
" Apa katanya tadi, wanita mura-han! Aku berdoa semoga tuhan membuatmu tunduk di bawah kaki wanita mura-han ini, pria breng-sek." Ucap Queen dengan berteriak, berharap pria itu dapat mendengar doanya, walaupun itu sangat tidak mungkin karena pria itu sudah lebih dulu menghilang di balik pintu ruang VVIP yang bersebelahan dengan ruang yang mereka sewa.
Setelah pria itu pergi teman-teman Queen yang sejak tadi mengintip dari balik pintu langsung berhamburan menghampiri Queen.
Karena sejak tadi mereka melihat apa yang di lakukan Evan pada Queen bahkan mereka juga mendengar doa Queen barusan.
Walaupun mereka merupakan Anggota Genk yang begitu terkenal dalam bertarung juga ratu dan raja jalanan. Namun jika harus berurusan dengan tuan Sagara. Mereka masih berpikir ribuan kali, pria itu terkenal dingin dan tidak pandang bulu saat berurusan dengan hama-hama kecil seperti mereka.
Namun lain halnya dengan Queen wanita itu tidak bisa disentuh. Jangan tanya berapa sudah berapa kali Evan menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Queen sang asisten justru melarang mereka.
Bagaimana tidak, menyentuh wanita itu sama saja dengan menyerahkan nyawa mereka kepada Evan.
Karena sang asisten, paman Ben dan Pak Mardi cukup tahu, seberapa berartinya wanita itu untuk tuan mereka.
Queen adalah wanita pilihan kakeknya. Sudah pasti wanita itu harus dijaga dan diperlakukan dengan baik. Karena sang kakek tidak dapat mengunjungi Queen lagi untuk melihat Keadaannya. Selain karena Evan yang melarangnya, juga karena kondisi kesehatan sang kakek yang kadang-kadang suka menurun kalau lelah.
"Ara, Kamu baik-baik saja?" Tanya Indra.
" Apa aku terlihat baik-baik saja." Sahut Queen dengan mode judesnya.
Wanita itu masih sangat kesal dengan pria yang telah memberi luka di bibirnya itu.
" Ara, bibir kamu," tunjuk Tommy." Sini biar aku obati." Lanjutnya ingin membawa Queen untuk mengobatinya, biasalah calon dokter.
"Nggak usah aku bisa obati sendiri. Aku balik." Tolak Queen sembari berpamitan untuk pulang.
" Queen kok balik sih." Seru Nat ingin mencegah wanita itu namun. Zicko dan yang lainnya justru mencegahnya.
"Biarkan saja dulu dia sendiri." Ucap Mereka.
Namun Nat tidak mendengar ucapan Zicko wanita itu lebih memilih untuk mengikuti Queen pulang begitupun dengan Chika.
"Ngapain kalian berdua ikuti aku, aku baik-baik saja, jika itu yang kalian takutkan." Ucap Queen meyakinkan kedua sahabatnya.
"Kita tahu, kamu pasti baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja selama bersama kita. Jadi kemanapun kamu pergi, kita juga harus ikut! Benar nggak chi." Sahut Nat sembari meminta dukungan Chika.
" Iya dong, Ara-kan sahabat kita. Jadi kemanapun kita harus selalu bertiga." Ujar Chika, mengiyakan apa yang baru saja dikatakan Nat, sekaligus mempertegas persahabatan mereka.
"Terserah kalian deh!" Sahut Queen. Membiarkan kedua sahabatnya melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
"Yeah, berarti malam ini kita akan menginap di rumah kamu." Ucap Chika penuh semangat membuat Queen membulatkan kedua matanya tidak percaya.
Kapan dia mengatakan kalau mereka boleh datang ke rumahnya."Kapan aku ngomong kalau kalian boleh da_"
"Ya sudah kita pergi sekarang aja." Nat sengaja memotong ucapan sahabatnya itu, karena tidak ingin mendengar penolakan Queen.
"Huufftt." Queen menghembuskan nafasnya kasar sembari mengelus dadanya.
Sementara ke-dua gadis itu hanya tertawa, mereka yakin. Kali ini Queen tidak akan menolak dan benar saja. Malam itu keduanya menginap di kamar Queen untuk pertama kalinya.
