My Queen

My Queen
Anak kucing



Evan berulangkali menarik dan menghembuskan nafasnya sembari memijit pelipisnya untuk meredakan sakit kepalanya.


Selama ini dia tidak pernah dibuat sesakit kepala ini tapi wanita dihadapannya ini mampu membuatnya merasakan yang namanya sakit kepala, mungkin sebentar lagi ia akan menderita komplikasi, tinggal tunggu waktu saja.


Bagaimana tidak disaat dia tengah mengamuk diluar sana, wanita ini justru tengah tertidur padahal dia yang sudah membuat Evan kehabisan kesabarannya.


Selama ini tidak ada yang berani mengusik pikiran, membuatnya marah dan menguji kesabarannya. Cuma Queen Anara Ardely yang berani melakukan itu dan si-alannya wanita itu adalah istrinya sendiri.


Evan menatap pintu kamar mandi dan pintu kamar yang sudah terlepas dari engselnya lalu menatap kepada Queen yang masih terlelap dan tidak terusik dengan keributan yang ia ciptakan beberapa saat yang lalu.


'Dia gadis yang baik dan penurut kamu akan menyukainya Van.' Itu yang dikatakan kakeknya.


Yang Evan tanyakan dimana letak baiknya. Apa kakeknya sudah salah menilai atau gadis ini yang terlalu pintar menyembunyikan taringnya.


Semua pertanyaan itu terlintas di kepalanya tanpa ia menemukan jawaban yang pasti.


"Tuan." Panggil Paman Ben, lelaki paruh baya itu terlihat gugup.


"Hmm," jawab Evan tanpa melihat kearah paman Ben.


"Perlu saya bangunkan nona Queen-nya?" Tanya paman Ben meminta persetujuan Evan, karena sejak tadi pria itu hanya berdiri diam ditempatnya sembari menatap kearah Queen dengan rahang yang mengeras, wajahnya merah terlihat sekali pria itu ingin menguliti Queen.


"Tidak perlu, biar saya urus dia, kamu cari orang dan perbaiki kekacauan ini, saya mau besok siang semua sudah kembali seperti semula." Titahnya membuat paman Ben membeo ditempat.


'Besok? apa tuanya ini sinting.' tanya paman Ben dalam hatinya, mana berani dia bertanya langsung kepada Evan.


Begitu paman Ben pergi, Evan langsung membungkuk mengangkat Queen dari dalam bathtub lalu memindahkan wanita itu ke kamarnya, ia tidak mungkin membiarkan Queen tidur disana sementara para mereka akan memperbaiki kamar itu.


Evan membaringkan Queen di atas ranjang king size miliknya lalu menyelimuti tubuh Queen, Setelah itu ia berbalik meninggalkan wanitanya.


Malam itu Evan meninggalkan Queen terlelap dikamarnya, sementara ia pergi ke club untuk berkumpul bersama sahabat-sahabatnya sekaligus untuk menenangkan pikirannya.


Dan disinilah dia saat ini, diclub yang pernah didatangi Queen bersama teman-temannya.


Evan melangkah masuk kedalam salah satu ruangan VVIP yang ada di club ini." Eh, datang juga! Kirain nggak jadi." Ucap salah sahabat Evan yang bernama Jefri.


"Tau nih! Kenapa tuh muka khusut amat! Nggak dikasih izin ratu jajan diluar lagi?" Erick sahabat Evan yang lain pun ikut menyela ucapan Jefri.


Walaupun pernikahan Evan dan Queen dilakukan di rumah sakit secara tertutup tapi pria itu tidak menyembunyikan statusnya dari keluarga maupun sahabat-sahabatnya. Mereka tahu Evan sudah menikah dan istrinya bernama Queen tapi tidak tahu rupanya seperti apa dan hanya Evan, orang-orang tertentu serta Tuhanlah yang tahu seperti apa wajah Queen itu.


"Cih, apaan!"


Bruk.


Evan langsung menendang kaki Erick membuat pria itu terkekeh.


Sementara David hanya diam sembari tersenyum, David merupakan rektor di kampus Queen dan dia tahu seperti apa Queen.


"Kenapa? Berulah lagi dia?" Tebak David tempat sasaran karena Evan mengiyakan dengan menganggukkan. Membuat David terkekeh." Lagian salah sendiri, masih jadi anak kucing nggak ditemani, giliran udah jadi kucing anggora baru ditemui yang jangan salahin dia kalau dicakar ." Lanjut sedikit mengejek.