapat pendidikan terbaik serta kenyamanan selama dia berkuliah di sana.


"Terserah kamu!" Jawab Evan. " Kamu boleh pergi, aku sedang sibuk." Usir Evan.


"Oke aku pergi, tapi jangan lupa nanti malam di tempat biasa." Roy mengingatkan sahabatnya itu.


" Hmmm." Hanya itu jawab yang keluar dari bibir Evan.


\=\=\=\=\=\=\=


Esok malamnya, disalah sebuah club malam Anara dan Genk Phoenix sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahun Gadis itu.


Ya hari ini Anara genap 22 tahun. Untuk merayakan ulang tahun gadis itu Nat dan yang lainnya request untuk bersenang-senang di club dan mereka memilih salah satu ruang VVIP di club itu untuk bersenang-senang.


Dan disinilah mereka berkumpul saat ini. "Ara, tadi katanya kamu di panggil rektor ya?" Tanya Salah satu anggota Phoenix.


"Hmm," jawab Queen tanpa ingin menjelaskan apapun.


"Si rektor ngomong apa emang?" Tanya Indra tidak ada sapon-sopannya.


"Nggak penting juga. Jangan bahas yang tadi nggak mood aku, mending kita buat sesuatu yang dapat mengusir rasa bosan kita." Sahut Queen dan mereka pun tidak ada yang bertanya lagi tentang Queen yang di panggil rektor itu.


"Gimana kalau kita turun ke lantai dansa." Tawar Tommy.


" Nggak ah, malas! Brisik di bawah." Sahut Queen membuat semua orang menatapnya jengah.


"Eehh pea! Lo kalau mau suasana Hening itu nggak disini. Sono di kuburan." Ucap Indra sembari menoyor kepala Queen.


"Gue tabok lu ya." Queen beranjak dari duduknya, ingin menghajar sahabatnya itu tapi langsung di cegah oleh Nat.


"Ara, udah mending kita games aja! Biar nggak bosan." Usul Chika.


Semua orang yang ada di ruangan itu, langsung menatap kepada Chika. " Games apa?" Tanya Zicko, yang sejak tadi diam.


" Truth or dare." Jawab Chika.


"Nggak ah, bosan main kaya gitu! Nggak seru." Sahut salah satu anggota Phoenix yang tidak begitu menyukai permainan itu.


"Ini sedikit berbeda, kalian dengar dulu." Ujar Chika.


"Bedanya dimana? Coba jelaskan." Tanya salah satu Anggota Phoenix lainnya.


"Kalian sudah tahu seperti apa gemes ini, tapi untuk kali ini kalian tidak akan diizinkan untuk memilih, truth or dare. Karena jika ujung botol ini berhenti di siapa, dia harus memilih truth dan orang yang mendapat belakang botol itu yang bagian bertanya setelah itu botol akan di putar lagi, orang yang mendapat ujung botol selanjutnya, harus memiliki dare dan orang yang mendapat belakangnya bebas memberi tantangan apa saja. Jika menolak atau tidak ingin menjawab kalian harus di hukum dengan menghabiskan 1 sloki Vodka. Gimana?" Ucap Chika panjang kali lebar. " Dan satu lagi nggak boleh protes serta menolak dengan tantangan atau pertanyaan yang diberikan! Dan siapa pun diantara kita yang sudah mendapatkan truth or dare tidak akan ikut bermain lagi, sampai kita semua mendapat giliran." Lanjutnya.


" Oke, siap takut." Mereka yang ada di ruangan itu langsung langsung setuju dengan permainan Chika dan botol pun mulai di putar oleh gadis itu, begitu mereka telah duduk melingkar meja dengan sebuah botol di atasnya.


Putaran pertama botol berhenti di depan salah satu anggota Phoenix dan Nat yang kebagian bertanya. Pertanyaan Nat sungguh menjurus kearah privasi membuat orang yang mendapat truth itu lebih memilih menghabiskan satu sloki Vodka ketimbang menjawab, kemudian ia pun mundur dan menjadi penonton saja.


Putaran kedua Ema yang mendapatkan giliran dare dan Zicko ya bertanya. Zicko meminta Ema untuk keluar rumah dan meminta apa saja yang di gunakan pengunjung yang ia dapati di dapati di luar.


" Si-alan Lo." Umpat Ema kepada Zicko sembari meletakkan sebuah jam tangan mahal di depan teman-temannya itu.


Hingga mengundang tawa dari mereka yang memainkan game itu.