Waktu berlalu bagaikan berlari, tidak terasa satu Minggu telah berlalu setelah kejadian di club malam itu. Bibir Queen pun kini telah sembuh.
Namun dua hari ini ia tidak kemana-mana selain karena dia malas keluar, Queen juga tengah libur semester.
Wanita itu duduk di tepi jendela, melihat pandangan diluar sana dari balik jendela kamar. Pikiran wanita itu terus berkelana entah kemana. Namun satu yang sangat menganjal dipikirkan saat ini. Adalah hubungan pernikahan yang layak atau tidak di sebut pernikahan.
Bagaimana tidak, lima tahun menikah tapi suaminya tidak pernah menyentuhnya jangankan menyentuh, seperti apa wajah suaminya saja dia tak tahu, bahkan nama pun dia tidak tahu siapa. Ingin melihat buku nikah mereka, sayang buku itu disimpan kakek dari suaminya itu.
Tok....tok...
Hingga ketukan di pintu kamarnya menyandarkan Queen dari lamunannya itu.
" Masuk." Ucap Queen mempersilahkan orang yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk, karena dia masih enggan untuk berdiri dari tempat duduknya.
Ceklek..
Pintu kamar itu terbuka, paman Ben yang merupakan orang yang baru saja mengetuk pintu itu menghampiri Queen.
"Maaf Nona, saya hanya ingin memberitahu jika tuan baru saja mengirim anda hadiah." Ucap paman Ben sembari memberikan Queen kotak hadiah kecil berwarna hitam untuk Queen.
"Apa ini?" Tanya Queen. Menerima hadiah itu dari tangan paman Ben.
Begitu dibuka mata Queen sedikit membulat saat melihat isinya. Sebuah kunci mobil bertahta berlian dan emas putih yang didesain untuk mobil Bugatti Chiron yang di beli untuk hadiah ulang tahun Queen, bahkan pada kunci mobil itu Evan sengaja meminta nama Queen diukir disana.
Jangan tanya berapa harga kunci mobil itu karena untuk sebuah kunci saja Evan harus membayar hampir 8 miliar belum termasuk mobilnya.
Gila memang tapi begitu cara Evan memanjakan istrinya." Untuk mu my Queen." Note yang di tulis Evan.
"Ck, jika aku benar seorang ratu untukmu, kamu tidak akan mengurung aku dalam sangkar emas, sialan."Umpat wanita itu, sembari meremas kertas ditangannya, tidak peduli paman Ben dapat mendengar hal itu.
Sebab hadiah yang diberikan Evan tidak membuat Queen terharu sedikitpun, ia justru Semakin kesal kepada pria tak kasat mata itu.
"Non, mobilnya sudah ada dibawah?" Ucap paman Ben memberitahu.
Membuat Queen yang tadinya malas langsung beranjak dari tempat duduknya, melangkah keluar kamar itu tanpa menyahuti ucapan paman Ben.
Setibanya Queen di depan pintu rumahnya wanita itu dapat melihat mobil yang terpasang pita didepan. Sebuah mobil dengan desain interior berwarna coklat didalamnya.
"Tuan berharap semoga anda menyukai Hadiah yang dia berikan dan beliau minta maaf karena belum bisa menemui anda lagi nona, mengingat beliau baru kembali dari Dubai dan harus mengurus pekerjaannya yang tertunda." Ucap paman Ben sesuai yang di sampaikan asisten Evan.
Dan itu bukanlah sebuah kebohongan, karena Evan sengaja pergi ke Dubai demi mendapatkan mobil itu untuk sang ratu.
"Katakan kepada tuan-mu itu, aku tidak menyukai Hadiah yang dia berikan, aku akan menyukai Hadiah itu, jika yang dia berikan adalah Akta cerai." Sahut Queen, kemudian berbalik dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Meninggalkan paman Ben, yang hanya bisa mengelus dadanya tanpa tahu harus melakukan apa. " Paman yakin kalian akan saling menginginkan satu sama lain, jika kalian bertemu nanti! Paman hanya bisa berdoa semoga tuan segera selesai dengan pekerjaannya agar kalian cepat bertemu." Ucap paman Ben sembari menatap punggung yang perlahan menjauh dari pandangannya.