My Queen

My Queen
Berubah pikiran.



Pagi itu Zicko sengaja datang ke kampus Queen untuk menemui gadis itu, Ia merasa bersalah karena setelah kejadian hari itu, Queen tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya didepan mereka.


Hal itu membuat anak-anak Phoenix yang lain merasa bersalah, ada dari mereka yang mencoba menghubungi Queen namun tidak pernah terhubung dengan Queen, entah apa yang terjadi dengannya.


Walaupun Nat sering mengatakan jika Queen baik-baik saja dan ia juga sudah memaafkan mereka, tapi tetap saja kecemasan itu ada, itulah mengapa dia berada disini, minimal dia bisa melihat dengan matanya sendiri jika Queen baik-baik saja.


" Bang Zicko." Panggil Chika saat mendapati Zicko yang tengah duduk diatas motornya, masih diarea parkiran." Ngapain di sini?" Tanya Chika, begitu ia berada disamping Zicko.


"Mau ketemu Anara! Kalian satu kampus kan?" Sahut Zicko sembari bertanya, pria itu turun dari motornya.


"Iya bang, tapi dia di fakultas ekonomi, sekelas sama Nat, mending bang langsung hubungi Nat aja." Jawab Chika menyarankan.


"Kan aku udah ketemu kamu disini, kenapa nggak sekalian kamu yang anterin aja aku kesana." Pinta Zicko, namun Chika dengan cepat mengeleng kepalanya.


Bukan karena dia tidak mau, Chika sih mau-mau saja, terlebih dia sudah sangat merindukan Queen, namun pagi ini dia memiliki kelas ini aja dia sudah terlambat tiga menit.


"Ya sayang sekali bang, aku nggak bisa! Soal aku udah telat masuk kelas." Jelasnya sembari melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.


Zicko yang mengerti pun tidak ingin memaksa, toh dia bisa menghubungi Nat. " Ya sudah kamu masuk kelas gih, nanti aku hubungi Nat, buat tanya keberadaan Anara."


"Bang sorry ya! Aku duluan." Zicko mengangguk Setelah itu, Chika pun meninggalkannya, wanita itu segera bergegas lari menuju kelasnya.


...\=\=\=\=\=\=\=...


BRUK.


Evan membuka pintu kamarnya dengan kasar, lalu menghempaskan tubuh Queen ke atas ranjang.


Pria itu mencengkram rahang Queen menatapnya tajam, mencoba untuk mengintimidasi Queen sama halnya seperti ia mengintimidasi lawan-lawannya.


Sayangnya Evan lupa, jika sosok yang berada di bawah Kungkungan dia saat ini bukanlah musuhnya, melainkan istri! Sosok yang harus ia berikan perlakuan istimewa.


"Ulangi jawaban kamu." Ujar Evan penuh penekanan. "Katakan." Desaknya tak sabar, jangan lupa tatapan mata Evan yang tajam.


"Aku akan mengatakan kepada kakek jika aku mencintai pria lain, kalau perlu aku akan mengarang cerita, jika aku sedang hamil anak pria itu." Sahut Queen walaupun sedikit kesusahan, karena Evan tidak melepaskan cengkeramannya.


Mendengar ucapan Queen membuat Evan tertawa. " Jadi ini alasan kamu memberontak?" Tanya Evan membuat Queen mengerutkan keningnya.


"Apa maksud kamu?" Bukannya menjawab Queen justru balik bertanya, yang mana membuat Evan semakin keras tawanya dan hal ini membuat Queen meradang dengan tingkah aneh pria itu.


Evan menghentikan tawanya sembari menghempaskan wajah Queen, awalnya dia ingin memberi Queen hukuman dengan meniduri wanita itu, tapi Evan sadar hal itu hanya akan membuat Queen semakin memberontak kepadanya, belum lagi sang kakek sampai tahu apa yang dia lakukan, pasti kakeknya akan sang kecewa, jalan satu-satunya ia akan memainkan trik dengan gadis itu, toh ia pintar dan terkenal cerdik selama ini, hanya didepan Queen semua itu hilang.


"Jangan berpura-pura bodoh! Aku tahu apa yang dipikirkan otak kecil kamu ini." Ucap Evan sembari menyentil dahi Queen.


"Memang apa di otak aku?" Queen terus bertanya karena dia tidak kunjung mengerti apa yang diucapkan Evan.


Tak ingin membuang-buang waktu, Evan kembali menunduk lalu membisikkan sesuatu di telinga Queen, hingga membuat wanita itu melotot tak percaya dengan mulut yang sedikit terbuka." Harusnya kamu bersyukur, selama lima tahun ini aku tidak menuntut kamu melakukan kewajiban kamu dan memfasilitasi hidup kamu dengan berkecukupan, apa susahnya menuruti semua permintaan aku dan kamu harus tahu semua yang aku berikan itu sangat berharga kamu tidak akan bisa membayarnya jika kita sampai bercerai, Camkan itu."


Setelah mengatakan itu Evan kembali menegakkan tubuhnya, merapikan penampilannya lalu meninggalkan Queen tak lupa mengunci gadis itu didalam kamarnya, sengaja agar Queen merenungkan kata-katanya barusan dan ia berharap wanita itu berubah pikiran.


Tak membicarakan perceraian lagi, untuk kebaikan mereka bersama, kebutuhan wanita itu terpenuhi dan ia tidak akan mengingkari janjinya kepada sang kakek untuk menjaga Queen.