My Queen

My Queen
Tidak mungkin!



Malam semakin larut, namun gadis bermanik biru itu belum juga beranjak dari tempat duduknya.


Menatap gelapnya langit malam dari balkon dengan air mata yang terus menetes dari kedua sudut matanya.


Kejadian beberapa jam yang lalu, mengajarkan dia, bahwa tidak ada yang bisa ia percaya selain dirinya sendiri, tidak ada yang bisa ia harapkan selain dirinya.


Sakit hati dan kecewa, tentu saja Queen rasakan itu, mereka yang dia anggap sahabat dan teman justru hanya melihat tanpa ada yang membantu.


Setidak berharga itukah dirinya, hingga dipermalukan, mereka hanya melihat tanpa ada yang berusaha mengulurkan tangannya untuk membantu.


" Ya Tuhan, aku lelah, aku capek, hati aku sakit diperlukan seperti ini, walaupun aku tahu semua ini sudah ketetapan dari engkau Tuhan." Ucap Queen sembari mendongak wajahnya keatas. " Kuatkan aku." Lanjutnya memeluk tubuhnya sendiri.


Wanita itu bersandar pada pembatas balkon itu sembari meletakkan kepalanya di sana, hingga suara ketukan pintu kamarnya, membuat Queen mau tak mau beranjak dari tempat duduknya sembari mengusap kasar kedua pipinya.


Queen berjalan menuju pintu kamarnya, membuka pintu sedikit pintu kamar dan di sana sudah ada bi Yati yang terlihat gugup dan ketakutan.


"Ada apa Bi?" Tanya Queen.


"Maaf non! Non Queen diminta untuk turun." Jawabnya.


" Yang memintaku untuk turun! Paman Ben? Katakan kepadanya aku tidak ingin di ganggu." Sahut Queen, mencoba untuk menutup pintu itu kembali namun di tahan oleh BI Yati.


"Bukan non, bukan paman yang minta! Tapi tuan ada dibawah. Tuan ingin nona turun sekarang karena ia menunggu nona sekarang." Jawab Bi Yati.


"Bibi nggak lagi ngarangkan?" Tanya Queen tidak percaya. Bukannya pria itu tidak pernah ingin bertemu dengannya, bahkan Queen Masih ingat bagaimana mana pria itu menolak Queen saat wanita itu ingin mencium punggung tangannya dan dia langsung pergi tanpa Queen sempat melihat seperti apa wajah suaminya itu.


Dan setelah lima tahun akhirnya dia datang dengan Alasan apa! Rasanya Queen ingin menertawakan hidupnya yang harus berputar diantara orang-orang kaya ini.


"Bi, katakan kepada sih tuan itu kalau saya tidak ingin bertemu dengannya." Ucap Queen, mencoba menutup pintu kamarnya kembali namun sekali lagi di tahan oleh BI Yati.


Dan wanita paruh bayah itu tidak berbohong, mereka akan di pecat oleh Evan karena telah ketahuan membohonginya.


Karena beberapa yang lalu setelah Queen meninggalkan pesta ulang tahun Sherly. Acara itu sempat kembali di lanjutkan hingga selesai dan setelah itu sang asisten memberitahu Evan tentang mobil Queen.


Iya juga memberitu jika Queen tadi sempat ada disini dan wanita itu sudah pulang dengan keadaan basah kuyup. Penjelasan itu bagaikan sebuah tamparan untuk dirinya sendiri.


Karena yang meninggalkan pesta itu dalam keadaan basah kuyup, hanya satu orang, dialah gadis yang beberapa kali membuat masalah dengannya.


Mengetahui hal itu, Evan merasa seakan telah di bohongi oleh orang-orang kepercayaannya. Bagaimana tidak mereka membiarkan Queen keluar padahal dia sudah dilarang keluar kecuali untuk kuliah.


Dan yang lebih membuat Evan khawatir kabar ini akan sampai ke telinga kakeknya. Sebab Evan sudah berjanji akan memperlakukan Queen dengan sangat baik dan akan memenuhi semua kebutuhan serta keinginan wanita itu.


Namun karena kecerobohan anak buahnya ia justru membuat kesalahan. Dan tanpa pikir panjang Evan langsung datang ke rumah dimana ia mengurung Queen. Wanita yang dia istimewakan karena permintaan sang kakek bukan karena keinginannya sendiri.


"Non_" Panggil Bi Yati, karena Queen hanya Diam saja.


"Baiklah." Pada akhirnya Queen ikut turun bersama, bi Yati.


Saat menuruni satu persatu anak tangga , Queen dapat melihat seorang pria tengah duduk dengan dengan kedua kaki yang disilangkan sementara, paman Ben, pak Mardi dan pelayanan serta security ya selama ini menjaganya kini sedang berlutut dihadapan pria itu memohon pengampunan.


"Aku yang ingin bebas dan ini tidak ada hubungannya dengan mereka." Ucap Queen dengan beraninya tanpa perlu melihat seperti apa wajah pria itu karena Queen tidak suka seseorang orang memanfaatkan kekuasaannya untuk menekan orang-orang lemah seperti mereka." Lepaskan mereka jika ada yang ingin kamu hukum, itu aku bukan mereka."lanjutnya tanpa takut, begitu ia berdiri disamping pria itu.


Tanpa Queen tahu, jika saat ini Evan sedang tersenyum mengejek dirinya, bagaimana tidak, setelah lima tahun tak bertemu gadis itu tubuh menjadi pemberani.


"Kamu ingin menyelamatkan mereka, lalu siapa yang akan menyelamatkan kamu?" Tanya Evan pria itu beranjak dari tempat duduknya. Lalu berhadapan dengan Queen membuat gadis itu terkejut dan hampir saja terjatuh saat mengetahui siapa suaminya.


"Tidak, ini tidak mungkin." Ucap Queen tidak percaya dengan apa yang dia lihat atau lebih tepatnya ia tidak percaya jika pria ini adalah suaminya. 'kenapa harus dia sih.' gumam Queen.